Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika
18 Jul 2021, 08:57 WIB

Hadiri Garebek Besar Demak Tujuh Kali Dianggap Setara Haji

Hingga 1937, Garebek Besar di Masjid Demak masih ramai didatangi yang tak mampu naik haji.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Peraturan yang dikeluarkan pemerintah kolonial pada 1922 menetapkan kebutuhan minimal untuk naik haji sebesar 600 gulden-850 gulden. Sebagai perbandingan, mahasiswa STOVIA yang tidak makan di asrama bisa makan di warung milik pengurus Muhammadiyah di Kramat dengan biaya 15 gulden per bulan pada 1927.

Angka kebutuhan minimum untuk naik haji itu ditetapkan untuk mencegah pengemis miskin dan pengemis profesional (armen en beroepsbedelaars) ikut pergi haji. Maksudnya, agar tak ada yang nekat berhaji lalu hidup di Tanah Suci mengandalkan belas kasihan orang lain.

Maka, hingga 1937, Garebek Besar di Masjid Demak tercatat masih selalu ramai didatangi orang-orang yang tak mampu naik haji. Masjid Demak merupakan masjid yang dibangun para wali dan Raden Patah pada awal abad ke-15. Menggunakan berbagai jenis kendaraan, orang-orang dari kota-kota dekat Demak berduyun-duyun mengunjungi Masjid Demak dan makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.

Terkait

Garebek hanya diadakan di wilayah keraton (Surakarta dan Yogyakarta) dan Demak. Ada Garebek Syawal untuk merayakan Idul Fitri dan ada Garebek Besar untuk merayakan Idul Adha. Disebut Garebek Besar karena pelaksanaannya di bulan Besar menurut kalender Jawa, sama dengan bulan Dzulhijjah dalam karender Hijriyah.

Pada Garebek Besar 1937, selain naik kereta dan bus menuju Demak, ada pula yang naik sepeda dari Semarang. Jumlah pesepeda ini juga mencapai ribuan. “Sepanjang malam, jalan Semarang-Demak begitu ramai,” tulis De Locomotief edisi Februari 1937.

 
Pada Garebek Besar 1937, selain naik kereta dan bus menuju Demak, ada pula yang naik sepeda dari Semarang. Jumlah pesepeda ini juga mencapai ribuan.
 
 

Mereka memadati Masjid Demak, halaman masjid, alun-alun, dan area makam Sunan Kalijaga. Sabtu malam, 20 Februari, Kota Demak sudah begitu sibuk. Acara puncak garebek dilakukan pada Ahad, 21 Februari. Mereka yang ada di halaman masjid dan alun-alun akan tidur beratapkan langit.

Di kota-kota lain yang tak memiliki tradisi Garebek Besar, umat Islam akan mengadakan shalat Idul Adha. Muhammadiyah biasa menggelar shalat Idul Adha di lapangan terbuka. Pada 1940, Lapangan Gambir (sekarang Taman Monas) dijadikan tempat shalat Idul Adha. Radio Nirom meminjamkan mikrofonnya untuk kepentingan shalat ini. Haji Agus Salim bertindak sebagai khatib.

Saat shalat berlangsung, hujan turun. Air pun menggenangi tempat shalat, tetapi jamaah tetap khusyuk menjalankan ibadahnya. Setelah shalat, biasanya diadakan penyembelihan hewan kurban.

 
Pada 1940, Lapangan Gambir (sekarang Taman Monas) dijadikan tempat shalat Idul Adha.
 
 

Pada 1949 shalat Idul Adha diadakan di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Mantan menteri penerangan M Natsir bertindak selaku khatib dalam shalat yang juga diikuti para menteri itu.

Selain masyarakat umum yang mampu, kantor-kantor pemerintahan biasanya juga mengadakan kurban. Hewan yang dijadikan kurban biasanya, kambing, kerbau, atau sapi. Pada Garebek Besar 1904 di Yogyakarta, dipotong 25 ekor kambing kurban dan 12 ekor sapi kurban. Dagingnya dibagikan kepada 2.000 orang yang berhak menerimanya.

