Hikmah Republika Hari ini | Republika
16 Apr 2021, 03:30 WIB

Shaum dan Kesalehan Sosial

Momentum shaum Ramadhan menjadi pemantik kesadaran pentingnya kesalehan sosial.

OLEH ABDUL MUID BADRUN

Kalau kita membaca sejarah, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tidaklah dikatakan beriman orang yang dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya tertidur dalam keadaan lapar.” (HR Bukhari).

Begitulah sabda Nabi sebagai pengingat kita agar ada keseimbangan antara ibadah ritual (ibadah mahdhah) seperti shalat, puasa, haji dan ibadah sosial (kesalehan sosial) seperti kedermawanan, kepedulian, saling bantu dan tolong-menolong. Apalagi di bulan suci Ramadhan dan di masa pandemi.

Maka wajar, kalau Nabi Muhammad SAW menyebut Ramadhan sebagai Syahr al-Muwasah atau bulan kepedulian sosial. Karena, Rasulullah SAW merupakan orang yang paling peduli dengan banyak bersedekah, dan ketika Ramadhan lebih kencang lagi sedekahnya, melebihi angin (HR Hakim dari Aisyah). Akhlak inilah yang patut kita contoh dan sebarkan.

Terkait

Di sisi lain, Islam adalah agama yang mencakup semua hal. Tak hanya urusan manusia dengan Tuhannya (hablumminallah), tetapi juga mencakup hubungan manusia dengan manusia (hablumminannas). Dari sinilah, ibadah shaum (puasa) mengandung dua dimensi sekaligus.

Pertama, dimensi vertikal bahwa shaum itu perintah wajib dari Allah (QS al-Baqarah: 183). Kedua, dimensi horisontal. Artinya shaum berfungsi mengasah kepekaan dan kepedulian antarsesama. Betapa tidak enaknya, lapar dan dahaga. Betapa tidak enaknya menahan haus ketika terik panas siang hari. 

Saat ini musuh bersama kita (dari dulu hingga sekarang) adalah kemiskinan dan kebodohan. “Pameran” kemiskinan terpapar jelas di sekeliling kita. Setiap kita, punya kewajiban untuk membantu sesama.

Nah, momentum shaum Ramadhan ini menjadi pemantik kesadaran akan pentingnya solidaritas sosial dibanding solidaritas ritual semata. Bahkan, Alquran menyebutkan solidaritas dan kesalehan sosial lebih banyak mendapat perhatian daripada kesalehan ritual.

Dengan bahasa lain, ketika ada satu ayat Alquran yang berbicara mengenai kesalehan ritual, maka akan ada 100 ayat yang berbicara tentang kesalehan sosial. Demikian pula dalam hadis.

Dalam Shahih Muslim, jumlah hadis yang membahas soal kemasyarakatan tiga kali lipat lebih banyak daripada yang mengatur perkara ibadah ritual. Ini membuktikan betapa kesalehan sosial menemukan “moment of truth” ketika masuk bulan Ramadhan.

Interpretasi makna sosial dalam kesalehan sosial memang masih terbatas pada relasi-relasi antarindividu dalam masyarakat. Yang diutamakan adalah tolong-menolong antarsesama sebagaimana diperintahkan dalam Alquran Surah al-Maidah ayat 2.

Secara lebih konkret, tolong menolong itu diwujudkan dalam bentuk bantuan atau santunan dari mereka yang mampu kepada mereka yang kekurangan. Karena pahala menolong sesama di bulan Ramadhan itu dilipatgandakan (QS al-Hadid: 18).

Wallahu a’lam.


×