ILUSTRASI Khalid bin Walid berhasil memimpin ekspansi wilayah Islam hingga ke Irak dan Syam. | DOK PXHERE
31 Jul 2021, 05:40 WIB

Khalid bin Walid Pahlawan Islam

Nabi Muhammad SAW menyebut Khalid bin Walid sebagai salah satu pedang Allah Ta’ala.

OLEH HASANUL RIZQA

Sebelum hatinya disinari hidayat, lelaki ini berperan besar dalam kekalahah Muslimin di Perang Uhud. Sesudah berislam, sang jenderal kavaleri menjadi pejuang tangguh di jalan Allah. Dialah Khalid bin Walid.

‘Pedang Allah yang Terhunus’

Dalam menyebarkan risalah Ilahi, Nabi Muhammad SAW memiliki banyak pengikut yang setia. Para sahabat, begitu mereka disebut, merupakan generasi terbaik dalam sejarah Islam. Hal itu ditegaskan langsung oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku.” (HR Bukhari-Muslim).

Terkait

Dalam menerima Islam, tiap sahabat mengalami proses yang cenderung berbeda-beda. Ada yang segera berislam begitu mengetahui bahwa Muhammad SAW telah menyatakan kenabian dan kerasulannya. Untuk menyebut beberapa contoh, di antara mereka yang seperti itu ialah Abu Bakar ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Sementara, ada pula yang sempat melalui jalan “berliku” sebelum hatinya disinari hidayah Allah SWT.

Salah seorang sahabat yang demikian ialah Khalid bin Walid. Sebelum menjadi seorang Muslim, dirinya sangat memusuhi Islam. Ia merupakan tokoh kunci di balik kemenangan kaum musyrikin dalam Perang Uhud. Bahkan, nyaris saja sekelompok prajurit yang dipimpinnya menjebol pertahanan Muslimin di Perang Khandaq. Upayanya gagal karena angin topan terlebih dahulu datang menerjang. Madinah pun tetap aman hingga akhir pertempuran tersebut.

Nama lengkapnya ialah Khalid bin Walid bin Mughirah bin Abdullah bin Umar. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah SAW pada Murrah bin Ka’ab. Oleh kawan-kawannya, ia kerap disapa dengan sebutan Abu Sulaiman atau Abu Walid.

Lelaki yang berperawakan gagah ini lahir 30 tahun sebelum Hijriyah atau kira-kira pada 592 Masehi. Ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi utusan Allah, Khalid berumur 27 tahun. Beda usia antara dirinya dan Nabi SAW sekitar 22 tahun.

Secara kekerabatan, putra Walid bin Mughirah tersebut tidak begitu jauh dengan al-Musthafa. Anak saudagar yang kaya raya itu memiliki ibu bernama Lubabah ash-Shughra binti Harits. Ummul mukminin Maimunah binti Harits merupakan saudara kandung Lubabah. Adapun Lubabah al-Kubra merupakan istri paman Nabi SAW, Abbas bin Abdul Muthalib. Menurut Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah fii Tamyiz ash-Shahabah, ibunda Khalid bin Walid wafat dalam keadaan memeluk Islam.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Manshur Abdul Hakim dalam Khalid bin al-Walid Saifullah al-Maslul menjelaskan, Khalid mempunyai cukup banyak saudara kandung. Salah seorang di antaranya ialah al-Walid. Melaluinya, petunjuk Allah Ta’ala meneranginya sehingga berislam.

Manshur menuturkan, Walid turut serta dalam Perang Badar. Bersama dengan Khalid, duo bersaudara itu termasuk barisan kaum musyrikin. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Islam meraih kemenangan yang gemilang. Walid menjadi salah satu tawanan.

Disebutkan bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Abdullah bin Jahsy, sahabat yang menawan Walid, “Janganlah kamu menerima tebusan (dari kaum musyrikin) untuk Walid kecuali syakkah ayahnya.” Syakkah merupakan sejenis baju besi yang lebar dan dilengkapi dengan sebilah pedang. Adapun nilai syakkah yang dimaksud mencapai 100 dinar.

Khalid menolak syarat yang disampaikan Abdullah bin Jahsy. Namun, Hisyam bin Walid menerimanya. Maka bebaslah Walid dengan tebusan tersebut.

Betapa terkejutnya keluarga Walid bin Mughirah di Makkah begitu mengetahui Walid ternyata sudah memeluk Islam. Hisyam bertanya kepadanya, “Jadi engkau masuk Islam sebelum ditebus?”

