Dialog Jumat | Pixabay
15 Feb 2019, 19:44 WIB

Lindungi Bumi dengan Eco-Masjid

Program ini diharap menjadi langkah awal Indonesia untuk menjaga bumi

Pemanasan global (global warming)menjadi masalah yang ramai diperbincangkan sejak belasan tahun silam. Pergantian musim yang tidak stabil, perubahan suhu yang terjadi secara drastis, dan rusaknya lapisan ozon menjadi beberapa dari sekian dampak dari adanya pemanasan global.

Pakar perkotaan dan energi dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Dwi Sawung, menyebut isu pemanasan global mulai muncul sejak tahun 90-an. Saat itu suhu saat musim panas dan dingin di beberapa negara Ero pa dan Amerika terasa berubah secara drastis dari apa yang seharusnya terjadi.

Banyak peneliti mengatakan, penyebab awal pemanasan global ini terjadi pada 1750-an akibat dari revolusi industri di Inggris. Awal negara-negara komitmen untuk mengurangi emisi ini dari Protokol Kyoto tahun 1997. Banjir di luar normal menjadi penye- bab beberapa negara yang ter- gabung di PBB melakukan per- janjian ini. Gelombang panasnya juga mulai terasa, ujar Dwi Sawung kepada Republika, Rabu (13/2).

Di Indonesia, efek dari pem- anasan global sempat terasa saat El Nino dan La Nina menyebabkan kebakaran terparah. Perubah an suhu air laut yang siklus- nya biasa terjadi beberapa tahun sekali ini, kini jaraknya semakin memendek. Jangka waktunya pun menjadi lebih panjang dan su hu yang dibawa meningkat dari pada sebelumnya.

"Eco-masjidini salah satu yang paling urgen dan mendapat per- hatian adalah penggunaan airnya. Air ini kan untuk thaharah, wudhu, sebagai salah satu syarat melaksanakan ibadah."


Saat ini di Amerika lagi ra mai suhunya terlalu rendah di mu sim dingin ini. Ini sebetulnya bagian dari perubahan panas. Se harusnya udara dingin ini tidak lepas dari lingkar kutub. Tapi, ka rena di sana sudah tidak terlalu di ngin, maka suhu dingin ini ber geser ke wilayah-wilayah sekitar nya, lanjut Dwi. Untuk Indo nesia, ia menye- but lebih banyak berkontribusi dalam pemanasan global dari sisi perubahan fungsi lahan.

Sebagai solusi, Dwi mengan- jurkan penggunaan bahan-bahan yang hemat energi. Selain baik untuk iklim dan lingkungan, bahan yang hemat energi ini ramah di kantong atau biaya. Dalam pola konsumsi, masyarakat diminta untuk mengurangi produk sekali pakai dan membiasakan menggu- nakan barang-barang yang bisa dipakai ulang atau daur ulang. Ketika kita menggunakan sebuah produk, sebetulnya saat pro ses pembuatannya ada emisi yang digunakan. Kalau bisa guna kan benda-benda yang bukan sekali pakai, lanjutnya.

Untuk membantu menjaga bumi, Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Majelis Ulama Indone sia (MUI) meluncurkan gerakan ecorumah ibadah, salah satunya eco-masjid. Program ini diharap kan menjadi langkah awal Indonesia untuk menjaga bumi dan didukung oleh organisasi keagamaan, perguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat.Eco-masjidini salah satu yang paling urgen dan mendapat perhatian adalah penggunaan airnya. Air ini kanuntuk thaharah, wudhu, sebagai salah satu sya rat melaksanakan ibadah. Karena itu, perlu perhatian agar memenuhi syarat airnya harus suci dan menyucikan, ujar Ketua DMI Natsir Zubaidi.

Baik pengurus masjid, jamaah, maupun masyarakat sekitar kemudian diminta untuk menjaga dan memelihara kelangsungan air yang ada. Salah satu caranya dengan menjaga lahan terbuka agar tersedia resapan air. Penanaman pohon dan pengurangan pengas- palan atau penggunaan paving blockjuga bisa membantu proses tersebut. Air berhubungan dengan hajat hidup orang banyak sehingga harus dijaga sebaiknya.

Masjid selain tempat beribadah juga sebagai tempat orang ber aktivitas dan berorganisasi. Dia menilai sudah selayaknya pe ngelolaan masjid sejalan dengan kepedu lian akan lingkungan dan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya.

Menurut dia, DMI berencana mengadakan pertemuan pengurus masjid se-Jabodetabek. Pertemuan ini akan membahas tentang pe ngelolaan masjid dan usaha untuk menjaga keberlangsungan air dan lingkungan. Masjid Az- Zikra disebut sebagai masjid yang sudah menerapkan konsep go-greenini. Sementara, Masjid Islamic Center yang berada di Jakarta Utara sedang dalam proses menuju eco-masjid.

Secara keseluruhan, masjid di Indonesia belum go-green. Ini tidak lepas dari kebijakan masing-masing pemerintah daerah- nya juga. Pemerintah daerah sendiri juga belum banyak yang peduli meskipun ini sudah jadi per- masalahan dunia, ujarnya.

Sudah dicontohkan Nabi

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasarudin Umar menyebut eco-masjidsudah ditunjukkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi disebut pernah menyuruh sahabat dan umatnya untuk tetap menanam pohon meskipun esok dunia akan kiamat. Saat terjadi peperangan, para sahabat dilarang untuk mematahkan ranting pohon serta mencabut batang dan akarnya.

Nabi selalu menekankan penghijauan. Beliau juga meng- gagas pengairan. Jadi, rumput- rumput termasuk amal manakala dimakan oleh binatang,ujar dia.

Menurut dia, orang yang menanam dan merawat rumput lalu dimakan oleh binatang sama dengan sedekah. Menghijaukan masjid ini jadinya sangat mulia,tambah dia. Ia menyebut kata eco dalam eco-masjidberarti lingkung an. Lingkungan yang perlu diperhatikan bukan hanya hijau atau pepohonan saja tapi juga bersahabat dengan alam, sumber mata air.

Masjid pun harus menjadi rah mat bagi ekosistem di sekitarnya. Nabi SAW disebut menjadi orang yang sangat memerhatikan lingkungan. Ia pernah berkata, Jangan kalian membuang kotoran di air yang mengalir, seperti sungai. Sungai jangan sampai dijadikan tempat sampah umum atau tempat pembuangan umum. Rasulullah pun menyebut jangan membuang kotoran di air terge- nang karena berpotensi menjadi wabah penyakit.

Artinya, Nabi mengajak untuk menjaga ekosistem. Masjid berfungsi untuk menyucikan sek- itarnya, ujarnya.

Untuk itu, mantan wakil menteri agama itu menjelaskan, Istiqlal akan direnovasi untuk men- jalankan kepedulian lingkungan ini. Ia ingin Masjid Istiqlal menjadi contoh eco-masjid yang bagus dan bersahabat. (ed:a syalaby ichsan)


Terkait


×