Pebasket Prancis Evan Fournier (tengah) membawa bola yang dihalangi pebasket Amerika Serikat Jrue Holiday (kiri) dalam pertandingan Olimpiade Tokyo di Lapangan Basket Saitama Super Arena 25 Juli 2021. | EPA/MICHAEL REYNOLDS
27 Jul 2021, 05:40 WIB

Runtuhnya Hegemoni Basket Amerika di Olimpiade

Prancis menghentikan rekor tak terkalahkan tim basket Amerika di Olimpiade yang sudah bertahan 17 tahun.

TOKYO  — Dua puluh lima catatan kemenangan tim basket Amerika Serikat di pentas Olimpiade dalam rentang waktu selama 17 tahun itu terhenti di tangan Prancis. Hegemoni panjang tim basket Paman Sam itu runtuh setelah Prancis menang dengan hasil akhir 83-76 di Saitama Super Arena, Jepang, Ahad (25/7) malam WIB.

Kemenangan itu tak disambut dengan euforia yang berlebihan oleh para pemain Prancis. Evan Fournier, shooting guard timnas Prancis yang membela klub NBA Boston Celtic hanya melepaskan senyuman gembira—tanpa mencapai ekstase untuk meluapkan kemenangannya dari Amerika.

Pengalaman Fournier berkarier di NBA telah meyakinkannya bahwa timnas Amerika bisa dikalahkan oleh siapa saja. Singkatnya, ia memandang Amerika adalah lawan yang biasa meski dihuni oleh sejumlah pebasket ternama NBA.

“Mereka lebih baik secara individu. tetapi dapat dikalahkan sebagai sebuah tim,” kata Fournier dilansir dari laman NBA, Senin (26/7).

Terkait

Pada pertandingan tersebut, Fournier memimpin kemenangan Prancis dengan sumbangan 28 poin. Penyumbang skor lainnya diikuti oleh Rudy Gobert dengan mencetak 14 poin dan Nando de Colo (13 poin).

Bagi Amerika, Jrue Holiday—yang pekan lalu baru membawa Milwaukee Bucks menjuarai NBA—menjadi pendulang angka terbanyak dengan 18 poin dan tujuh rebound, diikuti dwiganda 12 poin dan 10 rebound milik Bam Adebayo.

Sementara, Damian Lillard hanya mencetak 11 poin dan Kevin Durant 10 poin, di tengah akurasi tembakan terbuka Amerika yang hanya mencapai 36 persen dibandingkan 46 persen milik Prancis.

Amerika sebetulnya memimpin relatif meyakinkan 45-37 hingga dua kuarter pertama, tapi Prancis tampil efisien untuk memulai kebangkitan pada kuarter ketiga.

Sebuah tembakan tiga angka dari Thomas Heurtel pada sisa waktu dua menit 42 detik kuarter ketiga membuat Prancis berbalik memimpin 55-54. Heurtel melesakkan tripoin lagi untuk menutup kuarter ketiga dalam kedudukan 62-56 bagi Prancis.

Amerika sempat bangkit pada separuh kuarter keempat dan memimpin lagi hingga 69-65 lewat tembakan dua angka Zach LaVine dan keunggulan itu susah payah dipertahankan hingga raib pada sisa waktu 57 detik kala Guerschon Yabusele melesakkan tripoin untuk Prancis yang kembali unggul 76-74.

Alih-alih bangkit, Amerika terjebak beberapa foul play yang membuat Prancis melenggang mengamankan kemenangan 83-76 berkat kesuksesan memanfaatkan tujuh dari delapan kesempatan tembakan bebas.

Kekalahan tim basket Amerika ini menjadi catatan kali keenam dari 144 pertandingan yang telah dilakoninya dalam sejarah Olimpiade. Menyikapi kekalahan ini, pelatih Amerika, Gregg Popovich, tak mau menyalahkan pihak lain. Dengan berusaha membesarkan hati, ia mengatakan, akan sangat angkuh jika tim basket Amerika itu harus selalu memenangkan pertandingan.

“Kami harus bekerja untuk itu, sama seperti orang lain. Selama 40 menit itu, mereka bermain lebih baik dari kami,” ujar Popovich seusai pertandingan.

Popovich tak menampik ada perasaan kecewa setelah timnya menelan kekalahan pada penampilan awal di Olimpiade kali ini. Kekalahan itu sesungguhnya tidak langsung menghapuskan Amerika sebagai tim unggulan peraih medali emas. Namun, kekalahan itu mulai memunculkan keraguan tentang peluang mereka untuk menjadi yang terbaik di turnamen ini.

Kekalahan tersebut sebenarnya tak terlalu mengherankan jika melihat hasil pertandingan pemanasan sebelum Olimpiade awal bulan ini di Las Vegas. Mereka menelan dua kekalahan beruntun, yaitu dari Australia dan Nigeria.

Popovich sadar bahwa timnya harus segera berbenah. Pasukannya harus menemukan lebih banyak lagi konsistensi jika ingin mempertahankan gelar. Perbaikan menyuluruh harus dilakukan sebelum menghadapi Iran pada laga kedua.

Popovich juga punya alasan Prancis memang bukan tim sembarangan. Mereka diisi oleh pemain bintang NBA, seperti Fournier dan Rudy Gobert. “Prancis memiliki staf pelatih yang hebat, pemain NBA, pemain berbakat lainnya yang bermain di Eropa yang telah bersama untuk waktu yang lama,” kata Popovich.

Rekor kemenangan AS sudah terhenti. Kini tinggal menanti apakah mereka mampu menebus kekecewaan itu dengan kemenangan demi kemenangan berikutnya sekaligus menjaga peluang mempertahankan gelar.


×