Presiden Joko Widodo menandatangani baja produk terbaru saat meresmikan pabrik Hot Strip Mill 2 PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Kota Cilegon, Banten, Selasa (21/9/2021). Pabrik ini memiliki kapasitas produksi hot rolled coil (HRC) sebesar 1,5 juta ton | ANTARA FOTO/Biro Pers Media Setpres/Agus Supa
22 Sep 2021, 03:50 WIB

Punya Pabrik Canggih, RI Tekan Impor Baja

Pabrik canggih ini menggunakan teknologi modern dan terbaru di industri baja yang hanya ada dua di dunia.

JAKARTA -- Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik Hot Strip Mill 2 PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Kota Cilegon, Banten, Selasa (21/9). Jokowi menyebut, pabrik ini menggunakan teknologi modern dan terbaru di industri baja yang hanya ada dua di dunia, yakni di Amerika Serikat dan Indonesia.

Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi hot rolled coil (HRC) atau baja lembaran panas sebesar 1,5 juta ton per tahun dan merupakan pabrik pertama di Indonesia yang mampu menghasilkan HRC kualitas premium. Jokowi menyebut, produksi dari pabrik ini akan terus ditingkatkan hingga mencapai 4 juta ton per tahun sehingga dapat memenuhi kebutuhan baja dalam negeri dan menekan angka impor.

“Jadi, tidak ada lagi impor-impor yang kita lakukan," kata Jokowi dalam acara peresmian. 

Presiden mengungkapkan, baja merupakan komoditas impor kedua terbesar Indonesia. Oleh karena itu, keberadaan pabrik baru Krakatau Steel diharapkan bisa menihilkan impor baja sehingga Indonesia bisa menghemat devisa Rp 29 triliun per tahun. "Angka Rp 29 triliun ini angka yang sangat besar," ujar Jokowi. 

Terkait

Jokowi mengaku akan memberikan perhatian besar terhadap industri baja. Apalagi, produksi baja sangat dibutuhkan dan dimanfaatkan oleh industri-industri lainnya.

Konsumsi baja di dalam negeri yang sangat besar harus dimanfaatkan untuk peningkatan produksi baja. Produksi baja tak hanya diperuntukkan  bagi pembangunan infrastruktur, tetapi juga pembangunan industri lainnya yang membutuhkan baja, khususnya industri otomotif.

“Kalau kita tahu konsumsi baja kita sangat besar, jangan dibiarkan ini dimasuki produk-produk dari luar dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,” kata dia.

Dalam lima tahun terakhir, kata Jokowi, kebutuhan baja di Indonesia semakin meningkat hingga 40 persen karena dipacu oleh pembangunan infrastruktur. Presiden pun berpesan agar kualitas produk yang dihasilkan di pabrik baja PT Krakatau Steel ini tak kalah dengan kualitas produk impor. Hal lainnya mesti mampu memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri.

Ia optimistis produksi baja di Indonesia ini akan menjadi komoditas yang mampu bersaing di kawasan regional ataupun global. Karena itu, Presiden meminta jajarannya agar terus mendukung para pelaku industri baja dan besi serta perusahaan BUMN agar menjadi profesional dan menguntungkan sehingga mampu mewujudkan klaster baja sebesar 10 juta ton di Cilegon pada 2025.

Menteri BUMN Erick Thohir yang mendampingi Presiden dalam peresmian pabrik baru Krakatau Steel mengatakan, performa PT Krakatau Steel (KS) sudah membaik. KS bahkan mampu mendapatkan untung. 

"PT Krakatau Steel yang performanya rugi selama delapan tahun terakhir, sekarang sudah untung Rp 800 miliar," kata Erick di hadapan Presiden Jokowi dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Erick Thohir (erickthohir)

Erick mengatakan, keberhasilan PT KS tersebut tidak terlepas dari upaya transformasi dan restrukturisasi BUMN, termasuk terhadap PT Krakatau Steel. Hal tersebut dilakukan sesuai arahan Presiden Jokowi untuk memperbaiki kinerja BUMN.

Erick menjelaskan, ada tiga tahapan restrukturisasi yang harus dilakukan oleh PT Krakatau Steel. Tahap satu dan tahap dua sudah dijalankan dengan baik. "Namun, saya minta pihak manajemen PT KS jangan berpuas diri karena ini penting bagaimana agar terus berupaya meningkatkan performa Krakatau Steel ini," ujar Erick.  

Erick dalam kesempatan tersebut tak lupa mengapresiasi keberhasilan manajemen PT KS yang selama ini bekerja keras memperbaiki kinerja sehingga mampu meraih laba. Menurut Erick, hal serupa juga dilakukan oleh perusahaan BUMN lainnya demi meningkatkan kontribusi bagi negara. 

Menurut Erick, BUMN pada 2020 memberikan kontribusi bagi negara sebesar Rp 375 triliun dari pajak, dividen, hingga penerimaan negara bukan pajak (PNBP). "Secara bertahap akan terus kita tingkatkan," kata Erick. 

Pabrik Hot Strip Mill 2 Krakatau Steel sebelumnya telah melakukan produksi perdana HRC pada 17 Mei 2021. Pabrik yang menelan investasi senilai 521 juta dolar AS atau setara Rp 7,5 triliun itu merupakan pabrik baja berteknologi canggih yang mulai dibangun pada 2016.

Salah satu jenis produk yang menjadi keistimewaan pabrik baru ini adalah HRC untuk kebutuhan otomotif. Pabrik ini juga merupakan yang pertama di Indonesia dan mampu menghasilkan ketebalan HRC dengan rentang 1,4 mm hingga 16 mm dengan lebar mulai dari 600 mm hingga 1.650 mm.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Krakatau Steel (krakatau.steel)

Proyek Baja Trikora 

Ketua DPR Puan Maharani mengenang jasa Presiden pertama RI Sukarno atau Bung Karno saat ikut menghadiri peresmian pabrik baru Krakatau Steel. Puan mengatakan, Krakatau Steel merupakan bagian dari pelaksanaan Proyek Baja Trikora yang diinisiasi Sukarno pada 1960. 

