ILUSTRASI Munculnya hadis palsu tak lepas dari konteks politik yang melanda umat Islam pascawafatnya Nabi SAW. | DOK BUKUREPUBLIKA

Kitab

15 Aug 2021, 21:42 WIB

Rujukan Lengkap Hadis-Hadis

Isinya menyuguhkan banyak hadis yang disusun secara ensiklopedis.

 

OLEH MUHYIDDIN

 

Agama Islam berasaskan pada Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Yang kedua itu disebut pula sebagai hadis.

Menurut para ulama, hadis merupakan segala ucapan, perbuatan dan keadaan Rasulullah SAW atau segala berita yang bersumber dari beliau, termasuk takrir maupun deskripsi sifat-sifatnya. Menurut ahli ushul fikih, hadis berarti segala perkataan, perbuatan dan takrir Nabi SAW yang bersangkut paut dengan syariat.

Bila kita menilik sejarah, penulisan Alquran terjadi lebih dahulu daripada hadis. Sebab, Rasulullah SAW menyuruh para sahabatnya yang memiliki literasi untuk menuliskan ayat-ayat Alquran. Kaum Muslimin sejak zaman beliau pun marak menghafalkan Kitabullah. Pada akhirnya, pembukuan Alquran selesai dilakukan pada era kekhalifahan Utsman bin Affan.

Sementara itu, penulisan hadis sempat dilarang oleh Nabi SAW. Tampaknya, Rasulullah SAW “menunda” pencatatan hadis karena saat itu masih khawatir, para sahabat akan tidak sengaja mencampurkan antara teks Alquran dan perkataan beliau sendiri. Maka ketika semakin banyak Muslimin yang menghafal Alquran, kekhawatiran itu pun menghilang. Penulisan hadis lalu diperbolehkannya.

Pembukuan hadis berlangsung pesat sejak zaman Dinasti Umayyah, tepatnya pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beberapa dekade sesudahnya, kian banyak ulama yang menekuni studi hadis.

Pada abad ketiga Hijriyah, pengkajian hadis begitu gencar dilakukan di seantero wilayah Islam. Para sarjana mulai berupaya memilah hadis sahih dari hadis-hadis lainnya.

Malahan, banyak di antara mereka yang menyusun kitab berdasarkan topik hadis-hadis sahih yang dibicarakan. Alhasil, periode ini juga dinamakan sebagai Abad Pembukuan Hadis (Tadwin).

 
Ada yang merupakan bacaan klasik karena berasal dari masa sekitar Abad Tadwin. Ada pula yang menyajikan pembahasan tematik tentang hadis-hadis yang disusunnya.
 
 

Hingga kini, banyak buku yang beredar di tengah umat Islam mengenai hadis Nabi SAW. Ada yang merupakan bacaan klasik karena berasal dari masa sekitar Abad Tadwin, semisal Shahih Bukhari atau Shahih Muslim. Ada pula yang menyajikan pembahasan tematik tentang hadis-hadis yang disusunnya.

Di antara beragam kitab demikian, buku yang disusun Syekh Abdullah bin Abdul Aziz al-Luhaidan ini cukup unik. Sebab, isinya menyuguhkan banyak hadis yang disusun secara ensiklopedis.

Judul karya itu adalah Adhwa’ as-Sunnah ‘ala Shahibiha Afdhalu ash-Shalah wa as-Salam. Oleh Penerbit Darus Sunah, kitab tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Ensiklopedi Hadis. Secara keseluruhan, Darus Sunah menjadikan buku itu ke dalam tiga jilid berukuran cukup besar.

Hadirnya karya Syekh al-Luhaidan itu dalam bentuk berjilid-jilid menandakan, kitab tersebut adalah sebuah ensiklopedia yang cukup komprehensif. Masing-masing jilid memiliki ketebalan sekitar 800 halaman. Isinya membahas banyak topik yang berkaitan dengan masalah-masalah keislaman.

Jilid pertama dari Adhwa’ as-Sunnah berisi bab-bab tentang perkara niat, bersuci (thaharah), azan, shalat, masjid, jenazah, zakat, dan puasa. Jilid kedua kitab tersebut berisi bab tentang haji, jihad, sumpah, nazar, jual-beli, nikah, kepemimpinan, putusan hukum dan hudud, ilmu, pengobatan, berbuat baik kepada orang tua dan silaturahim, salam, zikir dan doa, adab makan dan minum, serta berpakaian dan perhiasan.

Adapun jilid ketiga karya Syekh al-Luhaidan tersebut memuat bab-bab seputar adab dan akhlak; pelembut hati; keutamaan-keutamaan Alquran, Nabi Muhammad SAW, para sahabat, orang-orang saleh/salehah, dan kota-kota; tauhid; serta fitnah akhir zaman.

Luasnya cakupan pembahasan dalam ketiga jilid kitab tersebut menunjukkan kerja keras sang penyusun. Memang, buku itu dimaksudkan sebagai rangkuman hadis-hadis pilihan tentang permasalahan agama secara teperinci. Totalnya, ada 4.323 hadis yang termaktub dalam karya ini.

 
Buku ini dimaksudkan sebagai rangkuman hadis-hadis pilihan tentang permasalahan agama secara teperinci.
 
 

Yang cukup istimewa adalah Syekh al-Luhaidan memasukkan banyak hadis di dalam karyanya itu dengan metode yang hati-hati. Dia hanya memasukkan sunah yang dipastikan kesahihannya. Itu bisa dicapai dengan merujuk pada kitab-kitab dari generasi salaf, semisal Shahih Bukhari atau Shahih Muslim.

Di antara kelebihan buku ini ialah penyusunnya berusaha memudahkan para pembaca dalam mencari hadis-hadis yang bisa dijadikan dalil terkait beragam hal. Kemudahan itu bisa dirasakan berkat penyusunan topik-topik yang ada secara sistematis.

