Kisah Mancanegara
Kini, Bersalaman Pun jadi Dilema
Selama masa pandemi ini tidak yakin kebiasaan jabat tangan itu akan kembali.
OLEH DWINA AGUSTIN
Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, MTI Events, yaitu sebuah agen penyelenggaraan acara di Kansas City, Amerika Serikat (AS), mulai menawarkan penggunaan stiker "I shake hands" atau bisa diartikan, “Saya bersalaman”.
Stiker tersebut memang terlihat aneh. Namun, stiker itu dinilai menjelaskan apakah seseorang bersedia bersalaman atau tidak. Dengan memakai striker itu, tentu saja diharapkan mengurangi kecanggungan, sehingga orang tidak perlu ragu-ragu menjawab tangannya.
"Kami tidak ingin ada stiker itu mengatakan, 'Kami menolak bersalaman’ karena itu terkesan tidak menyenangkan,” kata Wakil Presiden di Divisi Operasi dan Penjualan MTI Events, John DeLeon.
Bersalaman itu hampir naluriah dan sulit disangkal. Namun, kondisi pandemi membuat kegiatan tersebut telah berada di tingkat yang berbeda. DeLeon tidak yakin kebiasaan jabat tangan itu akan kembali.
Stiker yang dijual perusahaannya tidak pernah laris. Perusahaan lain justru menjajakan tanda dan stiker yang lebih tegas mendorong larangan berjabat tangan. Bahkan ada stiker yang menampilkan kerangka tangan dan yang lainnya ditutupi dengan kuman Covid-19.
Sekarang, ketika para pekerja kembali ke kantor, teman-teman bersatu kembali, dan lebih banyak kegiatan dengan melibatkan banyak orang, pertanyaan tentang berjabat tangan semakin membingungkan.
Tradisi berjabat tangan telah ada selama berabad-abad sebagai tanda seseorang menawarkan perdamaian dan tidak memegang senjata tersembunyi. Namun, bersalaman juga bisa saja berisiko mengandung bakteri seperti Escherichia coli.
Pakar etiket dan pebisnis Dave McClain menyatakan, penggunaan stiker yang menunjukan penerimaan berjabat tangan ternyata tidak mempermudah keadaan. “Anda dapat melakukan panggilan telepon semau Anda dan dapat bertemu dengan orang-orang secara daring melalui panggilan Zoom. Tetapi itu tidak sama dengan mengulurkan tangan Anda dan menjabat tangan mereka, menatap mata mereka, dan benar-benar membangun hubungan," ujar pria berusia 52 tahun itu.
Pakar etiket nasional dan penulis Modern Etiquette for a Better Life, Diane Gottsman, menilai, jabat tangan tidak akan punah seiring pandemi. Namun, dia melihat kegiatan tersebut bisa terbangun dengan melakukannya perlahan.
"Jangan menjadi yang pertama mengulurkan tangan, bahkan jika Anda merasa nyaman. Perhatikan orang lain dan biarkan mereka memilih cara menyampaikan salam mereka," ujar Gottsman merekomendasikan.
Ahli penyakit menular terkemuka di AS, Dr Anthony Fauci, tahun lalu pernah meramalkan soal bersalaman ini. “Jujur saja, rasanya, kita tidak mungkin akan bersalaman lagi,” kata Fauci.
Namun, spesialis penyakit menular di Johns Hopkins University, Dr. Amesh Adalja, yang menilai seluruh kontroversi yang mengguncang itu berlebihan. Menurutnya solusi berjabatan tangan antar manusia sangat mudah.
"Jika Anda khawatir tentang Covid-19, cara terbaik untuk membuat jabat tangan aman adalah dengan divaksinasi sepenuhnya. Jika takut ada hal-hal lain yang mungkin ada di tangan orang, cucilah tangan Anda sebelum menyentuh wajah Anda. Itulah gunanya penyanitasi tangan," kata Adalja.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
