Pasangan suami istri Brian Kelly Jones (kiri) bersama sang istri Afni bersalaman usai menikah dalam hijrah festival 2018 di Jakarta Covention Center, Jakarta, Ahad (11/11). Brian Kelly Jones adalah seorang muallaf yang menikah dalam acara Hijrah Festival | Republika/Iman Firmansyah

Khazanah

13 Feb 2021, 10:36 WIB

Mayoritas Mualaf Tionghoa dari Kelas Pekerja

Kriteria Muslim Cina dan para mualaf didominasi oleh kalangan usia pekerja dan mahasiswa.

JAKARTA – Ketua Yayasan Haji Karim Oei dan Ketua Masjid Lautze, Ali Karim, mengatakan, mualaf etnis Cina di Indonesia berasal dari kelas pekerja. Hanya segelintir kecil saja yang berasal dari kelas pengusaha besar.“Yang jadi mualaf (dari etnis Cina) itu kebanyakan kelas pekerja. Ada pengusaha, pengusaha besar ya, itu paling hanya satu dua (segelintir kecil),” kata Ali saat dihubungi Republika, Jumat (12/2).

Pertumbuhan populasi masyarakat Muslim beretnis Cina ini terus meningkat dengan kriteria yang berbeda jika dibandingkan 10 atau 50 tahun lalu. Di era generasi ayahnya (Haji Karim Oei 1905-1988), Ali mengatakan, populasi Muslim Cina berasal dari rentang usia yang relatif tua.

Pada masa lalu, kata dia, kebanyakan masyarakat Muslim Cina sudah terlalu berumur. Mereka yang telah pensiun itu pun sudah cukup kuat secara finansial. Mereka kemudian mulai mencari-cari agama serta keyakinan yang mereka yakini dapat menemani akhir-akhir masa hidup mereka.

Namun, pada masa kini, kriteria Muslim Cina dan para mualaf didominasi oleh kalangan usia pekerja dan mahasiswa. “Sekarang itu sudah banyak sekali mualaf dari kalangan mahasiswa, jadi banyak yang muda-muda justru yang jadi Islam,” kata Ali.

Pembina Masjid Lautze 2 Bandung Hernawan Mahfudz mengatakan, di Bandung, mualaf etnis Cina didominasi oleh kalangan pekerja. Rentang usia mereka juga berasal dari kalangan muda di kelas pekerja dan mahasiswa.

Dia pun menjelaskan, pertumbuhan mualaf Tionghoa di Bandung amat baik. Setiap tahun, ada sebanyak 52 warga Tionghoa yang menjadi Muslim. 

Wakil Ketua Umum DPP Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Denny Sanusi menjelaskan, perkembangan dakwah di kalangan etnis Tionghoa amat pesat. Dia menjelaskan, banyak saudara-saudara sesama etnis yang bertanya tentang agama Islam ke saudara-saudara yang tergabung di PITI. Mereka yang belum memeluk Islam tidak kaku saat bertanya kepada saudara sesama etnis yang sudah Muslim. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Ia menceritakan, karena seringnya interaksi Muslim Tionghoa dengan saudara yang non-Muslim, banyak pertanyaan yang mengganggu pikiran non-Muslim Tionghoa yang kini terjawab. Menurut dia, para relawan PITI bisa menjawab pertanyan-pertanyaan mereka. “Mereka banyak bertanya tentang pandangan Islam dan ajaran Islam dan lain sebagainya," ujar dia. 

Denny mengatakan, pada akhirnya mereka tahu selama ini ada miskomunikasi tentang Islam. Sebelumnya mereka mendapatkan informasi bahwa Islam itu negatif, radikal, teroris, dan lain-lain. Informasi itu terbantah oleh PITI yang menyampaikan Islam rahmatan lil alamin.

Menurut dia, sekarang pandangan negatif terhadap Islam itu sudah tidak ada. Meski masih ada satu atau dua orang, akhirnya dapat hidayah dan memeluk agama Islam. ';

×