Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika
14 Sep 2021, 10:13 WIB

Di Balik Proses Turunnya Alquran

Banyak pertanyaan, mengapa susunan Alquran berbeda dengan kronologi turunnya.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Banyak pertanyaan, mengapa susunan Alquran berbeda dengan kronologi turunnya. Secara susunan, surah al-Fatihah terletak di urutan pertama, padahal yang pertama kali turun kepada Rasulullah SAW adalah lima ayat bagian awal surah al-Alaq.

Jawabannya ini adalah bahwa Alquran turun dua tahap. Pertama, turun sekaligus dari “al-Lauhul Mahfuzh” ke langit dunia “as ama’ud dunya”. Dalam kondisi ini Alquran memang sudah tersusun di al-Lahul Mahfuzh, seperti yang kita lihat pada mushaf yang kita pegang sekarang. Untuk tahap ini terjadi pada malam “al-Qadar”.

Kedua, Alquran diturunkan dari langit dunia ke Rasulullah SAW secara berangsur-angsur sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi. “Kadzaalika linutsabbita bihii fu’aadaka (itu tidak lain untuk mengokohkan hati Nabi SAW)’’. (QS Al-Furqan: 32)

Terkait

Diturunkan demikian karena memang ia sebagai pedoman hidup. Para sahabat sangat paham ayat-ayat Alquran, tidak saja karena mereka berbahasa Arab dengan fasih sebagaimanan bahasa Alquran, tetapi juga karena mereka benar-benar tahu ayat-ayat tersebut, pada kejadian apa dan di mana ia diturunkan.

Ilmu tentang sejarah turunnya Alquran tersebut dikenal kemudian dengan istilah “asbaabun nuzul”. Para ulama mensyaratakan ilmu tersebut bagi siapa saja yang mau menafsirkan Alquran.

Dari tahap pertama, kita belajar tentang keutuhan Alquran sebagai satu kesatuan tak terpisahkan. Bahwa untuk memahami Alquran harus mengambilnya secara utuh bukan sepenggal-sepenggal.

 
Bahwa untuk memahami Alquran harus mengambilnya secara utuh bukan sepenggal-sepenggal.
 
 

Misalnya,mengambil perintah shalat dengan menolak perintah zakat, atau mengambil perintah haji dengan menolak perintah jihad dan sebagainya. Sungguh bangikitnya umat Islam pertama adalah karena mereka mengikuti Alquran secara utuh, tanpa membeda-bedakan antara satuayat dengan lainnya.

Dari tahap kedua, kita belajar tentang bagaimana mendidik anak yaitu harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemapuan dan kondisi intelektual masing-masing. Aisyah ra mengatakan: "Sendainya ayat yang turun pertama-tama di Kota Makkah adalah larangan minum khamr atau larangan berzina, niscaya itu akan ditolak dan mereka akan berkata kami tidak akan meninggalkan khamr atau zina selamanya”.

Karena itu ayat-ayat yang turun sebelum hijrah adalah mengenai keimanan. Ibarat membangun rumah, iman adalah fondasi, maka fondasinya terlebih dahulu yang dikokohkan.

Dari susunan Alquran, kitabelajar, bahwa urutan yang ada adalah berdasarkan wahyu. Setelah diteliti oleh para ulama ternyata pada susunan tersebut ada keterkaitan yang saling melengkapi. Juga ada panduan yang harus dipelajari. Susunan tersebut sangat kokoh ”kitaabun uhkimat aayaatuhu” (QS Hud: 1), bagaikan satu struktur yang saling mengokohkan. Imam Al Biqai (809-885h.) membuktikan itu dengan menulis kitab “nazhmud durar fii tanasubul aayaati was suwar”. 


×