Sejumlah kader Nahdlatul Ulama (NU) mengikuti apel kesetiaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Gurah, Kediri, Jawa Timur, Ahad (2/8/2020). | ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
01 Mar 2021, 02:00 WIB

PBNU Perkuat Peran Kebangsaan

Wapres memberi catatan tentang gerakan kemasyarakatan NU yang dinilai perlu melakukan upaya-upaya yang lebih maksimal.

JAKARTA – Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) menggelar acara puncak Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-98 versi tahun Hijriyah pada Sabtu (27/2) malam. Tema yang diangkat pada Harlah NU tahun ini adalah Khidmah NU: Menyebarkan Aswaja dan Meneguhkan Komitmen Kebangsaan.

PBNU pun bertekad untuk lebih berperan bagi bangsa di usianya yang hampir seabad. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof KH Said Aqil Siroj mengatakan, pada saat KH Hasyim Asy’ari mendirikan NU bersama para kiai lainnya, tantangan yang dihadapi saat itu masih ringan atau kecil.

Namun, di usia NU yang kini sudah hampir genap 100 tahun dengan hitungan hijriyah, tantangannya jauh lebih besar. “Sekarang tantangan yang kita hadapi jauh lebih besar, lebih berat, lebih menantang, lebih tajam, lebih radikal, baik dalam negeri maupun luar negeri, baik yang bersifat agama, sosial, kemasyarakatan maupun politik,” ujar Kiai Said saat berpidato dalam acara Harlah NU ke-98 yang digelar secara virtual melalui Masjid Istiqlal Jakarta, Sabtu (27/2).

Terkait

Karena itu, Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah ini mengajak kepada seluruh warga nahdliyin untuk merapatkan barisan, baik yang aktif di Muslimat NU, Fatayat NU, maupun badan otonom NU lainnya. “Jauhkan perpecahan dan perselisihan. Beda pendapat boleh, tapi beda pendapatan itu yang berat, dimulai dari beda pendapatan nanti akan ada permusuhan,” ucap Kiai Said.

Agar NU lebih beperan lagi, menurut Kiai Said, maka warga NU pun harus mengacu kepada ajaran di dalam Alquran. Karena, menurut dia, Alquran telah memberikan bimbingan bagaimana cara berorganisasi yang benar, bernegara yang benar, bahkan berpartai yang benar.

Namun, menurut dia, akan percuma jika umat Islam hanya bisa berorganisasi ataupun berkumpul kecuali jika mempunyai tiga agenda. Pertama, yaitu agenda memobilisasi zakat infaq dan sedekah (ZIS). Kedua, memiliki agenda pendidikan dan kesehatan.

“Organisasi NU akan berguna dan bangsa Indonesia akan berwibawa kalau melakukan agenda ma’ruf dua saja, yaitu pendidikan dan kesehatan,” jelasnya.

photo
PWNU Jawa Timur melaksanakan program vaksinasi kepada 98 kiyai, ulama, dan tokoh Nahdlatul Ulama, Selasa (23/2). - (Dadang Kurnia/Republika)

Sedangkan agenda yang ketiga, menurut Kiai Said, adalah membentuk masyarakat yang sholeh. “Untuk membangun masyarakat yang sholeh harus membangun NU-nya dulu harus sholeh,” kata Kiai Said.

Dalam peringatan Harlah ke-98, PBNU juga meluncurkan aplikasi NU Online Super App. Aplikasi itu merupakan merupakan pengembangan NU Online versi mobile dengan penambahan sejumlah fitur baru, antara lain Alquran, doa, kompas kiblat, jadwal sholat, tahlil dan yasin, ensiklopedia NU, maulid, wirid, khutbah, video, dan lain-lain. Aplikasi ini dapat diunduh di playstore maupun appstore.

Kiai Said bersyukur dan dan bangga atas kehadiran aplikasi layanan keagamaan tersebut. Ia berharap aplikasi itu memberi manfaat besar tak hanya bagi warga NU ,tapi juga umat Islam secara umum.

“Aplikasi ini merupakan servis terbesar dan pelayanan terbesar untuk warga NU agar semuanya dapat mengakses dengan mudah berbagai amalan ibadah sehari-hari,” ujar Kiai Said.

