Seorang petani memperlihatkan tanaman jagung yang rusak terserang hama tikus di Desa Tarailu, Mamuju, Sulawesi Barat, Selasa (27/7/2021). | ANTARA FOTO/AKBAR TADO
29 Jul 2021, 03:45 WIB

Krisis Regenerasi Petani

Bagaimana pemerintah dan lembaga pendidikan mampu mencetak regenerasi petani milenial.

ARY BAKHTIAR, Dosen Prodi Agribisnis UMM

Sektor pertanian terus mengalami progres signifikan, terlepas dari tingginya tingkat konversi lahan produktif menjadi lahan permukiman dan industri. Saat ini, sektor pertanian masih memegang kunci ketersediaan pangan kala pandemi.

Data Kemenko Perekonomian menyebutkan, 64,13 persen perekonomian Indonesia ditopang sektor pertanian, disusul sektor industri, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan (Kemenko Perekonomian, 2021).

Laju produksi sektor pertanian, dapat diandalkan. Ketersediaan lahan produktif dan didukung SDM pertanian yang mumpuni  menjadi faktor kunci. Namun, terlepas dari capaian di atas, sektor pertanian menghadapi persoalan regenerasi petani.

Terkait

Data BPS (2018) mencatat, jumlah petani 27,7 juta orang dengan rentang usia 45-54 tahun (28,2 persen), 35-44 tahun (24 persen), 55-64 tahun (22 persen), di atas 65 tahun (13,8 persen), 25-34 tahun (10 persen).

 
Data BPS (2018) mencatat, jumlah petani 27,7 juta orang dengan rentang usia 45-54 tahun (28,2 persen),
 
 

Sementara itu, usia di bawah 25 tahun satu persen atau hanya 273 ribu dari jumlah petani yang ada. Jika berkaca pada data tersebut, dapat dipastikan dalam kurun tiga hingga lima tahun mendatang Indonesia dilanda krisis petani milenial.

Belum lagi, sudah berapa ratus petani gugur akibat  pandemi Covid-19. Kondisi ini diperparah minimnya penguasaan teknologi sebagian besar SDM pertanian, dan tingginya laju urbanisasi setiap tahunnya.

Salah satu faktornya, pekerjaan petani dianggap tak dapat menghasilkan untung besar bagi mayoritas penduduk daerah, sehingga mereka lebih memilih bermigrasi ke kota dengan harapan, mendapatkan pekerjaan yang lebih menjanjikan.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian, harus segera bersikap soal regenerasi petani ini. Bukan tidak mungkin, pada 2050, pekerjaan petani bisa jadi tinggal nama. Program yang ditujukan bagi petani milenial agar lebih digencarkan.

Pelatihan yang didasarkan pada kebutuhan sasaran petani mesti lebih diintensifkan. Sejauh ini, program peningkatan petani milenial tampaknya belum efektif, meskipun beberapa di antaranya berhasil membuka lapangan pekerjaan.

 
Salah satu faktornya, pekerjaan petani dianggap tak dapat menghasilkan untung besar bagi mayoritas penduduk daerah, sehingga mereka lebih memilih bermigrasi ke kota.
 
 

Adanya kurikulum pelatihan yang pas dengan kebutuhan petani milenial saat ini, bisa juga sebagai pemicu semangat gerenasi milenial atas pertanian sekarang ini. Orientasinya bukan asal jalan programnya, melainkan bisa diterapkan.

Beberapa lembaga pelatihan pertanian di daerah terlihat belum optimal. Mungkin lebih pas jika berkolaborasi dengan program kartu Prakerja. Harapannya, masyarakat di kota ataupun daerah, tak lagi bingung mencari lembaga pelatihan sesuai bidangnya (pertanian).

Kualitas SDM

Harapan cukup besar terhadap peningkatan jumlah petani milenial perlu disampingkan dahulu karena fokus terbesar dalam penataan SDM pertanian ke depan tidak hanya pada jumlah, tetapi sudah harus berorientasi pada kualitas SDM.

Apalah artinya jika jumlah petani milenial cukup banyak, tetapi kualitasnya jauh dibandingkan negara berkembang lainnya. Hal yang perlu dicanangkan kini, bagaimana pemerintah dan lembaga pendidikan mampu mencetak regenerasi petani milenial.

Teknologi pertanian yang terus mengalami pembaruan, menjadi tantangan bagi petani milenial. Jika tidak mampu mengendalikan laju pertumbuhan, kekhawatiran terbesarnya adalah kehilangan peran, bukan malah menjadi partner dalam bekerja, melainkan menjadi pesaing.

Pola pikir lama

Kita harus berani mengubah pola pikir terhadap petani. Pola pikir lama yang terus dipegang, yakni petani itu kotor, kumuh, dan jauh dari kesuksesan meskipun tidak semua orang beranggapan demikian.

Petani dulu memang berbeda dengan saat ini, ketika kita mampu mengendalikan aspek hulu-hilir usaha tani, maka di situlah kesuksesan dalam bidang pertanian dapat tercapai.

 
Petani dulu memang berbeda dengan saat ini, ketika kita mampu mengendalikan aspek hulu-hilir usaha tani, maka di situlah kesuksesan dalam bidang pertanian dapat tercapai.
 
 

Penguasaan pada aspek perencanaan usaha tani, manajemen usaha, aspek teknis (pengendalian hama dan perawatan rutin), serta penanganan pascapanen menjadi tujuan petani milenial dalam mengembangkan pertanian pada masa mendatang.

Selain beberapa faktor di atas, kunci keberhasilan usaha tani, di antaranya dukungan pemerintah dalam pembinaan SDM petani milenial dan permodalan melalui stimulus KUR khusus petani milenial.

Dukungan pembinaan dalam hal ini adalah pelatihan teknis berusaha tani pada setiap pemuda, baik di desa maupun perkotaan yang spesifik sesuai kebutuhan dan keinginan mereka. Misalnya, pemuda desa bisa fokus untuk teknis on farm (teknis penanaman dan perawatan), yang di kota fokus off farm (pengolahan pascapanen).

Dukungan permodalan melalui stimulus KUR khusus petani milenial sebaiknya, lebih difokuskan pada kemudahan akses persyaratan pengajuan dana usaha taninya.

Pada umumnya, ada syarat-syarat yang belum dapat dipenuhi petani milenial, misalnya surat keterangan usaha dan batas minimal usia pengajuan 21 tahun atau di bawah 21 tahun, tetapi sudah menikah. Ini kerap menjadi sandungan milenial mendapatkan KUR.

Alangkah baiknya dalam KUR khusus petani milenial, persyaratan tersebut bisa digantikan persyaratan lain. Dengan begitu, mereka yakin dengan usaha pertanian. Petani milenial pun dapat menyerap tenaga kerja dan meraih kesuksesan pada masa depan. 


×