Kelompok ultranasionalis Yahudi melambaikan bendera Israel dalam aksi Flag March di Gerbang Damaskus di Kompleks Masjid al-Aqsha di Yerusalem, Selasa (15/6/2021). Aksi itu memicu kemarahan warga Palestina. | AP Photo/Mahmoud Illean
17 Jun 2021, 03:50 WIB

Israel Kembali Serang Gaza

Serangan udara Israel ke Gaza terjadi setelah kelompok ultranasionalis menggelar pawai di Yerusalem timur.

YERUSALEM -- Militer Israel kembali melakukan serangan udara ke Jalur Gaza pada Rabu (16/6). Israel berdalih serangan ini untuk merespons peluncuran balon bermuatan bahan peledak yang dikirim ke selatan Israel.

Menurut petugas pemadam kebakaran setempat, balon pembakar yang diduga berasal dari Palestina menyebabkan 20 kebakaran di area lapangan terbuka di lingkungan komunitas dekat perbatasan. Militer Israel mengatakan, pesawat mereka meluncurkan serangan udara ke kompleks militer Hamas. Selain itu, serangan diluncurkan ke fasilitas dan tempat pertemuan untuk operasi Hamas di Khan Younis. 

"(Kami) siap pada semua skenario termasuk pertempuran baru untuk menghadapi aksi lanjutan yang berasal dari Gaza," kata militer Israel dalam pernyataannya, Rabu (16/6).

Serangan udara oleh Israel ke Gaza terjadi setelah kelompok ultranasionalis menggelar pawai di Yerusalem timur yang memicu kemarahan warga Palestina. Ini serangan pertama sejak disepakatinya gencatan senjata pada 21 Mei 2021 dan juga serangan pertama Israel di bawah pemerintahan Perdana Menteri Naftali Bennett. 

Terkait

photo
Anggota Knesset Bezalel Smotrich melambaikan bendera Israel bersama kelompok Yahudi ultranationalis dalam aksi Flag March di Gerbang Damaskus di Kompleks Masjid al-Aqsha di Yerusalem, Selasa (15/6/2021). - (AP Photo/Mahmoud Illean)

Pawai ultranasional Flag March atau pawai bendera Israel telah memicu panggung konfrontasi baru. Hamas meminta masyarakat Palestina memberikan perlawanan demi menghentikan kejahatan dan arogansi yang ditunjukkan peserta pawai.

Stasiun televisi Israel Channel 13 melaporkan, militer Israel dalam kesiagaan tinggi. Israel mengerahkan tentara di wilayah Tepi Barat dan garis depan Gaza. Militer Israel telah melakukan penilaian situasional dan siap dengan berbagai perkembangan dan skenario.

Sebelum pawai dilakukan, Israel bahkan meningkatkan penyebaran sistem antirudal atau dikenal sebagai Iron Dome untuk mengantisipasi kemungkinan serangan roket dari Gaza. Namun, ketika demonstran mulai bubar setelah malam tiba di Yerusalem, tidak ada tanda-tanda tembakan roket dari daerah tersebut. 

Flag March adalah pawai riuh yang diikuti ribuan anggota ultranasionalis Israel. Pesertanya mengibarkan bendera biru-putih sambil meneriakkan slogan-slogan provokatif dan ofensif. Mereka berjalan melewati Gerbang Damaskus di Kota Tua Yerusalem menuju kawasan Muslim.

photo
Polisi Israel menangkap pria Palestina dalam aksi unjuk rasa menjelang aksi pengibaran bendera kelompok ultranasionalis Yahudi di Yerusalem, Selasa (15/6/2021). - ( AP Photo/Mahmoud Illean)

Pawai ini merayakan pendudukan Israel atas Yerusalem Timur pada Perang 1967. Awalnya, pawai tersebut dijadwalkan digelar pada 10 Mei 2021. Akan tetapi pada saat itu, pertempuran 11 hari antara Israel dan Hamas masih berlangsung. 

Pekan lalu, Kepala Kepolisian Israel Jacob Shabtai sebetulnya telah membatalkan Flag March. Namun, tepat beberapa hari sebelum pemerintahan baru dilantik, Benjamin Netanyahu menyetujuinya dan memutuskan untuk menggelar kegiatan itu.

Dilansir Global News, juru bicara Hamas membenarkan adanya serangan terhadap Israel. Disebutkan bahwa Palestina akan terus melakukan perlawanan dan membela hak-hak serta situs suci di Yerusalem. 

