Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika
19 Sep 2021, 09:31 WIB

Per Minggu 20 Ribu Orang Pulang dari Perpustakaan Bawa Buku

Ada sekitar 20 ribu orang ke perpustakaan setiap minggu, pulang membawa satu buku.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Suatu malam, di bulan Agustus 1913, Wedana Panarukan berkeliling kota. Ketika tiba di sebuah gudang, matanya tertuju pada graffiti di dinding gudang. Menggunakan huruf Latin, tapi dalam bahasa Jawa: Doeh babo sang moho wikoe, Pak Ngaksamanto satokoe, loepoeto pati patoko satema prang lawan guru.

Begitu kutipannya, yang ditulis koran De Expres. Tapi ada kemungkinan salah tulis karena beberapa kata artinya tak sesuai dengan terjemahannya. Grafiti ini, setelah diterjemahkan ke bahasa Belanda, membuat asisten residen memerintahkan penyelidikan.

Pembuatnya diburu, karena grafiti itu dianggap menghasut. Tentu saja, pembuat grafiti itu tak ditemukan dan apa tujuannya membuat grafiti itu juga tak diketahui.

Terkait

Ini mengingatkan kita pada kejadian pertengahan Agustus lalu, ketika polisi juga memburu pembuat mural “Jokowi: 404 Not Found”. Polisi kemudian menghentikan perburuan itu setelah muncul berbagai kritik yang ditujukan kepada kepolisian.

Kalimat grafiti di Panarukan itu diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh koran di Surabaya yang kemudian dikutip oleh koran De Expres di Bandung. Arti dalam bahasa Indonesia (diterjemahkan dari bahasa Belanda) kira-kira begini: O tuanku, maafkan saya dan bantu saya agar saya terhindar dari kematian yang berdosa, karena saya terpaksa berperang melawan tuan. Kalimat itu, tulis De Expres, diucapkan Arjuna dalam perang Bharatayuda.

Tak ada kaitannya dengan grafiti bahasa Jawa dengan huruf Latin ini, tapi penggunaan huruf Latin dalam pelajaran bahasa Jawa di sekolah sempat memunculkan pro-kontra. Pada Kongres Persatuan Guru Hindia Belanda di Yogyakarta pada Agustus 1912 yang diikuti 200 guru, muncul desakan agar penggunaan huruf Latin dalam penulisan bahasa Jawa dikurangi.

Pada Kongres Java Institute Maret 1927, dibahas kelebihan dan kekurangan penulisan bahasa Jawa dalam huruf Latin. Saat itu ada Balai Pustaka (Volkslectuur) yang mendukung penggunaan huruf Latin dan ada Woerjaningrat yang menentangnya. Hasil Kongres, mendorong Balai Pustaka menggunakan huruf Jawa dalam buku-buku berbahasa Jawa yang diterbikannya.

 
Hasil Kongres, mendorong Balai Pustaka menggunakan huruf Jawa dalam buku-buku berbahasa Jawa yang diterbikannya.
 
 

Data per awal 1937 yang dikutip Soerabaiasch Handelsblad, sudah ada lebih 1.250 jenis buku yang diterbitkan selama keberadaan Balai Pustaka. Penjualannya mencapai sekitar 2.500 buku per bulan.

Pada 1920 Balai Pustaka baru memiliki 1.619 perpustakaan. Sebanyak 760 perpustakaan untuk buku berbahasa Jawa, 239 perpustakaan untuk buku berbahasa Sunda, dan 543 untuk bahasa Melayu. Tapi pada 1930, jumlahnya sudah membengkak menjadi 2.528 perpustakaan, terdiri dari 1.248 perpustakaan buku Jawa, 443 perpustakaan Sunda, 723 perpustakaan buku Melayu, dan 114 perpustakaan buku Madura.

Pada 1922, tercatat ada satu juta peminjam buku. Artinya, ada sekitar 20 ribu orang ke perpustakaan setiap minggu, pulang membawa satu buku. Mereka meminjam buku yang disediakan dalam berbagai bahasa: Melayu, Sunda, Madura, dan Jawa.

Hingga awal 1930, huruf Jawa hanya bisa digunakan untuk menulis bahasa Jawa. Kemudian Djojopranoto muncul dengan ide memodifikasi huruf Jawa pada 1932. Tujuan dia agar dia bisa menulis bahasa Indonesia dalam huruf Jawa. Tapi ia mendapatkan kejutan. “Saya juga bisa menulis bahasa asing dalam huruf Jawa,” ujar Djojopranoto saat memberikan ceramah tentang modernisasi huruf Jawa ini pada Agustus 1932 seperti yang dilaporkan De Locomotief.

Pembaruan itu membuat huruf Jawa bisa digunakan untuk menulis dalam bahasa Belanda, Inggris, Prancis, dan selain bahasa Indonesia. Huruf Jawa yang baru ini kemudian bisa mempercepat proses di percetakan buku-buku yang menggunakan huruf Jawa. Penulisannya hanya membutuhkan satu baris, berbeda dengan huruf Jawa lama yang memerlukan tiga baris.

photo
Kios Balai Poestaka di Purwokerto pada masa Hindia Belanda - (DOK Wikipedia)

Huruf Jawa telah digunakan oleh Muhammadiyah dalam buku-buku doa yang dicetak dan disebarkan gratis. Pada Februari 1927, misalnya, Muhammadiyah menyebarkan 12 ribu buku doa. Hal ini ditiru oleh Misi Kristen Belanda. Pada 1932, ada 24 ribu Alkitab yang menggunakan huruf Jawa yang terjual. Tapi pada 1933, angka penjualan Akkitab huruf Jawa menurun, hanya 19 ribu.

Kisah-kisah di Kitab Kejadian, Keluaran, Mazmur, Amsal, yang tokoh-tokohnya ada juga di Alquran, menjadi peluang Alkitab laku di Jawa, terutama Jawa Tengah. Permintaan orang-orang Cina yang lahir di Jawa –yang sehari-hari sudah menggunakan bahasa Jawa, mendorong Misi Kristen Belanda serius mencetak Alkitab berbahasa Jawa dalam huruf Latin mulai 1933.

Anak-anak muda Jawa yang gagap membaca huruf Jawa, dianggap sebagai pasar baru untuk Alkitab dengan huruf Latin. Untuk kalangan tua, selain tetap mencetak Alkitab berhuruf Jawa, dicetak juga Alkitab dengan huruf Arab, bahkan juga berbahasa Arab. Dicetaknya di Mesir dan Singapura.

Hingga 1938, setelah 40 tahun kerja misi di Jawa Tengah, ada 1.800 Muslim yang pindah menjadi pemeluk Kristen. Angka ini dinilai sebagai keberhasilan, karena di Mesir, mereka hanya mendapat 150 orang selama kerja misi 75 tahun.

Selamat Hari Aksara Internasional, 8 September.


×