Dunia Games League 2021 siap digelar pada 11 Juli 2021. | Dok Telkomsel

Inovasi

08 Jul 2021, 19:03 WIB

Konsisten Berburu Talenta di Ekosistem Gim

Dari sekadar hiburan, gim dapat menjadi sesuatu yang bernilai. 

 

Di masa pandemi, geliat industri e-sport justru makin terasa. Tak hanya bermain gim kini kerap menjadi pilihan kegiatan selama di rumah, tapi hobi yang satu ini kini sudah menjadi pilihan profesi, bahkan industri tersendiri. 

Ribuan gamer Indonesia pun kini siap menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam Dunia Games League (DGL) 2021. Setelah menutup pendaftaran pada 31 Mei 2021, kini DGL 2021 mulai menyajikan pertandingan-pertandingan seru antara para peserta dari berbagai daerah di Indonesia pada babak Qualifier, Play-Ins, dan Grand Final yang berlangsung dari tanggal 5 Juni sampai 11 Juli 2021. 

Seluruh pertandingan tersebut dapat dinikmati secara langsung via live streaming di berbagai saluran digital dari Telkomsel dan Dunia Games. Direktur Marketing Telkomsel Rachel Goh menjelaskan, Telkomsel menyambut antusias dimulainya perjalanan para peserta di Dunia Games League 2021. “Kami berharap para peserta yang berpartisipasi dapat menikmati jalannya pertandingan dengan semangat. Bersama-sama kita tinggatkan daya saing DGL 2021 dengan memperkuat ekosistem gaming dan e-sports di Indonesia,” ujarnya. 

photo
Peluncuran Dunia Games League (DGL) 2021, pada Kamis (8/7). - (Dok Telkomsel )

PUBG Mobile Indonesia Country Manager Jenny Zhuang menjelaskan, sebagai industri yang makin populer e-sports telah berkembang pesat. Dari sekadar hiburan dan waktu luang menjadi sesuatu yang bernilai dan memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat Indonesia. 

Menurut Jenny, hadirnya DGL di tahun ini, diharapkan dapat menghadirkan suasana lain di kancah e-sports PUBG Mobile, khususnya di Indonesia. “Dengan ini, kami berharap kepada Telkomsel dan Dunia Games untuk membuka pintu lain bagi para talenta yang memiliki potensi dan kontribusi lebih banyak di industri e-sports,” ujarnya. 

Ajang ini merupakan ketiga kalinya Dunia Games League (DGL) diselenggarakan oleh Dunia Games dari Telkomsel setelah pertama kali digelar pada 2019. Di tahun ini, Dunia Games sukses menggelar kompetisi tahunan, dimana DGL 2021 telah diikuti oleh lebih dari 20.600 peserta. Terdiri dari 20.480  peserta pemula dan 120 peserta profesional.

Perjalanan para peserta DGL 2021 akan berlangsung hingga babak Grand Final yang berlangsung pada 10 – 11 Juli 2021 dengan total hadiah yang diperebutkan mencapai 600 juta rupiah. Seluruh rangkaian pertandingan DGL 2021 dapat dinikmati melalui channel YouTube Dunia Games, DGTV di aplikasi Maxstream, NimoTV, dan situs dgl.duniagames.co.id. 

Saat ini tayangan pertandingan DGL 2021 telah ditonton sebanyak 5.5 juta views dan sampai di Grand Final nanti ditargetkan akan ditonton sebanyak 10 juta views.

Pesan Perubahan Iklim dalam Kreasi Gim

photo
Perubahan iklim (ilustrasi) - (Pexels/Akil Mazumder)

Tencent melalui TiMi Studio Group (TiMi) dan Tencent Institute of Games, pada Rabu (7/7), mengumumkan gelaran Green Game Jam for Youth. Ajang ini merupakan kompetisi daring global yang terinspirasi oleh Green Game Jam yang diselenggarakan oleh Playing for the Planet Alliance. 

Playing for the Planet Alliance merupakan inisiatif yang difasilitasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Green Game Jam for Youth menantang para mahasiswa untuk menciptakan gim dengan elemen atau tema berfokus lingkungan. 

Kompetisi ini juga didukung oleh berbagai produsen video gim raksasa baik mobile, konsol, dan PC, demi mengedukasi dan memberdayakan jutaan pemain untuk melakukan tindakan melindungi alam.