Pada Selasa (15/6), Rabi sayap kanan Israel, Yehuda Glick, memaksa masuk ke Kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. Glick yang merupakan mantan anggota Knesset (Parlemen Israel) bahkan mengunggah video dirinya saat mengunjungi situs yang menjadi titik nyala konflik Palestina dan Israel.

photo
Pengunjuk rasa mengibarkan bendera Palestina di atas reruntuhan bangunan yang dirobohkan serangan Israel dalam aksi menentang pengibaran bendera oleh kelompok ultranasionalis Yahudi, di Beit Lahia, Jalur Gaza, Selasa (15/6/2021). - (AP Photo/Felipe Dana)

"Kami berdoa agar pemerintah ini mencapai perdamaian di antara kami, untuk memindahkan kami ke ekonomi yang nyaman, keamanan, dan kasih sayang di antara kami," kata Glick tentang pemerintahan baru Israel, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (16/6).

Puluhan pemukim Israel juga menyerbu Kompleks Masjid al-Aqsha melalui Gerbang al-Mughrabi, barat daya masjid, di bawah perlindungan polisi Israel. Polisi Israel mulai mengizinkan serangan pemukim pada 2003, meskipun berulang kali dikecam oleh Departemen Wakaf Islam, yang mengawasi situs-situs keagamaan di Yerusalem.

Masjid al-Aqsha adalah situs tersuci ketiga bagi umat Islam. Orang-orang Yahudi menyebut daerah itu "Gunung Kuil" (Temple Mount) dan mengeklaim bahwa itu adalah situs dari dua kuil Yahudi di zaman kuno.

Israel menduduki Yerusalem Timur, tempat al-Aqsha berada, selama Perang Arab-Israel 1967. Israel lantas mencaplok seluruh kota Yerusalem pada 1980. Namun, langkah tersebut tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional. 

Berbagai pihak menilai pemerintahan baru yang dipimpin politisi sayap kanan Naftali Bennett tak akan jauh berbeda dengan kepemimpinan Benjamin Netanyahu. 

photo
PM Israel Naftali Bennett berbicara di hadapan Knesset beberapa waktu lalu. - (Yonatan Sindel/Pool via AP)

Netanyahu diketahui menjalankan pemerintah seturut arahan kelompok sayap kanan Israel. Selama kepemimpinannya, perluasan permukiman ilegal terus dilakukan dan terus menyurutkan wilayah de facto Palestina. Sementara, serangan berulang militer ke Gaza di bawah kepemimpinannya mengakibatkan ribuan warga Palestina gugur, termasuk anak-anak.

Bennett sedianya juga berasal dari spektrum politik sayap kanan dan seorang ultranasionalis religius. Ia punya rekam jejak mendukung perluasan permukiman dan menentang negara Palestina.

Supermodel Bella Hadid dengan lantang bahkan mengecam Bennett yang baru terpilih karena menangkap banyak orang Arab tanpa penyesalan. Surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, pernah melaporkan, pernyataan kontrovesial tersebut berasal dari tahun 2013 selama diskusi dengan kabinet tentang pembebasan tahanan Palestina.

Berdasarkan laporan surat kabar itu, Bennett mengatakan, “Jika Anda menangkap teroris, Anda hanya perlu membunuh mereka.” Menurut laporan, Penasihat Keamanan Nasional Yaakov Amidror mengatakan kepada Bennett bahwa tindakan itu ilegal.

Menanggapi itu, Bennett menjawab, “Saya sudah membunuh banyak orang Arab dalam hidup saya dan sama sekali tidak ada masalah dengan itu.”

photo
Pemadam kebakaran Israel berupaya mematikan api dari balon berbahan bakar yang diterbangkan dari Gaza di perbatasan Israel-Gaza, Selasa (15/6/2021). - (AP Photo/Tsafrir Abayov)

Hadid yang ayahnya orang Palestina berkomentar dengan menggambarkan pernyataan Bennett sebagai sesuatu yang hampir tidak bisa dipercaya. “Jujur saja sedih. Benar-benar sedih,” kata Hadid dalam unggahan cerita di akun Instagramnya, @bellahadid.

Pada unggahan selanjutnya, dia menggambarkan Gaza sebagai penjara udara terbuka. Dia mempertanyakan alasan Presiden AS Joe Biden tetap diam sementara serangan dan pelanggaran Israel terus berlanjut terhadap Palestina.

“Mengapa Anda tidak melakukan tindakan terhadap tindakan yang keji ini? Bagaimana Presiden kita tidak membicarakan kejahatan ini?” ujar dia.

Dilansir MEMO, Rabu (16/6), Hadid telah diserang dalam beberapa pekan terakhir menyusul dukungannya untuk hak-hak Palestina dengan World Values Network mengeluarkan satu halaman penuh iklan di New York Times untuk melawannya.

Dalam iklan itu, Hadid disebut telah memfitnah Yahudi dan menuduh Israel terhadap aksi pembersihan etnis.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Bella

Sumber : Reuters/AP


×