Aktor John Travolta | Invision

Geni

17 Feb 2021, 07:07 WIB

Refleksi Karier John Travolta

Sang ibu sempat bersyukur saat John Travolta gagal mendapatkan Piala Oscar. 

John Travolta dikenal sebagai aktor yang sukses memerankan berbagai karakter. Peran-perannya kerap membawa dampak besar terhadap pencinta film dunia. Tak heran dia dijuluki legenda hidup dan ikon kultural.

Pria kelahiran New Jersey, Amerika Serikat (AS), pada 66 tahun silam ini telah bermain dalam banyak judul sinema. Film Saturday Night Fever dan Pulp Fiction bahkan membuatnya mendapatkan nominasi Academy Awards. 

Pada program Mola Living Live, Jumat (5/2), John membagikan cerita tentang pengalaman hidup serta perjalanan kariernya. Dia sangat bersyukur bisa menjalani semua hal yang sudah dia lalui selama ini.

John adalah bungsu dari enam bersaudara. Dia dan beberapa saudaranya terinspirasi dari sang ibu, Helen Cecilia Burke, untuk mendalami dunia teater. Mendiang Helen merupakan aktris dan penyanyi di grup vokal radio setempat.

Setelah drop out dari sekolah, John pindah ke New York dan merintis karier di dunia teater. Dia mendapat peran untuk beberapa pertunjukan musikal dan Broadway yang merupakan asal mula dari berbagai perannya pada deretan judul film serta serial.

Saat melamun tentang masa depan, John berharap bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dari profesi sebagai pemeran teater, mungkin juga dengan membintangi iklan televisi. Ternyata apa yang dia capai melebihi imajinasi yang dibayangkan.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh John Travolta (johntravolta)

Hal yang mengejutkan bagi John, dia merasa lebih nyaman terlibat dalam sebuah film dibandingkan dirinya saat di panggung. "Memang ini berjalan sedikit berbeda dari apa yang saya pikirkan, tapi jauh lebih baik," ujarnya.

Dalam setiap perannya, John selalu berusaha total menjalankan tugas sebagai aktor. Secara pribadi, dia cenderung menerima peran yang memang membuatnya tertarik, terutama dari aspek skenario dan karakter yang dihidupkan.

Meraih popularitas pada usia muda tidak membuat John lupa diri. Dia tumbuh dalam keluarga teater sehingga familier dengan sosok-sosok terkenal di sekelilingnya. Menjadi termasyhur tak membuat John mengalami kesulitan atau terkejut saat menjalaninya.

Bahkan ketika mengalami pasang surut dalam karier, John tidak mau membuang-buang waktu. Saat ada masa lowong dalam tawaran maupun produksi film, John memilih untuk mengeksplorasi hal lain yang bermanfaat bagi dirinya.

Daripada berkubang dengan kekecewaan karena tak ada tawaran akting, John memilih berkeliling dunia. Dia memanfaatkan waktu bertemu orang-orang dengan beragam budaya di Afrika, Eropa, dan Asia, membuat pengalamannya makin kaya untuk kualitas akting.

Menurut dia, didikan keluarga dan agama yang membuatnya selalu percaya atas kemampuannya. "Harus percaya dengan diri sendiri untuk melewati masa surut apa pun," kata John.

 
Harus percaya dengan diri sendiri untuk melewati masa surut apa pun.
 
 

Demikian pula pada kesempatan-kesempatan yang tidak dia ambil. John beberapa kali menolak film, seperti Saving Private Ryan, American Gigolo, dan The Green Mile karena sejumlah alasan. Nyatanya film itu sukses besar.

Bagi John, peluang yang dia lewatkan selalu digantikan oleh Tuhan dengan kesempatan lain yang sama bagusnya atau lebih baik. Dia mengaku tidak pernah menyesal dan menganggapnya cara berbagi peran dengan aktor lain.

Perlu ketertarikan bagi John untuk menerima sebuah proyek, selain aspek kepercayaan dari sang sutradara. Menurut John, saling percaya antara sutradara dan aktor/aktris sangat menentukan hasil akhir karya.

John lantas memberikan nasihat terbaik kepada para sutradara, yaitu pekerjakan aktor yang dipercaya mutlak 100 persen. "Biarkan mereka melakukan pekerjaannya dan mereka akan memberikan lebih dari semua ekspektasi," ujarnya.

 
Biarkan mereka melakukan pekerjaannya dan mereka akan memberikan lebih dari semua ekspektasi.
 
 

Jika sutradara belum memiliki kepercayaan itu setelah penentuan seleksi pemain, mungkin hasil karya baik-baik saja. Namun, tak ada sesuatu yang unik dan spesial. Dalam tataran kreatif, John merasa aktor butuh kebebasan penuh.

Dia mencontohkan saat membintangi film Pulp Fiction arahan sutradara Quentin Tarantino. Sang sineas menawarkan peran itu setelah mereka berbincang dan memainkan board game karena Quentin terkesan dengan kemampuan analitis John.

Setelah berbagai perbincangan soal aspek finansial, mendadak Quentin mengatakan John sangat cocok memerankan Vincent Vega. Tarantino menyebut, tokoh itu adalah pembunuh bayaran yang bijaksana dan analitis.

John pun dipercaya menghidupkan tokoh itu sesuai imajinasinya. Menurut John, kepercayaan itulah yang penting, layaknya aktor percaya bahwa sutradara mampu meramu semua elemen film menjadi orkestra megah dan karya maestro yang epik.

Jika disuruh memilih, John paling suka membintangi film bergenre musikal. Dia menikmati menjadi tokoh lucu, membuat penonton ikut bernyanyi dan menari. Akan tetapi, dia juga banyak membintangi film laga serta thriller.

Sejumlah genre tersebut tidak masalah sebab John tetap merasa nyaman dan bisa bebas berkreasi. Saat merefleksikan kembali hidupnya, John ingin mengatakan kepada dirinya yang lebih muda bahwa dia sudah melakukan yang terbaik.

Kesuksesan di mata John adalah hal yang personal, relatif, dan subjektif. Dengan semua pencapaian dan popularitas yang dimiliki, John menganggap itu sebagai tiket emas untuk menjalani kehidupan secara berbeda dengan orang lain.

Dukungan keluarga

Pria kelahiran Februari 1954 itu sudah membintangi puluhan judul sinema dan serial televisi. Dia bersahabat dengan banyak aktor, sutradara, dan sineas, bahkan pernah berdansa dengan Putri Diana saat kunjungannya ke Gedung Putih.

Pada usia sekarang, dia cenderung memikirkan masa depan kedua anaknya. John teringat ketika dia mendapat dua nominasi Oscar dan tidak menjadi pemenang. Kala itu, ibu dan ayahnya datang. Sang ibu mengucap syukur karena John tidak menang.

John kaget dan bertanya kepada ayahnya, mengapa ibunya malah senang dia tidak menang. Sang ayah mengatakan, ibunya ingin John punya sesuatu untuk dinanti-nantikan, tidak langsung mendapat pencapaian maksimal karena nanti akan cepat puas.

Dia kagum pada ibunya yang menjaganya tetap tertarik dengan bidang yang dijalani. Seperti itulah dia ingin menjadi orang tua untuk anak-anaknya. Kini, John juga tetap ingin melakukan apa pun yang membuatnya tertarik menjalani hidup.

Baginya, hidup adalah skenario yang berkelanjutan. "Prestasi dan pencapaian adalah ide bagus, tapi seseorang harus tetap melanjutkan hidup, mengakhiri satu bab dalam hidupnya dan memulai bab yang baru," ujarnya.


×