Foto ilustrasi yang menggambarkan peran ulama dalam menghadapi pandemi Covid-19. | Thoudy Badai/Republika
25 Jul 2021, 03:43 WIB

Gerak Ulama Hadapi Wabah

Gerakan ini untuk memasifkan vaksinasi dan memulihkan ekonomi para dai.

OLEH DEA ALVI SORAYA

MUI merilis Gerakan Nasional Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi. Gerakan ini akan melibatkan ormas Islam dan filantropi untuk memasifkan vaksinasi dan memulihkan ekonomi para dai. Patut dinanti gerakan para ulama dalam memutus mata rantai pandemi khususnya melalui kolaborasi dan literasi.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meluncurkan Gerakan Nasional MUI Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi 2021. Gerakan ini bertujuan untuk membantu pemerintah menanggulangi dampak Covid-19 dan mendorong pemulihan ekonomi.

Gerakan nasional itu diluncurkan di Kota Tua, Jakarta, pada 12 Juli sebagai lanjutan dari arahan Wakil Presiden Prof KH Maruf Amin. Gerakan itu bertujuan untuk bersama-sama pemerintah dalam percepatan penanganan dampak pandemi Covid-19 dalam kesehatan dan ekonomi. 

Terkait

“Ini kan gerakan nasional, jadi menghimpun kekuatan dari seluruh elemen bangsa, baik itu pemerintah maupun nonpemerintah, seperti filantropi atau perusahaan swasta,” ujar Ketua Gernas MUI sekaligus Ketua Bidang Ekonomi MUI Lukmanul Hakim saat dihubungi Republika, Ahad (18/7). 

Dalam gerakan ini, MUI akan fokus pada upaya kolaborasi. Tujuannya demi menyinergikan semua kekuatan elemen bangsa dalam mengadapi pandemi yang bukan hanya melemahkan kesehatan, tapi juga ekonomi dan peribadatan. Salah satu prioritas Gernas, kata dia, adalah memaksimalkan sosialisasi vaksinasi agar lebih banyak menjangkau lapisan masyarakat.

 

Lukman juga menegaskan, gerakan ini mengupayakan agar program vaksinasi bisa merata di seluruh wilayah. Begitu juga dengan pengadaan alat kesehatan dan obat-obatan di beberapa daerah yang sempat mengalami kelangkaan.

“Masih banyak yang belum sadar tentang pentingnya vaksin, maka disini MUI akan turun untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya vaksin,”ujar dia. 

Adapun dari sisi ekonomi, kelompok yang diprioritaskan adalah mereka yang terdampak pandemi namun belum terdata sebagai kelompok yang berhak mendapatkan bantuan pemerintah. Kelompok ini kerap terlewat karena belum adanya pembaharuan data.

Dia menegaskan, hal ini menjadi masalah karena mereka tidak akan bisa terbantu jika hanya mengandalkan bantuan birokrasi pemerintah. Termasuk, kelompok dai, ustaz dan pengajar yang terimbas pandemi. Kelompok ini kerap mengandalkan pengajian dan kegiatan luring untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Majelis Ulama Indonesia (muipusat)

Untuk itu, Lukman mengusulkan, bantuan yang diberikan bagi mereka bukan berbentuk bantuan sosial (bansos) tetapi pemberian insentif. Pasalnya, mereka termasuk penggerak program pemerintah dalam penanggulangan pandemi. 

Dia menegaskan, Gernas MUI ini bukan bertujuan mengambil alih tugas atau program lembaga-lembaga yang telah ada. Gernas dibuat sebagai ruang konsolidasi agar seluruh elemen bangsa dapat maju bersama untuk menangani dampak pandemi.

Karena itu, ujar Lukman, Gernas bisa melakukan duplikasi dari kegiatan serupa, tapi akan disinergikan agar tidak terjadi penumpukan program. Mereka pun akan memperluas jaringan agar bantuan lebih luas terjangkau.