“Aku tidak mau kalian mengira bahwa keadaanku menderita ketika ditawan Rasulullah SAW,” jawab Walid tanpa ragu. Mereka lantas menahannya di Makkah.

Akan tetapi, Walid kemudian berhasil melarikan diri. Dengan susah payah, dia sampai ke Madinah untuk terus berkhidmat di sisi Nabi SAW. Saudara kandung Khalid ini termasuk yang menyertai beliau dalam Umratul Qadha, 'umrah yang tertunda’ yakni pada tahun ketujuh Hijriah.

photo
ILUSTRASI Sahabat Nabi SAW, Khalid bin Walid, merupakan jenderal kavaleri kebanggaan musyrikin Quraisy sebelum dirinya memeluk Islam. Sejak menjadi Muslim, tak satu pun jihad yang tidak dimenangkannya. - (DOK PXHERE)

Masuk Islamnya

Kira-kira enam tahun sejak hijrahnya Nabi Muhammad SAW, Perjanjian Hudaibiyah disepakati antara kaum Muslimin dan musyrikin Quraisy. Menurut kesepakatan itu, umat Islam bisa melaksanakan ziarah ke Ka’bah satu tahun sesudah Hudaibiyah ditandatangani. Inilah yang disebut sebagai Umratul Qadha, ‘umrah yang tertunda'.

Ketika waktu yang dinantikan tiba, Rasulullah SAW dan para pengikutnya berangkat dari Madinah ke Masjidil Haram guna menunaikan ibadah itu. Demi mematuhi Perjanjian Hudaibiyah, orang-orang Quraisy pun menyingkir sejenak ke perbukitan sekitar Makkah. Dalam bayangan mereka, al-Musthafa dan para sahabatnya mengalami kepayahan setelah bertahun silam diusir dari kota ini.

Faktanya tidak sesuai prediksi mereka. Ternyata, jumlah umat Nabi SAW luar biasa banyaknya. Total jamaah Umratul Qadha ditaksir mencapai 2.000 orang.

Salah seorang dari jamaah itu ialah Walid bin Walid. Dalam perjalanan, Rasulullah SAW mendekati saudara kandung dedengkot Quraisy, Khalid bin Walid, itu. “Wahai Walid, kalaulah Khalid menemui kami, maka kami akan menghormatinya. Tidak sepantasnya orang berakal (berpikiran terbuka) seperti dirinya tidak mempunyai penilaian tentang Islam,” kata Nabi SAW.

“Semoga Allah memberikan kepadanya hidayah,” jawab Walid.

“Seandainya Khalid menggunakan kehebatan dan ketangguhannya untuk Islam, niscaya itu lebih baik baginya,” sambung Nabi SAW lagi.

Merasa terpanggil oleh kata-kata Rasulullah itu, Walid segera menulis surat kepada saudaranya tersebut sesudah prosesi umrah. Dalam suratnya, sahabat Nabi SAW itu berupaya meyakinkan Khalid tentang pentingnya melihat risalah Islam dari perspektif nalar dan pikirannya.

 
Dalam suratnya, sahabat Nabi SAW itu berupaya meyakinkan Khalid tentang pentingnya melihat risalah Islam dari perspektif nalar dan pikirannya.
 
 

Lagi pula, ia tahu betul bahwa Khalid ikut dalam rombongan Quraisy yang menepi ke perbukitan Makkah. Alhasil, abangnya itu pasti melihat dengan mata kepala sendiri betapa luar biasanya kejayaan Islam, yang tergambar dari pemandangan Umratul Qadha.

Surat dari Walid itu menegaskan perhatian Rasulullah SAW untuk Khalid. Sementara, hati sang jenderal kebanggaan Quraisy itu mulai tergugah oleh Islam. Setelah ikut menyaksikan betapa banyak umat Islam yang mengikuti umrah, ia semakin tidak melihat alasan untuk tidak mengagumi Nabi SAW.

Apalagi, besarnya kekuatan Muslimin itu justru tidak dimanfaatkan secara aji mumpung oleh Muhammad SAW untuk, umpamanya, menyerang dan menghabisi orang-orang Quraisy. Padahal, kaum yang sejak awal memusuhi beliau itu kini sedang dalam keadaan lemah. Ya, al-Musthafa menepati janjinya saat memasuki Makkah, sesuai dengan Kesepakatan Hudaibiyah.

Cukup lama juga Khalid merenungi keadaan ini. Maka sesudah Umratul Qadha usai dan musyrikin Makkah kembali ke rumah masing-masing, dirinya tidak lagi bisa menahan gejolak dalam dadanya untuk segera berislam.

