Sejumlah minuman mengandung etil alkohol (MMEA) hasil penindakan dituangkan ke dalam tong saat pelaksanaan pemusnahan di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) TMP C Pantoloan di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (10/6/2021). Mereka yang sebelum ter | ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah
22 Sep 2021, 03:45 WIB

Long Covid Intai Penyintas dengan Riwayat Peminum Alkohol

Mereka yang sebelum terpapar Covid-19 sering mengonsumsi alkohol, memperparah kerusakan sel tubuh.

SURABAYA -- Sejumlah gejala kerap masih hinggap pada pasien yang sudah dinyatakan negatif Covid-19. Kondisi yang biasa disebut dengan long covid bahkan bisa terjadi lebih dari tiga bulan pascanegatif.

Dokter spesialis paru Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Alfian Nur Rosyid mengatakan, pada beberapa kasus Covid-19, penyintas masih merasakan gejala. Ia mengatakan, sel-sel pasien dapat rusak meskipun hasil tes usap sudah negatif.

Sel yang sudah rusak tidak bisa kembali sempurna dan menyisakan gejala pada penyintas Covid-19. “Long Covid-19 itu berarti pasien sudah sembuh dari Covid-19, namun masih memiliki tanda atau gejala sisa virus tersebut,” kata Alfian, Selasa (21/9).

Alfian menjelaskan, gejala long Covid-19 di antaranya terganggunya pernapasan. Batuk dan sesak adalah gejala yang sering dirasakan penyintas dengan long covid. Selain masalah pernapasan, kata dia, pasien long covid juga dapat mengalami keluhan pada organ lain, seperti badan yang terasa cepat capek, lemas, sakit kepala, diare, dan sebagainya.

Terkait

"Meskipun demikian, intensitasnya bisa jauh lebih berkurang dibandingkan ketika pasien masih terjangkit virus korona," ujar Alfian.

Alfian menjelaskan, berdasarkan beberapa jurnal dan literatur, penyebab long covid di antaranya berhubungan dengan faktor usia. Gejala long covid sering kali dirasakan pasien penyintas Covid-19 yang usianya tua, misalnya di atas 80 tahun.

Selain itu, long covid juga berhubungan dengan derajat berat-ringannya pasien ketika dirawat saat terpapar Covid-19. Terutama apabila pasien memiliki komorbid termasuk terjadinya pneumonia pada paru.

“Risiko lain, yakni pada pasien yang sempat dirawat di ICU dan mengalami badai sitokin. Kondisi tersebut dapat merusak paru dan sel lainnya,” kata Alfian.

Alfian menambahkan, risiko long covid juga dapat terjadi pada pasien dengan riwayat peminum alkohol. Mereka yang sebelum terpapar Covid-19 sering mengonsumsi alkohol, dapat memperparah kerusakan sel tubuh, seperti rusaknya fungsi liver, paru, dan organ-organ lainnya.

Upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah gejala berkepanjangan di antaranya adalah pasien tidak malas bergerak sesuai dengan kemampuan meskipun saat di ruang isolasi rumah sakit. Kemudian, long covid dapat dicegah dengan rutin konsumsi obat yang diberikan dokter, serta menghindari stres dan kecemasan.

"Setelah pasien pulang dari rumah sakit, dia harus tetap sedapat mungkin melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan, melakukan rehabilitasi fisik, berjemur di pagi hari, konsumsi multivitamin dan suplemen, terus berpikir positif, serta berdoa,” ujar Alfian.


×