“Jadi kami akan mengandalkan data yang telah ada, ditambah data terbaru dari RT/RW dan melakukan maping bersama para filantropi dan pemerintah agar lebih banyak lagi masyarakat yang terbantu,” jelas dia. 

Menurut dia, pemerintah, mulai  kementerian hingga badan terkait, telah setuju untuk mendukung gerakan ini. Namun belum banyak lembaga nonpemerintah yang telah bergabung. “Kita masih menyasar lebih banyak lagi karena sampai saat ini masih lembaga besar saja yang sudah bergabung. Kita tahu sangat banyak lembaga kecil di masyarakat yang memiliki fokus dan kepedulian serupa, maka kita ingin memperluas sinergi,” ujar dia.

Ketua Umum Forum Zakat (FOZ) Bambang Suherman mengatakan, inisiatif MUI  untuk meluncurkan gerakan nasional adalah sebuah itikad baik yang perlu didukung. Menurut dia,  gerakan serupa telah  dilaksanakan oleh berbagai lembaga sejak awal pandemi hingga kini. 

“Jadi ini adalah bentuk penguatan atas gerakan yang sudah berjalan sebelumnya,” ujar Bambang saat dihubungi Republika, Senin (19/7). 

Dia menjelaskan, lembaga filantropi Islam akan berada dalam payung koordinasi bersama. Dia berharap, semua agenda dan aksi lapangan yang sudah ada maupun masih direncanakan bisa terkoordinasi dalam satu format pengelolaan formasi berbasis data.

Sebagai wadah konsolidasi, gerakan nasional yang digagas MUI ini dapat menjadi penyemangat untuk memperkuat gerakan-gerakan yang sudah berjalan.

Bambang menambahkan sebelumnya, FOZ juga telah bergabung dalam program MUI atas arahan Wakil Presiden Maaruf Amin. “Maka kalau di-launching kembali, maka ini adalah bentuk revitalisasi kerja sama yang sudah ada, dan ini akan menjadi energi untuk menggaungkan kembali semangat untuk membantu lebih banyak lapisan masyarakat,” ujar dia. 

Dia juga menyarankan pembukaan akses bagi MUI untuk dapat memperkuat program yang telah berjalan di basis-basis filantropi Islam, sehingga menambah semangat baru akan muncul dan memperluas jaringan demi menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Rumah Besar Gerakan Zakat (forumzakat)

Kepala Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa (DMC DD) Haryo Mojopahit menyambut baik inisiasi Majelis Ulama Indonesia untuk mengajak lembaga-lembaga filantropi dalam gerakan ini. Gerakan nasional diharapkan bisa menjadi upaya tambahan untuk mempercepat penyelesaian krisis multidimensi akibat pandemi.

“Karena jika hanya mengandalkan pemerintah saja tentu tidak akan cukup, maka perlu ada upaya bersama dari semua lapisan masyarakat,”jelas dia. 

Melalui sinergi ini, selain mempercepat proses pemulihan akibat pandemi, DD juga dapat memperluas jaringan melalui sumber daya MUI di berbagai daerah, termasuk wilayah-wilayah pedalaman yang belum terjangkau.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Menurut dia, ada dua isu yang fokus dalam penanganan gelombang pandemi kedua ini, yaitu sistem kesehatan dan isu di luar kesehatan. Dari sisi kesehatan, penyediaan ruang rawat, alat-alat kesehatan dan obat-obatan tentu menjadi prioritas demi membantu sistem kesehatan Indonesia untuk terus bertahan di tengah lonjakan kasus yang terjadi. 

Di luar sistem kesehatan, ada masalah dimana banyak pasien isolasi mandiri (isoman) yang kehilangan pekerjaan. Mereka butuh penghasilan dan bahan pangan. “Maka kita akan bersinergi disana terutama dalam program Food for Dhuafa jadi bagaimana kita menjamin ketersediaan makanan, logistik, obat-obat an bagi mereka yang isoman dan terdampak pandemi,” ujar dia.


×