Manajer Tottenham Jose Mourinho berjalan dengan wasit Mike Dean, kiri kedua, setelah pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris antara Aston Villa dan Tottenham Hotspur di Villa Park di Birmingham, Inggris, Minggu, 21 Maret 2021. | AP/Michael Steele/Pool Getty
17 Sep 2021, 09:55 WIB

Jose Mourinho, The Special One (Thousand)

Jose Mourinho tak bisa lagi membendung kebahagiaan bisa melatih hingga 1.000 pertandingan.

Pekan ketiga Seri A Liga Italia boleh jadi momen spesial bagi juru taktik AS Roma, Jose Mourinho. Skor 2-1 kontra Sassuolo, Ahad (12/9), bukan sekadar kemenangan bagi pelatih eksentrik itu, tetapi juga menjadi rekor pribadi.

Mourinho tak malu-malu meluapkan ekspresinya. Ia sempat berlari-lari bak anak kecil ketika Stephan El Shaarawy mencetak gol penentu kemenangan pada masa injury time. Dalam laga itu, Mourinho baru saja mencapai 1.000 pertandingan sebagai pelatih.

Selebrasi itu mengingatkan publik ketika dirinya menumbangkan Manchester United (MU) di Liga Champions ketika masih melatih FC Porto pada 2004 silam. Mourinho bahkan sukses mengejutkan dunia sepak bola saat membawa timnya juara kompetisi tertinggi antarklub Eropa tersebut.

Nama dan wajah Mourinho mendadak tenar. Ia kemudian diboyong oleh taipan Rusia, Roman Abramovich, untuk menangani Chelsea yang sedang membangun dinasti. Saat itulah Mourinho menyebut dirinya sendiri sebagai 'the Special One' dalam sebuah konferensi pers.

Mourinho mungkin sudah tidak muda. Usianya akan menginjak 60 tahun pada 2023 mendatang. Namun, ia mengaku tak memiliki masalah pada tubuhnya setelah berlari-lari dari bangku pelatih menuju tribun suporter di Stadion Olimpico.

"Saya bukan pria berusia 58 tahun, tapi 10, 12, atau 14 tahun yang baru mulai bermimpi meniti karier di sepak bola. Berlari seperti itu, saya merasa seperti anak-anak. Saya meminta maaf kepada (pelatih Sassuolo) Dionisi untuk hal itu," kata Mourinho seperti dilansir BBC Sport, Rabu (15/9).

Mourinho mengungkapkan, tak bisa lagi membendung kebahagiaan bisa melatih hingga 1.000 pertandingan. Sejak menyatakan pensiun sebagai pemain ketika usianya masih 24 tahun, ia mantap memilih jalur sebagai juru racik strategi klub kota kelahirannya, Setubal FC, pada 1987 silam.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Jose Mourinho (josemourinho)

Mourinho menjalani setiap proses demi proses dalam titian kariernya. Kemampuan lima bahasa asing menjadi salah satu penopang kemajuan perjalanannya sebagai pelatih ketika dipekerjakan sebagai penerjemah Sporting Lisbon pada 1994. Barcelona pun merekrutnya dengan tanggung jawab yang sama untuk mendampingi Louis van Gaal dua tahun kemudian.

Selepas menjadi penerjemah dan asisten pelatih, Benfica melirik Mourinho sebagai pelatih utama meski hanya bertahan 76 hari. Ia hijrah ke Leiria sebelum Porto menampungnya. Jika ditarik ke belakang, ia ternyata berpengalaman menukangi tiga klub paling populer di negara asalnya.

Portofolio kepelatihan Mourinho pun tak main-main. Walaupun ia hanya memiliki rerata melatih 1,7 tahun, Mourinho pernah menangani klub-klub besar, seperti Chelsea, Inter Milan, Real Madrid, Manchester United, Tottenham Hotspur, dan kini AS Roma.

Setelah memutuskan pindah ke ibu kota Italia pada Mei 2021 lalu, banyak kritik yang menyasar padanya. Maklum, ia datang ke AS Roma setelah dipecat Spurs karena gagal mempersembahkan trofi di musim 2020/2021. Namun, Mourinho tak acuh. Ia tetap menganggap 1.000 pertandingan adalah pencapaian yang mentereng baginya.

"Selama satu pekan saya berbohong kepada orang-orang dengan berkata ini bukanlah pertandingan yang penting. Namun, saya nyatakan, ini sangat penting. Laga ini sangat berarti bagi saya dan akan diingat selama hidup karena ini adalah pertandingan ke-1.000 sebagai pelatih," kata dia.

Untuk pertama kalinya, Mourinho juga sukses memenangkan lima pertandingan pertamanya bersama satu klub. Tak aneh jika dirinya terlihat sangat emosional dengan segala komentar miring yang kerap menghantuinya selama satu dekade terakhir.

"Saya tidak ingin kalah meski sempat takut hal itu terjadi dan terus menjadi ingatan. Ini adalah perasaan yang luar biasa. Mungkin Tuhan tidak ingin saya mendapat memori negatif di momen seperti ini," ujar Mourinho.

Pertandingan ke-1.001 Mourinho juga tak kalah spesial karena timnya akan menjamu tim asal Bulgaria, CSKA Sofia, Jumat (17/9) dini hari WIB. Ini adalah perjalanan pertama Gialorossi di kompetisi kasta ketiga level Eropa, UEFA Conference League.


×