Kisah Mancanegara
'Saya tak Bisa Berbuat Apa-Apa'
Rumah sakit di Les Cayes, 150 kilometer sebelah barat Ibu Kota Port-au-Prince, semakin penuh.
OLEH LINTAR SATRIA
Lanette Nuel sambil duduk di samping tubuh putrinya di depan rumah sakit utama Les Cayes, Haiti, Selasa (17/8). Les Cayes adalah salah satu kota yang paling terdampak gempa di negeri kawasan Karibia itu.
"Jumlah dokter tidak memadai dan sekarang ia meninggal dunia," kata Nuel tentang putrinya.
Putri Nuel sudah berusia 26 tahun. Sang putri yang memiliki dua orang anak ini tertimpa bangunan saat gempa 7,2 skala Richter mengguncang Haiti. Kini ia berbaring di tanah dan hanya ditutupi kain putih.
"Kami datang kemarin sore (Senin, Red), ia meninggal pagi ini, saya tidak bisa berbuat apa-apa," kata Nuel lesu.
Haiti masih belum sepenuhnya pulih dari gempa besar 11 tahun lalu yang menewaskan 200 ribu orang. Kemudian, datang gempa Sabtu (14/7) lalu menghancurkan puluhan ribu bangunan di negara termiskin di Benua Amerika itu.
Bencana alam kali ini merenggut nyawa sekurangnya 1.941 orang. Sebanyak 9.915 korban terluka dalam gempa kali ini. Para penyintas kini membutuhkan bantuan makanan, tempat tinggal sementara dan obat-obatan.
Gempa merusak sejumlah rumah sakit sehingga proses kemanusiaan pun terhambat. Para dokter berusaha menyelamatkan nyawa di tenda-tenda darurat termasuk anak-anak dan orang lanjut usia. Tapi tidak semua orang dapat diselamatkan.
Pada Selasa, Dinas Perlindungan Sipil Haiti mengatakan masih banyak warga yang dinyatakan hilang atau berada di bawah puing-puing bangunan. Pengiriman bantuan kemanusiaan pun sulit dilakukan karena gejolak politik dan geng-geng kriminal yang menguasai jalan-jalan dari ibukota ke arah selatan pulau itu.
Banjir bandang dan longsor yang dipicu Tropical Storm Grace Selasa yang melewati Jamaika semakin memperburuk situasi.
"Tak terhitung keluarga-keluarga Haiti yang kehilangan segalanya karena gempa bumi kini hidup dengan air di kaki mereka karena banjir," kata perwakilan Dana Anak-Anak PBB (Unicef) di Haiti, Bruno Maes.
"Sekarang ini akses setengah juta anak-anak Haiti ke makanan, tempat tinggal, air bersih, obat-obatan, dan nutrisi terbatas atau sama sekali tidak ada," katanya.
PBB mengatakan, mereka telah mengalokasikan 8 juta dolar AS dari dana darurat untuk membantu masyarakat yang terdampak. Negara-negara Amerika Latin seperti Venezuela, Cile, Meksiko, Panama, Kolombia, dan negara tetangga Republik Dominika mengirimkan makanan, obat-obatan dan berbagai pasokan lainnya.
Amerika Serikat juga mengirimkan pasokan serta tim penyelamat dan pencari. Tapi geng-geng kriminal menghalangi akses jalan selama berbulan-bulan. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB mengatakan mereka berhasil melakukan negosiasi hingga konvoi bantuan dapat mencapai Les Cayes.
Rumah sakit di Les Cayes yang terletak 150 kilometer sebelah barat Ibukota Port-au-Prince semakin penuh. Pasien-pasien yang sebelumnya beristirahat di tenda masuk ke dalam untuk menghindari badai.
Direktur rumah sakit Peterson Gede mengatakan petugas medis berusaha semaksimal mungkin. "Kami tidak dapat menangani semua pasien, dan kami sudah menerima pasokan tapi tidak cukup," katanya.
Banyak anak-anak dan bayi yang tinggal di tenda-tenda di Les Cayes. Ratusan orang berusaha memperbaiki tenda dengan kayu dan terpal yang hancur oleh badai Grace. Beberapa orang menutup tenda dengan lembaran plastik.
"Kami tidak memiliki dokter, kami tidak memiliki makanan, setiap pagi ada orang yang datang, kami tidak memiliki kamar mandi, tidak ada tempat untuk tidak, kami butuh makanan, kami membutuhkan lebih banyak payung," kata Mathieu Jameson, wakil dari para pengungsi.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