Berdirilah ia di tengah pemuka Quraisy dan berseru, “Sekarang nyata sudah bagi setiap orang yang berpikiran sehat bahwa Muhammad bukanlah seorang tukang sihir! Dia juga bukan seorang penyair! Apa yang dikatakannya adalah firman Tuhan semesta alam. Setiap orang yang punya hati nurani dan berakal pasti ingin menjadi pengikutnya!”

Seorang tokoh Quraisy menimpali, “Engkau telah murtad, wahai Khalid! Tidakkah engkau ingat bagaimana pengikut Muhammad telah melukai ayahmu!? Pamanmu dan sepupumu dibunuh mereka dalam Perang Badar!?”

“Yang kau katakan hanya didorong semangat fanatisme buta! Terserah kalian mau berkata apa, bagiku kebenaran sudah jelas! Demi Allah aku mengikuti agama Islam,” tegasnya.

Dalam perjalanan ke Madinah, Khalid berpapasan dengan Amr bin Ash yang ternyata juga sedang menuju ke kota yang sama. “Mau ke mana engkau, Abu Sulaiman?” tanyanya.

“Aku akan menemui Muhammad. Demi Allah, dia benar-benar utusan-Nya. Aku hendak masuk Islam,” jawab Khalid.

“Demi Allah, aku pun juga hendak menemui Muhammad untuk menyatakan keislaman,” timpal Amr.

Keduanya lantas berjumpa lagi Utsman bin Talhah yang dikenal sebagai seorang Quraisy penjaga Ka’bah. Maka ketiganya pun tiba di Madinah dan disambut dengan baik oleh Rasulullah SAW. “Sungguh aku telah mengetahui bahwa engkau memiliki akal sehat. Dan harapanku, akal itu dapat menuntunmu kepada jalan yang lurus,” kata Nabi SAW saat menyalami Khalid.

Sesudah ketiga lelaki Quraisy itu berikrar dua kalimat syahadat, Rasulullah SAW mendoakan mereka. Saat tiba gilirannya, Khalid berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, mintakanlah ampunan dari Allah untukku. Sebab, begitu banyak perbuatanku di masa lalu yang menghalangi jalan Allah.”

“Sungguh, keislaman seseorang telah menghapus segala perbuatannya di masa lampau,” tegas Nabi SAW.

Beliau juga berpesan kepada Muslimin yang menyaksikan keislaman mereka agar memperlakukan ketiganya seperti saudara sendiri. Khusus tentang Khalid, Nabi SAW mengatakan, “Janganlah kalian menyakiti Khalid karena sesungguhnya ia adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang terhunus pada orang-orang kafir.”

Rasulullah SAW juga menyanjung Khalid dengan keputusannya. Sebagai contoh, ia ditunjuk beliau menjadi panglima perang dalam beberapa pertempuran. Padahal, di sekitarnya terdapat sahabat-sahabat lain yang lebih dahulu masuk Islam daripada sosok berjulukan Abu Sulaiman itu.

 
Satu peristiwa yang ikut mengharumkan nama Khalid ialah Perang Mu’tah. Inilah pertempuran pertama yang memperhadapkan kekuatan Arab-Islam dengan Barat.
 
 

Satu peristiwa yang ikut mengharumkan nama Khalid ialah Perang Mu’tah. Inilah pertempuran pertama yang memperhadapkan kekuatan Arab-Islam dengan Barat (Eropa). Mu’tah merupakan sebuah desa di tepi Sungai Jordan, Syam.

Sebelumnya, Rasulullah SAW telah mengirimkan delegasi ke berbagai kawasan untuk mengajak penguasa setempat agar memeluk Islam. Satu utusan dikirim kepada Syurahbil bin ‘Amr, gubernur Bashrah yang saat itu tunduk di bawah Imperium Romawi Timur (Bizantium).

Delegasi yang diutus Nabi SAW tidak hanya ditolak. Syurahbil bahkan membunuhnya. Tindakan brutal itu dipandang sebagai deklarasi perang. Pada tahun kedelapan Hijriyah, Nabi SAW menyiapkan tiga ribu pasukan untuk menghadapi balatentara Syurahbil. Sementara, beliau tetap di Madinah.

Sebelum pasukan itu berangkat, mereka menerima amanah dari Nabi SAW. Beliau menetapkan, pemimpin mereka adalah Zaid bin Haritsah. Jika dia gugur, penggantinya adalah Ja’far bin Abi Thalib. Jika Ja’far gugur, penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah. Jika Abdullah gugur juga, Muslimin wajib menunjuk salah seorang dari mereka untuk menjadi pemimpin.


×