"Dalam peletakan batu pertamanya pada 1962, Krakatau Steel awalnya bernama Cilegon Steel Mill yang kemudian resmi beroperasi pada 31 Agustus 1970," kata Puan. 

Dia mengatakan, industri baja adalah mother of industry karena tanpa industri baja dan besi, industri pengolahan lainnya tidak akan bisa berproduksi. Menurut dia, Bung Karno memahami hal tersebut sehingga menginisiasi pembangunan pabrik baja di Cilegon pada 1962.

"Memperkuat industri baja nasional sebagai salah satu sumber daya strategis berarti juga menguatkan ekonomi Indonesia agar berdikari," ujarnya.

Menurut dia, produk utama Krakatau Steel adalah baja canai panas (hot rolled coil) dan pelat besi hitam (hot rolled plate) yang diekspor ke berbagai negara, seperti Malaysia, Australia, Jerman, Italia, Portugal, dan Spanyol. Karena itu, dia meminta pemerintah secepatnya memperkuat daya saing industri baja nasional untuk mengurangi ketergantungan pada impor.

Menurut Puan, industri baja sangat dibutuhkan di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur di Indonesia. Krakatau Steel diharapkan dapat memenuhi kebutuhan baja nasional untuk menopang pembangunan infrastruktur nasional.

photo
Pekerja memeriksa kualitas lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil (HRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon, Banten, Kamis (7/2/2019). - (ANTARA FOTO)

"Krakatau Steel harus semakin sehat dan semakin kuat sebagai tulang punggung pembangunan bangsa dan negara kita yang sedang berlari menuju Indonesia Maju," katanya. Puan juga mengingatkan agar kemajuan kinerja Krakatau Steel harus turut dirasakan masyarakat sekitar di Cilegon dan Banten.

Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk (KS) Silmy Karim mengatakan pabrik Hot Strip Mill 2 siap memasok baja berkualitas untuk pasar otomotif, termasuk untuk pengembangan industri mobil listrik nasional. Pabrik baru tersebut telah diresmikan Presiden Joko Widodo pada Selasa (21/9).

“Produk HRC (baja lembaran panas) dari HSM (Hot Strip Mill 2) nantinya akan diutamakan untuk mengisi pangsa pasar otomotif yang membutuhkan kualitas baja terbaik. Hal ini seiring dengan rencana Indonesia untuk menjadi salah satu pusat produksi mobil listrik dunia," kata Silmy Karim saat peresmian pabrik Hot Strip Mill 2, di Cilegon, Banten, kemarin.

Silmy mengatakan, pabrik HSM 2 selesai dibangun pada Mei 2021 dengan investasi senilai Rp7 ,5 triliun di atas lahan 25 hektare. Dengan kapasitas produksi 1,5 juta ton per tahun, pabrik ini akan menambah total kapasitas produksi KS menjadi 3,9 juta ton per tahun. “Pabrik ini pertama di Indonesia dengan produk HRC ketebalan 1,4 milimeter,” ujarnya.

Selain meningkatkan kapasitas produksi nasional, kata dia, pabrik ini juga akan mengerek daya saing produk baja Indonesia. Hal itu karena pabrik HSM 2 dapat memangkas biaya operasional hingga 25 persen. Selain itu, pabrik ini menerapkan teknologi automasi 4.0, sehingga baja yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik.

Daya saing baja yang lebih tinggi dan harga yang efisein diharapkan akan mendorong penyerapan produk dalam negeri. Dengan demikian, Indonesia bisa mengurangi impor baja dan pada akhirnya menghemat devisa nasional.

Silmy sebelumnya menjelaskan, pabrik baru itu direncanakan beroperasi pada awal 2020, namun tertunda karena adanya pandemi Covid-19. Kendala yang dihadapi saat itu adalah pada tahap commissioning dikarenakan kesulitan dalam mendatangkan teknisi dari luar negeri. Pabrik HSM 2 ini dibangun oleh konsorsium bersama SMS Group Jerman dan PT Krakatau Engineering.

Indonesia edang menggencarkan pembangunan industri kendaraan listrik. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan telah mengundang investor untuk ikut menanamkan modal di Indonesia dan membangun industri baterai kendaraan listrik.

"Pada momentum ini kami mengundang para investor dari Eropa untuk mengambil bagian dalam industri baterai (kendaraan listrik)," katanya dalam webinar, Selasa (21/9).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Krakatau Steel (krakatau.steel)

Untuk membangun hilirisasi industri, pemerintah mendorong pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Tanah Air. Indonesia bahkan telah mengantongi investasi senilai 9,8 miliar dolar AS (setara Rp 142 triliun) untuk pengembangan industri baterai kendaraan listrik secara terintegrasi dari Korea Selatan.

Pada Rabu (15/9), tahap pertama investasi dari Korsel mulai terealisasi dengan dibangunnya pabrik baterai listrik senilai 1,1 miliar dolar AS di Karawang, Jawa Barat. Pada akhir tahun ini, pabrik baterai kendaraan listrik juga akan dibangun oleh CATL, produsen baterai kendaraan listrik asal Cina.

Mantan Ketua Umum Hipmi itu menyebut, sekitar 24-26 persen cadangan nikel dunia terdapat di Indonesia. Fakta tersebut sangat menguntungkan bagi Indonesia karena ada jaminan pasokan bahan baku.

Sumber : Antara


×