Bahkan, Syekh al-Luhaidan pun menyertakan beberapa ayat Alquran yang berkenaan dengan masing-masing kompilasi hadis. Dengan demikian, seseorang bisa mendapatkan dalil mengenai hal-hal yang dicarinya dari dua sumber sekaligus, yakni Kitabullah dan Sunah Nabi SAW.

Edisi terjemahan bahasa Indonesia Adhwa’ as-Sunnah tampil dengan cukup elegan. Ketiga jilid Ensiklopedi Hadits dikemas dengan tampilan boks yang terkesan eksklusif. Masing-masing dikemas dengan sampul keras (hard cover). Tak ketinggalan, kualitas alih bahasanya pun cukup baik.

Alhasil, para pembaca masih dapat menikmati penjabaran dari Syekh al-Luhaidan tanpa didera kebingungan. Hadirnya kitab ini menjadi bekal yang berharga bagi para dai, khatib, guru, ataupun Muslimin pada umumnya.

Diawali ikhlas

Dalam pemaparannya, bab pertama dari jilid pertama kitab Adhwa’ as-Sunnah diawali dengan topik “Mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala". Pembahasan dimulai dengan mengutip surah al-Bayyinah ayat 5, yang artinya, “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”

Ayat itu dikaitkan dengan berbagai hadis sahih. Salah satunya yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab. “Ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang telah diniatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa yang hijrahnya untuk dunia yang diinginkan, atau seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia hijrah kepadanya'.”

Hadis itu secara harfiah berkaitan dengan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin saat itu, dari Makkah ke Madinah—dahulu bernama Yastrib. Akan tetapi, nash yang sama dapat dikaitkan pula dengan pentingnya keikhlasan dalam memasang niat. Sebab munculnya hadis di atas tak lepas dari peristiwa seorang Muslim pada zaman Nabi SAW. Lelaki itu hendak melamar seorang perempuan yang bernama Ummu Qais.

Ternyata, wanita ini memberi syarat kepadanya agar pernikahan itu dapat dilangsungkan. Si lelaki diharuskan untuk ikut berhijrah terlebih dahulu ke Madinah. Maka hijrahlah si pria itu, lalu menikah dengan Ummu Qais.

Sesampainya di kota tujuan, cerita ini berkembang di tengah para sahabat. Tentang kejadian itu, Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana disebutkan tadi. Adapun lelaki tersebut kemudian dikenal dengan sebutan "muhajir Ummu Qais" karena niatnya berhijrah adalah untuk menikahi seorang perempuan yang dicintainya, bukan mengharapkan pahala mematuhi perintah Nabi SAW.

 
Buku Adhwa’ as-Sunnah jilid kedua banyak membahas seputar hadis-hadis Rasulullah SAW perihal ibadah.
 
 

Buku Adhwa’ as-Sunnah jilid kedua banyak membahas seputar hadis-hadis Rasulullah SAW perihal ibadah. Sebagai contoh, ibadah kurban pada hari raya Idul Adha. Di antara topik-topik yang disampaikan dalil hadisnya ialah kurban yang sah dan yang tidak sah. Bahkan, seluruh perkara yang berkenaan dengan Idul Kurban pada dasarnya dijelaskan dengan lengkap pada bab tersebut.

Contoh lainnya yang dapat dinukil dari kitab Adhwa’ as-Sunnah jilid kedua ialah hadis-hadis tentang fitrah. Syekh al-Luhaidan menyajikan banyak sabda Nabi SAW, sebagaimana diriwayatkan para sahabat dan istri beliau. Misalnya, hadis dari Aisyah radhiyattahu anha: “Ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, ‘Sepuluh hal bagian dari fitrah: memotong kumis, melebatkan janggut, menggosok gigi, membersihkan hidung dengan air, memotong kuku, mencuci kotoran di ujung kuku, mencabut rambut ketiak, mencukur rambut kemaluan, dan istinja'.”

Dalam mengutip hadis di atas, sang syekh pun mengingatkan pembaca akan firman Ilahi, yakni beberapa ayat Alquran yang menekankan keutamaan orang yang bersuci. Dan, kehendak Allah untuk menyucikan orang-orang beriman.

 
Bagaimanapun, dalam mempelajari ilmu-ilmu agama hendaknya tidak berhenti pada membaca kitab-kitab.
 
 

Dapat disimpulkan, Adhwa’ as-Sunnah adalah salah satu referensi yang sangat berguna untuk kaum Muslimin, khususnya mereka yang menekuni bidang ilmu hadis. Bagaimanapun, dalam mempelajari ilmu-ilmu agama hendaknya tidak berhenti pada membaca kitab-kitab. Sebab, bimbingan guru, ustaz, ataupun ulama-ulama sangat penting adanya.

Tidak bisa dan tidak mungkin seseorang memahami agama ini tanpa dibimbing seorang alim, yang berkompetensi dan lagi luhur budi pekertinya. Dengan begitu, ilmu yang diperoleh dapat dipastikan bersambung hingga kepada Nabi SAW.

Beliau pernah bersabda, “Ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya, nabi-nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” (HR Abu Daud).

photo
Buku karya Syekh al-Luhaidan ini merupakan suatu rujukan yang luar biasa untuk menemukan dalil-dalil berupa hadis. - (DOK PRI)

DATA BUKU

Judul: Ensiklopedi Hadis (terjemahan atas Adhwa’ as-Sunnah ‘ala Shahibiha Afdhalu ash-Shalah wa as-Salam)

Penyusun: Syekh Abdullah bin Abdul Aziz bin Muhammad al-Luhaidan

Penerbit: Darus Sunnah


×