Becak terparkir di tengah lengangnya kawasan wisata Malioboro, Yogyakarta, Ahad (25/7/2021). (ilustrasi) | Wihdan Hidayat / Republika
28 Jul 2021, 03:45 WIB

Bilal, Pasien Covid-19 yang Meninggal di Atas Becaknya

Dinas Sosial tak mencatat Bilal masuk kriteria orang telantar, meskipun tak punya rumah di Patehan.

OLEH WAHYU SURYANA, SILVY DIAN SETIAWAN

Sebuah foto pintu masuk Bangsal Magangan Kraton Yogyakarta viral beberapa waktu lalu. Foto itu tersebar di media sosial dengan mencantumkan keterangan yang menyayat pembaca.

Seorang tukang becak, meninggal di atas becaknya, tepat di samping pintu masuk Bangsal Magangan di Jalan Magangan Kulon, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. Republika menelusuri kembali peristiwa yang membuat heboh dunia maya itu, Selasa (27/7).

Bilal, nama tukang becak yang ditemukan sudah meninggal di atas becaknya pada Senin (19/7) itu berusia 84 tahun. Saban hari, ia memang tidur di atas becaknya.

Terkait

Bilal tak punya tempat tinggal, meski memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai warga RT 03, Kelurahan Patehan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta. Pria renta yang sehari-hari bekerja dengan mengayuh becak itu meninggal terpapar Covid-19.

Tak ada yang bakal tahu Bilal tepapar Covid-19 sampai akhir hayatnya. Bahkan, kepulangannya menghadap Sang Khalik juga tidak diketahui pasti. Bilal baru diketahui sudah terdiam kaku selepas Maghrib. Ia diketahui sudah meninggal dari salah seorang warga yang berbaik hati ingin memberinya makanan. Namun, Bilal sudah terlanjur tak bereaksi.

Penemuan Bilal yang sudah tak bernyawa di atas becak kemudian dilaporkan ke ketua RT dan Babinkamtibmas Polsek Kraton, Kota Yogyakarta. Dari pihak aparat dilakukan tes antigen. Barulah diketahui Pak Bilal terpapar Covid-19.

Lurah Patehan, Handani, sempat mendatangi kediaman anak perempuan Bilal, Siti Lestari, di Kabupaten Bantul. Namun, dari keterangan Handani, anak dan menantu Bilal mengaku tidak memiliki biaya untuk melakukan penguburan jenazah sang ayah.

photo
Gambar yang dilansir Polsek Keraton, DI Yogyakarta menunjukkan Bilal di becaknya. - (Dok Polsek Keraton)

Handani kemudian mengirim surat ke Dinas Sosial Kota Yogyakarta untuk meminta bantuan. Namun, dia harus kecewa karena tak ada bantuan untuk biaya penguburan Bilal. Data Dinas Sosial tak mencatat Bilal masuk kriteria orang telantar, meskipun tak memiliki rumah di Patehan.

Padahal, jenazah Bilal sudah tiga hari di RSUD Kota Yogyakarta. Atas dasar kemanusiaan, Handani mencari makam dan berinisiatif memakai uang pribadinya Rp 5 juta untuk penguburan Bilal di Pemakaman Karanganyar, Kecamatan Mergangsan.

"Karena saya memang harus mengambil satu keputusan dan sudah mentok, keluarga kurang merespons, tapi bagaimana caranya Pak Bilal agar bisa dikuburkan karena sudah tiga hari di rumah sakit," kata Handani kepada Republika, Selasa (27/7).

Apalagi, lanjut Handani, sesuai prosedur memang jenazah yang terpapar Covid-19 sebenarnya harus segera dikebumikan setidaknya 1x24 jam. Karenanya, walaupun sempat kebingungan, ia terus mencari pemakaman yang mudah, murah, dan cepat.

Setelah mendapatkan lokasi, Handani meminta bantuan Tim Kubur Cepat BPBD Kota Yogyakarta untuk membantu mengurus jenazah Bilal.

 
Saya tidak memikirkan uang itu siapa yang mengganti, saya hanya berharap kita semua bisa lebih baik dalam melayani masyarakat.
HANDANI, Lurah Patehan 
 

Ia mengaku bersyukur, pada Kamis (22/7) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, jenazah pria tua pengayuh becak itu akhirnya bisa dimakamkan. "Saya merasa lega. Saya tidak memikirkan uang itu siapa yang mengganti, saya hanya berharap kita semua bisa lebih baik dalam melayani masyarakat," ujar Handani.

Sementara, Kepala Dinas Sosial DI Yogyakarta, Endang Patmintarsih menuturkan, pihaknya tidak dapat menanggung biaya penguburan atau bedah bumi bagi Bilal karena tidak masuk kategori orang telantar. "Kalau untuk bedah bumi penguburan Covid-19 di BPBD, dinsos untuk orang telantar," kata Endang kepada Republika, Selasa (27/7).

Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat mengaku, biaya bedah bumi ada di masing-masing wilayah dan dinas sosial. "Saya (BPBD) di pemakamannya, kita evakuasi dari rumah sakit sampai ke pemakaman setelah pemulasaraan di rumah sakit," kata Nur kepada Republika.

Ia menuturkan, pencarian lahan pemakaman ini seharusnya dilakukan warga setempat atau keluarga. "Lingkungan juga harus tanggap. Biasanya kalau ada yang meninggal, pihak kampung bisa menanggung biaya dengan menggunakan kas RT/RW. Rumah sakit menunggu, kita juga belum dapat informasi apa-apa di mana mau dimakamkan," kata Nur.


×