Barang bukti diperlihatkan saat konferensi pers terkait penangkapan terduga teroris  di wilayah Bekasi dan Condet, Jakarta Timur di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (29/3). | Republika/Thoudy Badai

Nasional

Penangkapan Terduga Teroris Terus Berlanjut

Kaitan bom Makassar dengan terduga teroris lain masih diselidiki.

JAKARTA -- Tim Detaseman Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri masih terus melakukan penangkapan terhadap para terduga teroris di sejumlah daerah. Setidaknya, empat orang kembali ditangkap hingga Selasa (30/3) malam. Tiga di antaranya terkait kasus bom bunuh diri di gerbang depan Gereja Katedral Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada Ahad (28/3).

Kabag Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan mengatakan, tiga orang yang ditangkap di wilayah Makassar merupakan perempuan. "Perkembangan pascabom bunuh diri di Makassar, bertambah tiga tersangka. Ketiganya adalah perempuan," kata Ahmad, di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, ketiga perempuan berinisial MM, M, dan MAN memiliki keterkaitan dengan pasangan suami istri Lukman dan YSF atau Dewi yang melakukan bom bunuh diri pada Ahad. Terduga MM, kata dia, mengetahui persis perencanaan Lukman dan Dewi dan memberikan motivasi terhadap kedua pasangan suami istri tersebut.

"MM mendapat motivasi 'jihad' dan 'syahid' dari terduga SAS yang sudah ditangkap beberapa hari sebelumnya dan bersama sama sudah ikut pembaiatan," kata Ramadhan.

photo
Personel Brimob mengamankan lokasi saat melakukan penggerebekan di rumah terduga teroris di Condet, Jakarta Timur, Senin (29/3/2021). Dari hasil penggerebekan ditemukan barang bukti berupa lima bom aktif dan jenis bom sumbu yang siap digunakan, lima toples besar bahan pembuatan bom serta bom yang telah siap digunakan seberat 1,5 kilogram. - (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Selanjutnya, terduga M merupakan kakak ipar SAS yang mengetahui soal kegiatan kajian di Vila Mutiara. Sedangkan terduga MAN melihat Lukman saat terakhir menggunakan sepeda motor berangkat menuju TKP bunuh diri.  

Tim Densus juga menangkap seorang berinisial NM (44 tahun) di Dusun Ngipik, Desa Tenggur, Tulungagung, Jawa Timur pada Selasa. Pria asal Blitar itu dibekuk saat jalan-jalan keluar rumah bersama istri dan kedua anaknya. Polisi disebut menemukan barang bukti di rumah NM.

"Iya tadi saya dikontak dari kepolisian meminta ada perangkat sebagai saksi. Sebab saya ada di luar kota," ujar Kepala Desa Tenggur, Samsul.

Peristiwa bom bunuh diri tersebut terjadi sekitar pukul 10.20 Wita pada Ahad (28/3) di gerbang depan Gereja Katedral Jalan Kajaolalido, Kelurahan Baru, Kota Makassar. Kedua pelaku datang berboncengan ke gereja menggunakan sepeda motor matik dengan nomor polisi DD 5894 MD.

Hingga saat ini, polisi sudah menangkap 18 orang setelah peristiwa tersebut. Lima orang ditangkap di Bima, Nusa Tenggara Barat, dua orang di Bekasi, dua orang di Jakarta, dan empat orang di Makassar. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengungkapkan, keterkaitan empat orang yang ditangkap di Bekasi dan Jakarta dengan bom Makassar masih diselidiki. "Untuk kaitan dengan Makassar sampai saat ini belum ada keterkaitan dengan mereka," kata Yusri, kemarin.

Sementara, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli menuturkan, empat orang yang diamankan tim Densus pada Senin di Makassar masih berstatus saksi. Menurut dia, keempatnya masih diperiksa.

"Empat orang ini masih diperiksa, belum ditahan. Apakah status tersangka, tentu melihat nanti hasil pemeriksaan, baru ditetapkan tersangka," kata dia usai pertemuan tokoh lintas agama di  Makassar, kemarin.

Menurut dia, pelaku bom bunuh diri tidak termasuk dari sejumlah orang yang ditangkap di Vila Mutiara pada Januari 2021. Sebagian orang yang ditangkap saat itu memang dibawa ke Jakarta dan sebagian lainnya dipulangkan. "Saya rasa tidak (bukan dipulangkan). Jadi, yang kemarin itu tidak diketahui yang dua itu. Tapi sebagian dari kajian, jaringan di Vila Mutiara, tapi tidak terpantau," ujar Boy.

photo
Petugas kepolisian berpakaian sipil menunjukkan barang bukti saat rilis pengungkapan kasus terduga teroris di wilayah Condet, Jakarta Timur dan Bekasi, Jawa Barat di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (29/3/2021). Tim Densus 88 Antiteror Polri mengamankan empat terduga teroris di wilayah Condet, Jakarta Timur dan Jalan Raya Cikarang, Cibarsah, Kabupaten Bekasi dengan barang bukti beberapa di antaranya lima bom aktif yang telah diledakkan di lokasi penangkapan, bahan baku pembuatan bom, senjata tajam, kartu identitas dan gawai. - (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Dalam sepuluh tahun terakhir, Indonesia terus mengalami serangan terorisme. Pada 14 Januari 2016, ledakan bom terjadi di kawasan Jalan MH Thamrin dengan delapan orang tewas, lima di antaranya pelaku. Satu tahun kemudian, dua bom bunuh diri meledak di Kampung Melayu, Jakarta Timur, tepatnya pada Rabu 24 Mei 2017. Peristiwa ini mengakibatkan lima orang tewas dan 10 lainnya luka-luka.

Pada 13-14 Mei 2018, ledakan bom terjadi di tiga gereja Surabaya dan pintu masuk Polrestabes Surabaya, Jawa Timur. Ledakan tersebut mengakibatkan 13 korban tewas, dan 43 orang lainnya mengalami luka-luka. Pelaku diduga dari jaringan ISIS, yakni kelompok JAD dan Jamaah Ansharut Tauhid.

Salah pemahaman

Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin menegaskan, tidak ada satu pun agama yang membenarkan tindak kejahatan terorisme maupun kekerasan. Karena itu, Wapres meminta agar tindakan teror tidak dikaitkan dengan agama, meskipun hal itu terjadi karena ada pemahaman keagamaan yang salah.

"Karena itu, seluruh tokoh agama mengutuk perbuatan itu," kata Ma'ruf saat melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Tengah, Selasa (30/3).

Ketum PBNU Said Aqil Siroj mengatakan, memberantas jaringan terorisme harus dilakukan dari benihnya atau pintu masuknya ajaran ekstremisme. Menurut dia, pintu masuk terorisme di Indonesia adalah Wahabi.

Ia menekankan, bukan ajaran Wahabi-nya yang terorisme. Namun, kata dia, ajaran itu menjadi pintu masuk karena selalu menyatakan orang musyrik, sesat, dan lainnya satu langkah lagi boleh dibunuh.

"Jadi benih pintu masuk terorisme adalah Wahabi dan Salafi. Wahabi dan salafi adalah ajaran ekstrem," kata Said Aqil dalam webiinar mencegah radikalisme yang disiarkan di YouTube TVNU, Selasa (30/3)

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat