Anak-anak menelepon guru saat belajar jarak jauh di Kampung Gudang Garam, Skanto, Keerom, Papua, Kamis (27/8/2020).Gudang Garam, sebanyak 50-an anak tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kampung Gudang Garam tak mengenal belajar daring, melainkan buku panduan yan | ANTARA FOTO/Indrayadi TH
25 Feb 2021, 03:10 WIB

Urgensi Vaksinasi Tenaga Pendidik

Jka target vaksinasi lima juta guru itu tercapai, kekebalan komunal di kalangan tenaga pendidik terbentuk.

Setelah vaksinasi terhadap tenaga kesehatan dan pedagang pasar dimulai, pemerintah kini menyasar petugas pelayanan publik lain, yakni guru dan tenaga kependidikan.

Vaksinasi, yang dipusatkan di gedung SMAN 70 Jakarta ini, disaksikan Presiden Joko Widodo, Rabu (24/2). Ada 600 guru dan tenaga kependidikan pada kesempatan pertama ini. Presiden mengungkapkan, vaksinasi ini menargetkan lima juta guru dan tenaga kependidikan.

Mereka masuk prioritas divaksin mengingat selama masa pandemi Covid-19, praktis pembelajaran tatap muka tidak berlangsung. Kegiatan belajar mengajar di hampir semua level sekolah dilakukan jarak jauh menggunakan aplikasi tatap muka virtual.

Ini ditempuh guna menekan penularan Covid-19. Pembelajaran jarak jauh dianggap sukses menekan kasus positif Covid-19 di klaster keluarga. Peningkatan kasus positif Covid-19 di klaster keluarga beberapa waktu terakhir, lebih banyak dipicu liburan panjang.

Terkait

 

 
Diharapkan, jika target vaksinasi lima juta guru itu sudah tercapai, kekebalan komunal di kalangan tenaga pendidik terbentuk.
 
 

Atas alasan tersebut, vaksinasi terhadap guru dan tenaga kependidikan menjadi penting. Diharapkan, jika target vaksinasi lima juta guru itu sudah tercapai, kekebalan komunal di kalangan tenaga pendidik terbentuk.

 

Ketika diputuskan ada pembelajaran tatap muka, kekebalan terhadap penularan virus di kalangan pendidik bisa diminimalisasi. Presiden menargetkan, vaksinasi bagi tenaga pendidik tuntas akhir Juni 2021 sehingga pembelajaran tatap muka bisa dimulai pada Juli.

Hal ini seturut dimulainya tahun ajaran baru. Hampir setahun pembelajaran tatap muka tidak dilakukan. Sejumlah riset mengungkapkan, pembelajaran jarak jauh dalam jangka panjang bisa berdampak pada perkembangan anak.

Tak sedikit anak-anak yang kecanduan gawai. Penerimaan mata pelajaran oleh siswa dinilai tak cukup efektif, selain tentunya tak semua kalangan mampu mengakses internet untuk pembelajaran ini, termasuk keterbatasan gawai yang dimiliki.

Utamanya, pembelajaran bagi siswa jenjang awal. Karena itu, vaksinasi ini diawali guru pada jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD). Berikutnya, di level SMP, SMA, dan perguruan tinggi.

 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengungkapkan, 5,5 juta tenaga pendidik yang akan divaksin.
 
 

Selama ini mafhum, pembelajaran jarak jauh yang paling sulit dilakukan bagi siswa di jenjang awal: PAUD, SLB, dan SD. Kegiatan belajar mengajar untuk mereka membutuhkan interaksi fisik dan tatap muka.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengungkapkan, 5,5 juta tenaga pendidik yang akan divaksin meliputi guru dan dosen, baik swasta maupun negeri, di bawah Kementerian Agama ataupun Kemendikbud. Termasuk tenaga pendidik formal dan nonformal.

Menjadi penting, vaksinasi dilakukan terhadap semua jenjang tenaga pendidik negeri ataupun swasta, formal dan nonformal, karena ketika pembelajaran tatap muka diwujudkan, potensi penularan virus tetap saja terbuka.

Vaksinasi akan meminimalisasi penularan karena kekebalan komunal bagi tenaga pendidik telah terbentuk. Namun, bagaimana dengan peserta didik? Akankah kekebalan mereka telah pula terbentuk?

 
Pihak sekolah harus mempersiapkan infrastruktur kesehatan, baik fisik maupun psikis. Orang tua pun harus memahami era baru pembelajaran di sekolah ini.
 
 

Untuk itu, proses pembelajaran tatap muka tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Sebab, peserta didik tidak tinggal sendirian ketika mereka pulang ke rumah selepas pembelajaran di sekolah.

Tak semua peserta didik juga memiliki imunitas bagus terhadap ancaman virus. Tentu, metode pembelajaran di sekolah nantinya tidak persis ketika belum pandemi. Pengurangan jam belajar dan frekuensi tatap muka bisa saja berkurang.

Adaptasi kebiasaan baru di sekolah mesti diformulasikan prosedurnya. Pihak sekolah harus mempersiapkan infrastruktur kesehatan, baik fisik maupun psikis. Orang tua pun harus memahami era baru pembelajaran di sekolah ini.

Sinergi dan kesepahaman antara pemerintah pusat, daerah, tenaga pendidik, orang tua, dan siswa mesti dibangun sejak vaksinasi tenaga pendidik ini dimulai untuk menyongsong era baru pembelajaran tatap muka. 


×