Petugas masjid menyemprotkan cairan disinfektan di area tempat ibadah di Masjid Jami Nurul Hidayah, Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (12/4/2021). Penyemprotan tersebut dilakukan dalam rangka persiapan shalat tarawih saat bulan Ramadhan. | Republika/Thoudy Badai
13 Apr 2021, 03:45 WIB

Puasa dalam Perspektif Ilmu Hayati

Dengan berpuasa, sel lama yang rusak atau berumur terlalu lama digantikan sel baru.

BUDI SETIADI DARYONO, Guru Besar, Dekan Fakultas Biologi UGM

Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia menjalani puasa Ramadhan. Sudah sejak lama ibadah puasa menarik perhatian ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu untuk diteliti lebih jauh karena puasa tidak hanya diperintahkan dalam agama Islam.

Setidaknya, lima agama yang diakui di Indonesia saat ini, menganjurkan pelaksanaan puasa atau kegiatan meniadakan makan dan minum dalam kurun waktu tertentu.

Penelitian di bidang ilmu hayati (biologi), manusia menemukan fakta menarik pada tubuh ketika puasa.  Mekanisme biokimia dan fisiologis pada seseorang yang berpuasa dapat meminimalisasi infeksi saluran pencernaan hingga mencegah kanker.

Terkait

Puasa juga dapat menjadi faktor menguatnya sistem imunitas di dalam tubuh jika dilakukan berturut-turut dalam kurun tertentu. Tentu saja hasil ini dapat dicapai ketika puasa dilaksanakan dengan durasi yang mampu ditoleransi tubuh.

 
Mekanisme biokimia dan fisiologis pada seseorang yang berpuasa dapat meminimalisasi infeksi saluran pencernaan hingga mencegah kanker.
 
 

Tak adanya asupan ke dalam tubuh dalam beberapa jam, juga dapat menurunkan berat badan sehingga puasa kini sering digunakan untuk menjaga kesehatan dan kondisi ideal berat tubuh, sering disebut intermittent fasting.

Tubuh yang berpuasa

Ketika seseorang menghentikan asupan makanan maupun minuman secara total selama beberapa jam, tubuh tak langsung kehabisan energi. Selama 6-8 jam pertama berpuasa, bahan makanan yang diserap tubuh berupa glukosa masih dipecah menjadi energi.

Glukosa, jenis karbohidrat paling sederhana dan banyak terdapat pada makanan yang cenderung berasa manis. Proses pemecahan nutrisi menjadi energi saat berpuasa “mengistirahatkan” kerja hormon yang membantu metabolisme tubuh, salah satunya insulin.

Hormon yang bertugas mengubah gula dalam darah menjadi cadangan gula dalam otot ini hanya dikeluarkan dalam jumlah sedikit oleh tubuh. Produksi insulin yang terkontrol dapat menurunkan risiko penyakit diabetes.

Saat cadangan glukosa habis, tubuh masih dapat beraktivitas karena adanya metabolisme pemecahan asam lemak yang tersimpan dalam tubuh. Pada saat yang sama, metabolisme ini mengaktivasi sel-sel punca di lapisan usus untuk beregenerasi.

 
Selama 6-8 jam pertama berpuasa, bahan makanan yang diserap tubuh berupa glukosa masih dipecah menjadi energi.
 
 

Semakin tua seseorang, proses perbaharuan sel akan berjalan lebih lambat dalam keadaan normal. Namun dengan berpuasa, sel lama yang rusak atau berumur terlalu lama digantikan sel baru sehingga dapat mencegah infeksi pada saluran pencernaan.

Pemecahan asam lemak sebagai penghasil energi ini juga menjadi kesempatan bagi tubuh mengurangi timbunan yang ada. Ini memberikan manfaat lain terutama bagi pasien dengan keluhan sumbatan di jantung.

Bukan satu-satunya

Jika manusia mengenal puasa lewat ajaran agama atau kepercayaan, makhluk hidup lainnya menjalankan puasa sebagai pertahanan diri atau perkembangan tubuh. Salah satu mekanisme puasa pada hewan adalah hibernasi.

Meskipun durasinya lebih panjang tetapi proses hibernasi pada hewan sering dikaitkan sebagai upaya “menahan” layaknya pada manusia.

Hewan-hewan yang hidup di negara dengan empat musim, harus bertahan pada cuaca ekstrem. Keadaan ini bisa membuat sumber makanan berkurang drastis dan mekanisme berpuasa pada hewan dilakukan untuk mengurangi laju metabolismenya.

 
Jika manusia mengenal puasa lewat ajaran agama atau kepercayaan, makhluk hidup lainnya menjalankan puasa sebagai pertahanan diri atau perkembangan tubuh.
 
 

Selain itu, hibernasi dilakukan karena lingkungan sangat ekstrem sehingga berbahaya bila hewan masih beraktivitas. Pada kondisi itu, hewan seperti beruang, kura-kura, lemur, dan katak kayu berhibernasi selama musim dingin dengan tidak makan dan minum.

Puasa pun dilakukan tumbuhan, terutama tumbuhan berbiji. Tumbuhan berpuasa atau menahan untuk tidak tumbuh yang disebut dormansi. Biji yang tersebar melalui angin, melalui organisme lain atau karena gaya gravitasi, tidak selalu tumbuh alami.

Biji tersebut mulai berkecambah atau bertunas ketika lingkungannya seperti suhu, kadar air, dan nutrisi dalam tanah mampu memenuhi kebutuhannya. Selama dormansi, metabolisme diperlambat dan biji tanaman mengandalkan cadangan pada keping biji/kotiledon.

Proses Alami

Belajar dari tumbuhan dan hewan yang berpuasa, manusia juga harus mempersiapkan puasanya. Sebelum berpuasa, baik hewan maupun tumbuhan mempersiapkan asupan nutrisi yang cukup dan berimbang agar berhasil menahan diri dalam kurun waktu tertentu.

 
Puasa pun dilakukan tumbuhan, terutama tumbuhan berbiji. Tumbuhan berpuasa atau menahan untuk tidak tumbuh yang disebut dormansi.
 
 

Pemilihan kebutuhan karbohidrat sebagai makronutrien pertama yang dipecah menjadi energi penting untuk diperhatikan, khususnya pada waktu sahur. Agar, jenis penyusun nutrien tersebut memiliki waktu pemecahan lebih lama.

Sehingga makanan dengan karbohidrat kompleks lebih disarankan dikonsumsi ketika sahur. Karbohidrat kompleks yang tersusun dari banyak jenis gula akan lebih lambat diurai di dalam tubuh, sehingga kita tidak cepat lemas setelah waktu makan terakhir kali.

Variasi bahan makanan dengan karbohidrat kompleks antara lain ubi, kentang, singkong, dan pisang. Selain bisa sebagai sumber energi, makanan berkarbohidrat kompleks mengandung vitamin dan antioksidan yang dapat menjaga daya tahan tubuh.

Di sisi lain, puasa tahun ini tak jauh beda dari tahun lalu, dilakukan di tengah pandemi Covid-19. Namun, ini tak mengurangi makna Ramadhan. Ramadhan tahun ini selain diharapkan kian meningkatkan mutu ibadah juga kepekaan sosial. 


×