Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih (kedua kiri) bersama Kapus Standarisasi dan Kerjasama Siti Aminah (kedua kanan) dan Chairman Indonesia Halal Lifestyle Centre Sapta Nirwandar (kanan) mengikuti webina | ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
04 Jun 2021, 09:23 WIB

Wapres: Kuasai Pasar Halal Negara OKI

Pasar industri produk halal global tak hanya diincar oleh negara dengan mayoritas Muslim.

 

JAKARTA – Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mendorong peningkatan kinerja ekspor produk halal Indonesia ke luar negeri khususnya negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Dengan menguasai pasar negara OKI, peluang Indonesia menjadi produsen dan eksportir produk halal terbesar di dunia akan semakin terbuka.  

"Indonesia harus lebih gigih berusaha menguasai pasar halal dunia khususnya negara-negara OKI," kata Kiai Ma’ruf saat meresmikan pembukaan Indonesia Industrial Moslem Exhibition (II-Motion) 2021 secara virtual pada Kamis (3/6).

Berdasarkan data World Population Review, saat ini populasi umat Muslim dunia mencapai 1,9 miliar jiwa. Indonesia menjadi negara muslim terbesar dengan populasi 229 juta jiwa. Angka tersebut merupakan 87,2 persen dari populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 276,3 juta jiwa atau 12,7 persen dari populasi Muslim dunia.

Terkait

Ma’ruf mengungkapkan, dari data OIC Economic Outlook 2020, Indonesia menjadi eksportir terbesar kelima di antara negara-negara anggota OKI dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 9,3 persen. Porsi Indonesia masih di bawah Arab Saudi yang menempati posisi pertama dengan 14,5 persen, Malaysia 13,3 persen, Uni Emirat Arab (UEA) 12,3 persen, dan Turki 10,1 persen.

Menurut Ma’ruf dibutuhkan upaya yang lebih gigih agar Indonesia bisa menjadi produsen dan eksportir produk halal terbesar di dunia. Ma’ruf menjelaskan, terdapat sejumlah langkah strategis yang disiapkan untuk mewujudkan Indonesia sebagai eksportir produk halal global. Hal itu antara lain dengan pengembangan riset halal dan meningkatkan substitusi impor.

Pemerintah juga akan mendorong pembangunan kawasan industri halal yang terintegrasi dengan fasilitas logistik halal. Sistem informasi halal juga akan dibangun untuk mempercepat proses penyelesaian sertifikat halal.

"Kemudian dengan meningkatkan kontribusi produsen-produsen produk halal baik skala mikro, menengah, dan besar untuk ekspor produk halal ke seluruh dunia," kata Ma’ruf.

Wapres mengatakan, peluang ini juga ditambah dengan terus meningkatnya potensi sektor industri halal di dunia. Dalam data laporan State Global Islamic Economic Report 2020-2021, tingkat konsumsi masyarakat Muslim dunia mencapai 2,02 triliun dolar AS di sektor makanan, farmasi, kosmetik, mode, perjalanan, dan media atau rekreasi halal.

 
Kita harus memperkuat promosi dan pemasarannya melalui pemanfaatan marketplace berbasis teknologi digital.
KH MA'RUF AMIN, Wakil Presiden RI
 

Kiai Ma’ruf menyebutkan, pengeluaran masyarakat muslim dunia terhadap modest fashion mencapai 277 miliar dolar AS atau meningkat 4,2 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah ini diperkirakan mencapai 311 miliar dolar pada 2024.

"Untuk itu, kita harus memperkuat promosi dan pemasarannya melalui pemanfaatan marketplace berbasis teknologi digital," kata Ma'ruf.

Untuk fokus di sektor fashion Muslim, ia mendorong kemunculan perancang busana, komunitas, dan asosiasi yang aktif. Hal itu diharapkan dapat menggencarkan promosi dengan menggelar program pameran busana dan menggandeng influencer.

"Demikian juga pada komoditas kosmetik halal, konsumsi masyarakat muslim dunia mencapai 66 miliar dolar AS atau meningkat 3,4 persen,” ungkapnya.

Demi membuka dan memperluas jangkauan pemasaran produk Muslim Indonesia, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menggelar II-Motion secara virtual pada 3 sampai 5 Juni 2021. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, II-Motion bertujuan mendorong pertumbuhan IKM produk muslim.

“Kesempatan pelaku IKM Indonesia untuk masuk pasar dunia sangat besar, sayang apabila kita tidak menggunakan potensi ini,” ujar Agus.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, kebutuhan masyarakat terhadap produk dan jasa berlabel halal semakin meningkat. Menurut Gati, legitnya pasar industri produk halal global tak hanya diincar oleh negara dengan mayoritas muslim seperti Indonesia dan Malaysia.

Berbagai perusahaan dari Cina, Thailand, Filipina, Jepang, Korea Selatan, dan Australia juga ikut berebut memproduksi barang-barang halal. “Saya yakin kita bisa mengambil bagian pasar produk halal. Paling tidak sebagai pemain utama di Asia,” ujar dia.

 


×