Peter May, selaku Country Manager Joox, Tencent Indonesia menjelaskan, bagi Tencent, komitmen yang selama ini dimiliki bukan hanya mengubah sektor-sektor vital ekonomi menjadi digital. Tapi, juga mengembangkan dan mempromosikan berbagai inovasi berkelanjutan yang penting dalam menangani krisis iklim. 

“Sebagaimana terjadi di banyak tempat lain, dampak perubahan iklim sudah dirasakan di Indonesia. Menariknya, generasi muda mengakui hal ini sebagai bagian dari perubahan sosial dalam perubahan iklim,” ujar May. 

Dengan banyaknya talenta di industri video gim yang sedang populer, ia melanjutkan, Tencent melihat ini sebagai kesempatan besar bagi para mahasiswa untuk mengarahkan passion mereka ke aksi sosial. “Melalui Green Game Jam for Youth Initiative, kami harap bisa menginspirasi sebanyak mungkin mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran terhadap isu lingkungan dan mengingatkan semua orang bahwa tidak ada istilah terlalu muda untuk peduli terhadap bumi kita,” katanya. 

Video gim memiliki kekuatan untuk meningkatkan kesadaran miliaran orang di seluruh dunia tentang konservasi dan restorasi alam. Gim juga bisa mengedukasi mengenai aksi dan solusi yang dibutuhkan untuk memperkuat respons terhadap ancaman perubahan iklim.

Tencent pun kini telah bekerja sama dengan beberapa universitas di Asia Tenggara. Tujuannya, mengajak para mahasiswa mengikuti Green Game Jam for Youth dan mempromosikan berbagai solusi lingkungan yang dibutuhkan. 

Universitas-universitas yang turut serta termasuk Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung (ITB) di Indonesia, Bangkok University, Dhurakij Pundit University dan Mahidol University di Thailand, Asia Pacific University of Technology & Innovation di Malaysia. National University of Singapore, Nanyang Technological University, dan DigiPen Institute of Technology di Singapore. 

ITB melihat partisipasinya dalam Green Game Jam for Youth sebagai kesempatan besar untuk meningkatkan kesadaran terhadap perubahan iklim melalui kekuatan visual dan kata-kata. Direktur ITB Career Center, Sonny Rustiadi PhD mengungkapkan, bahasa visual memiliki kekuatan tidak hanya untuk tujuan komersial, namun juga tujuan sosial. “Kami sangat menganjurkan mahasiswa untuk memanfaatkan elemen-elemen visual dalam mengkomunikasikan krisis iklim secara efektif. Sekaligus menginspirasi masyarakat untuk menjalankan tanggung jawab mereka dalam melindungi bumi pertiwi,” jelas Sony. 

Senada, Universitas Indonesia (UI) juga mengakui kebutuhan untuk tidak hanya menciptakan kesadaran para mahasiswanya terhadap isu lingkungan, tetapi juga menantang pemikiran mereka untuk menciptakan berbagai strategi yang bisa diterapkan ketika dibutuhkan. Ahmad Gamal, PhD selaku direktur Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia, berharap The Green Game Jam for Youth dapat sarana untuk menguji kecerdasan dan kemampuan para mahasiswa dalam menghadapi salah satu masalah utama dunia, yaitu perubahan iklim. 

“Kami melihat kompetisi ini sebagai platform untuk menunjukkan kemampuan kami menghasilkan lulusan yang tidak hanya sukses dalam studi mereka, namun juga mampu menjadi anggota masyarakat global yang sadar lingkungan dan bertanggung-jawab,” katanya. 

Kompetisi ini bertujuan melibatkan mahasiswa di lebih dari 300 universitas di Tiongkok, Amerika Utara dan Asia Tenggara. Para peserta The Youth Challenge akan dipandu dalam mengembangkan video game dan pengadopsian strategi efektif untuk mempromosikan tanggung jawab lingkungan melalui webinar dan kursus daring dari Tencent Institute of Games dan mentor-mentor lain di industri video gim.

Para pemenang akan menerima penghargaan dan hadiah uang tunai, termasuk 10 ribu dolar Amerika Serikat (AS) untuk pemenang medali emas, 3 ribu dolar AS untuk medali perak, 1.000 dolar AS untuk medali perunggu. 

 

 
Industri gim yang sedang populer, merupakan kesempatan besar bagi para mahasiswa untuk mengarahkan passion mereka ke aksi sosial.
PETER MAY, Country Manager Joox, Tencent Indonesia.
 

 

 


×