Seorang nasabah pemegang kartu kredit CIMB Niaga melalui gagetnya sedang mengubah transaksi menjadi cicilan 0% melalui OCTO Mobile di Jakarta, Rabu (24/3/2021). Program mengubah transaksi menjadi cicilan 0% ini berlaku hingga 30 Juni 2021 mendatang, hal i | REPUBLIKA
27 Jul 2021, 06:00 WIB

Inovasi Kartu Kredit Digital Berbasis Digital Signature

BRI berinovasi mengembangkan akuisisi kartu kredit berbasis digital.

JAKARTA — Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor perbankan mampu mencatatkan pertumbuhan bisnis kartu kredit signifikan selama pandemi Covid-19. Hal ini mengingat pembatasan mobilitas dan aktivitas masyarakat cukup menjadi tantangan dalam ekspansi bisnis kartu kredit perbankan.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat per akhir Juni 2021, tercatat ENR (end net receivables) tumbuh 12,8 persen jika dibandingkan dengan akhir tahun lalu (year to date). Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto mengatakan, bisnis kartu kredit BRI mampu mencatatkan pertumbuhan positif di tengah pandemi Covid-19.

“Pada paruh kedua hingga akhir tahun ini, kami optimistis bisnis kartu kredit BRI tetap akan mencatatkan pertumbuhan positif,” kata Aestika ketika dihubungi Republika di Jakarta, Senin (26/7).

Menurut Aestika, BRI berupaya mengembangkan bisnis kartu kredit melalui inovasi, di antaranya pengembangan akuisisi kartu kredit berbasis digital dengan mekanisme digital signature. Saat ini, perseroan telah memiliki dua produk kartu kredit berbasis digital, yakni Ceria dan Paylater.

Terkait

“Kedua produk yang baru diluncurkan pada akhir 2019 nyatanya disambut baik oleh masyarakat. Hal tersebut tecermin dari outstanding keduanya yang meningkat sembilan kali lipat secara yoy,” ujar Aestika.

Ke depan, BRI berupaya mengembangkan bisnis kartu kredit secara sehat dengan beberapa strategi, di antaranya meningkatkan kerja sama co-brand untuk melayani berbagai segmen. Termasuk meningkatkan penetrasi yang lebih agresif sebagai produk digital lending.

“Dengan strategi tersebut, hingga akhir tahun BRI menargetkan pertumbuhan sales volume kartu kredit sebesar 11 persen yoy,” kata Aestika menambahkan.

Bank BUMN lainnya, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, menargetkan pertumbuhan bisnis kartu kredit tumbuh kisaran enam persen dengan kenaikan volume sebesar 10 persen.

SVP Credit Card Group Bank Mandiri Lila Noya mengatakan, kinerja kartu kredit telah mulai membaik pada kuartal kedua tahun ini. Hal ini seiring dengan mobilitas yang longgar dan kenaikan kepercayaan konsumsi masyarakat.

“Perseroan masih akan selektif dalam mengakuisisi nasabah kartu kredit baru untuk menjaga kualitas produk,” kata Lila. Ia mengatakan, Bank Mandiri meningkatkan kinerja untuk mengerek penggunaan kartu kredit dengan terus melakukan ekspansi jumlah merchant.

"Kami terus fokus pada pertumbuhan volume transaksi pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, seperti transaksi di merchant e-commerce, groceries, health services,” ujar Lila.

Selain itu, Lila menyampaikan, Bank Mandiri juga memiliki produk baru power cash bagi nasabah kartu kredit. Namun, Bank Mandiri hanya menawarkan ke selected card holder, tidak semua dapat mengakses produk ini.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk juga mencatatkan pertumbuhan volume transaksi kartu kredit. Bank pelat merah itu mencatatkan volume transaksi sekitar 14 persen pada Mei 2021 jika dibandingkan dengan posisi yang sama tahun lalu.

“Pada saat ini, sektor transaksi online (e-commerce) menjadi sector dominan volume transaksi kartu kredit. Meskipun secara umum, seluruh sektor sangat terdampak akibat PPKM,” kata Sekretaris Perusahaan BNI Mucharom.

Mucharom mengatakan, target agar volume kartu kredit BNI pada akhir 2021 lebih tinggi dua persen terhadap tahun 2020. Karena itu, BNI menyiapkan upaya untuk mencapai target.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), volume belanja kartu kredit bulanan per April 2021 sebanyak 23,25 juta transaksi, dengan pertumbuhan 20,07 persen secara tahunan. Adapun tren ini sudah berbalik dari bulan sebelumnya yang tercatat terkontraksi 10,5 persen.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), baki kartu kredit sebesar Rp 73,55 triliun, masih terkontraksi 2,9 persen secara tahunan. Adapun secara kualitas kredit masih terjaga dengan rasio kredit bermasalah pada posisi 2,76 persen.


×