Pada 1935 muncul masalah. Pemerintah kolonial menarik pajak pemotongan hewan kurban. Muhammadiyah pun bereaksi. Pimpinan Muhammadiyah, seperti dilaporkan Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie edisi 16 Maret 1935 sempat menyerukan agar tak ada pemotongan hewan kurban karena pengenaan pajak pemotongan ini.

Pada acara Garebek Besar di keraton, para pejabat rendah hadir dengan duduk bersila di lantai. Pada Garebek Besar 22 Juni 1926, Mangkunegoro VI di Keraton Surakarta membuat perubahan: Di hadapan Susuhunan Mangkunegoro, para bupati, pangeran sentono, dan lain-lain, tidak lagi duduk di lantai, tapi duduk di kursi.

 
Di Surabaya, menjelang Idul Adha 1888, muncul kepanikan di kalangan penduduk Eropa karena ada agitasi kerusuhan yang akan terjadi.
 
 

Di Surabaya, menjelang Idul Adha 1888, muncul kepanikan di kalangan penduduk Eropa karena ada agitasi kerusuhan yang akan terjadi di hari kurban itu. Pejabat pemerintah kolonial dan militer telah membahas rencana tindakan yang perlu diambil jika benar terjadi kerusuhan. Peringatan berupa tembakan meriam tiga kali akan dilakukan jika kerusuhan itu muncul.

Penjagaan keamanan pun diperketat. Patroli dilakukan hingga pinggiran kota. Tak ada kepanikan di kalangan penduduk pribumi.

Isu kerusuhan ini juga muncul di Tulungagung, Kediri, Madiun, Pasuruan, Klaten, dan Surakarta. Belasan orang yang melakukan rapat-rapat ditangkap polisi. Stempel palsu Mangkunegoro IV disita polisi saat penggeledahan di Klaten.

Mereka yang akan melakukan kerusuhan ini disebut akan membentuk pemerintahan kerajaan baru di luar kendali pemerintah kolonial, sebagai upaya menggulingkan Raja Surakarta. Pada 1881-1894, Mangkunegara V menjadi raja Surakarta. Ia memperoleh bintang jasa dari Kerajaan Belanda.

Mereka merekrut anggota dengan iming-iming jimat untuk kekebalan tubuh. Menurut perhitungan ramalan mereka, seperti dilaporkan koran Algemeen Handelsblad, waktu yang tepat untuk mendirikan pemerintahan kerajaan baru adalah di bulan Besar tahun Wawu yang bertepatan dengan tahun 1888 Masehi itu.

Kembali ke cerita Garebek Besar. Kegiatan Garebek Besar di Surakarta, Yogyakarta, dan Demak berkaitan dengan kirab budaya. Ada gamelan dan persenjataan yang dibawa dalam kirab.

Jika di Demak ada selamatan dengan sembilan tumpeng, di Surakarta dan Yogyakarta ada gunungan bahan pangan yang dibawa dalam kirab. Warga akan ngalab berkah berebut bahan pangan dalam gunungan itu. Untuk menjalankan itu semua, keraton memliki peraturan, misalnya, menetapkan jumlah orang yang harus memikul gamelan.

 
Kereta api dari Semarang menuju Demak penuh sesak oleh orang-orang yang akan mengikuti Gerebek Besar di Masjid Demak
 
 

Gambaran Garebek Besar di Demak pada 1937 juga terjadi pada 1924, seperti dilaporkan koran Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie edisi Juli 1924. Kereta api dari Semarang menuju Demak penuh sesak oleh orang-orang yang akan mengikuti Gerebek Besar di Masjid Demak.

Kereta tambahan yang disediakan pun juga penuh penumpang. Tenda-tenda didirikan di alun-alun, bukan untuk tidur para pengunjung, melainkan untuk berjualan.

Masyarakat Jawa memercayai, bagi yang tidak memiliki cukup uang untuk pergi ke Makkah, menghadiri Garebek Besar di Masjid Demak tujuh kali berturut-turut sama dengan naik haji.


×