Acara peringatan Harlah NU turut dihadiri Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin, dan para tokoh lainnya. Presiden dalam sambutannya mengajak PBNU untuk ikut menyukseskan program vaksinasi Covid-19.

Sementara, Kiai Ma'ruf Amin berpesan agar NU melakukan pembaruan, perbaikan, serta penguatan gerakan pengorganisasiannya jelang memasuki usia 100 tahun atau abad ke-2 pembentukan.

Ma'ruf mengatakan, perlunya pembaharuan gerakan ini terinspirasi hadis Rasulullah yang menyatakan, setiap awal serratus tahun akan muncul seorang yang melakukan pembaharuan terhadap urusan agamanya.

Namun, Kiai Ma'ruf mengatakan, pembaruan bagi NU bukan bentuk ajarannya karena hal tersebut sudah final. "Tetapi pembaruan yang dilakukan adalah pada gerakan dan langkah-langkah pengorganisasiannya," kata Kiai Ma'ruf dalam sambutannya.

Wapres mengingatkan, NU juga perlu melakukan muhasabah terhadap gerakan yang selama ini dilakukan. Muhasabah dilakukan untuk mengetahui apakah gerakan yang dilakukan selama ini masih sesuai dengan prinsip-prinsip garis-garis perjuangan NU, serta sesuai dengan tantangan aktual serta dinamika baik berupa pemikiran maupun gerakan yang harus direspons oleh NU.

photo
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj (kedua kiri) didampingi Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini (kanan) bersama Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo (kedua kanan) melakukan konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (28/1). Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menyambangi kantor PBNU dalam rangka silaturahmi usai dilantik sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia pada Rabu (27/1). Republika/Thoudy Badai - (Republika/Thoudy Badai)

Sedangkan upaya-upaya penguatan gerakan, kata Kiai Ma'ruf, dengan memperkuat upaya-upaya yang telah dilakukan selama ini yang sudah sesuai dengan prinsip-prinsip 'ke-NU-an' serta merespons tantangan saat ini.

"Berbagai masalah tersebut meliputi baik masalah diniyah (keagamaan) maupun masalah-masalah ijtima’iyah, karena NU merupakan gerakan perbaikan, baik masalah diniyah maupun ijtima’iyah baik di bidang pendidikan, ekonomi maupun sosial," katanya.

Namun demikian, ia menilai gerakan NU di bidang perbaikan keagamaan sudah sangat dirasakan manfaatnya. Khususnya yang menyangkut pandangan kebangsaan dan kenegaraan sesuai dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin yang telah menjadi arus utama bagi umat Islam Indonesia.

Akan tetapi, ia memberi catatan tentang gerakan kemasyarakatan NU yang dinilai perlu melakukan upaya-upaya yang lebih maksimal. Hal ini agar tidak tertinggal, terutama dalam bidang ekonomi dan teknologi informasi untuk mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat khususnya warga NU.

photo
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir (kanan) menyerahkan replika kunci mobil kepada Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj (kiri) saat acara penyerahan bantuan Covid-19 Mobile Diagnostic Real Time PCR di gedung PBNU, Jakarta, Senin (16/11/2020). - (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Sebab, pelaku usaha di Indonesia mayoritasnya adalah usaha mikro kecil yang jumlahnya mencapai 99 persen. Dari jumlah tersebut, Kiai Ma'ruf meyakini banyak berasal dari warga NU.

Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zein bin Umar bin Smith menyampaikan selamat atas hari jadi NU. Ia menyebut, tidak banyak ormas yang bisa tumbuh dan berkembang sebesar NU. "Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan NU menjadi ormas Islam terbesar di dunia," kata dia, kemarin.

Menurutnya, selama ini NU sudah menunjukkan kiprah yang luar biasa dalam menjaga keutuhan bangsa. NU juga turut andil menumbuhkan semangat belajar yang didasari dengan keilmuan dan akhlak lewat lembaga-lembaha pendidikan pesantren dan pendidikan formal.

"Selamat bagi seluruh pengurus dan anggota NU yang selama 98 tahun telah memberikan kontribusi nyata untuk umat Islam dan bangsa ini. Mabruuk," kata dia. 


×