Hikmah Republika Hari ini | Republika
20 Jan 2021, 03:30 WIB

Munajat Penyempurna Ikhtiar

Munajat kepada Allah SWT menjadi penyempurna ikhtiar agar pandemi ini segera berakhir.

OLEH INAYATULLAH HASYIM

Bangsa Indonesia telah memulai vaksin nasional pada 13 Januari lalu. Inilah ikhtiar kita bersama untuk mengakhiri pandemi. Berdasarkan data WHO, sampai 16 Januari 2021, Covid-19 telah menyebabkan lebih dari 2 juta orang meninggal dunia.

Selain vaksin dan menjaga 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menghindari kerumunan), kita seharusnya menambah satu M lagi. Yaitu "munajat" kepada Allah SWT agar pandemi ini segera berakhir.

Sebagai teladan, Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana beliau SAW mengisi waktu malamnya dengan qiyamul-lail sebagai persiapan menerima tugas-tugas kenabian. Bukankah Allah SWT berfirman, "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit." (QS al-Muzammil: 1-3).

Terkait

Karena itu, ulama mengatakan, shalat malam atau qiyamul lail hukumnya wajib bagi Rasulullah SAW, tapi tidak bagi umatnya. Maka, menjelang Perang Badar pun, Rasulullah SAW menghabiskan malam dengan bermunajat. Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Malam itu aku melihat Rasulullah terjaga, menangis dalam shalat doanya."

Namun, Allah tidak memerintahkan kita terus terjaga sepanjang malam. Sebab, Islam adalah agama fitrah yang menjaga keseimbangan kesehatan. Bukankah dalam ayat lain, Allah SWT menegaskan bahwa Dia telah jadikan tidur sebagai istirahat, dan malam sebagai selimutnya.

Ketika ada tiga sahabat yang saling berjanji untuk tidak tidur, tidak berbuka puasa dan tidak menikah semata hanya untuk fokus beribadah, Rasulullah SAW berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling takwa kepada-Nya dibandingkan kalian semua. Akan tetapi, aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat malam dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita."

Karena itu, saat asyik terlelap dalam tidurmu itu, berusahalah untuk bangun. Curilah pengujung waktu malammu untuk merengek dalam doa. Sebab, itulah waktu terindah untuk bermunajat. Demikianlah dijelaskan oleh Rasulullah SAW ketika ditanya seorang sahabat, doa di waktu apa yang paling didengar Allah? Beliau SAW menjawab, "Pada pengujung malam."

Imam Ibnul Qayyim berkata, "Hamba yang paling dicintai Allah adalah adalah dia yang paling banyak meminta kepada-Nya, merasa selalu membutuhkan-Nya. (Ketahuilah), sungguh Allah mencintai orang-orang yang merengek dalam doanya, dan semakin seorang hamba merengek dalam meminta pada-Nya, semakin dia dicintai-Nya, semakin didekati-Nya dan (pasti) dijawab (segala permintaannya itu) oleh Allah SWT."

Mengapa demikian istimewa shalat pada waktu malam itu? Sebab, ia melatih kita untuk jauh dari sifat riya, pamer, dan sombong. Maka, seakan menyindir bagi yang riya, Imam Ibnul Qayyim mengingatkan lagi. Katanya, "Bahwa engkau tertidur di malam hari dan menyesal di pagi hari (karena tak terbangun shalat malam) adalah lebih baik daripada engkau shalat di malam hari dan menjadi sombong (karena shalat malammu itu) di pagi hari."

Wallahu a'lam bissawab.


×