Jamaah melaksanakan shalat Jumat, di Masjid Raya Baitul Faidzin, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/1/2021). Kampanye protokol kesehatan lewat pesan keagamaan dinilai penting untuk kesadaran umat. | ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
17 Jan 2021, 21:55 WIB

Pesan Dakwah Protokol Kesehatan

Kampanye protokol kesehatan lewat pesan keagamaan dinilai penting untuk kesadaran umat.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Kampanye protokol kesehatan lewat pesan keagamaan melalui para dai dinilai penting untuk membangkitkan kesadaran umat. Tak bisa dimungkiri bahwa tak sedikit dari masyarakat Indonesia saat ini yang mulai berada di titik jenuh dalam menegakkan disiplin protokol kesehatan Covid-19. Semakin meningkatnya jumlah kasus Covid-19 dan pengetatan protokol kesehatan membuat masyarakat harus membatasi aktivitas di luar.

Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia (DMI) Imam Addaruquthni menjelaskan, kalangan agamawan dapat mengambil peran untuk meningkatkan kembali narasi disiplin protokol kesehatan (prokes). Semisal, ujar dia, klaster masjid tidak menjadi penyumbang kasus Covid-19 terbesar di Indonesia.

Padahal, dari semua masjid di Indonesia yang mengadakan shalat Jumat saja, diproyeksikan terdapat 150 juta warga Muslim yang shalat di masjid. "Ini karena jamaah masjid sangat memperhatikan prokes," kata Imam saat dihubungi Republika, Rabu (6/1/2021).

Terkait

Dia menjelaskan, kalangan masjid, dari pengurus, jamaah, hingga warga sekitar, telah menyadari pentingnya prokes. Surat edaran prokes yang dikeluarkan DMI pun, kata dia, telah dijalankan secara maksimal di lingkup masjid. Aturan sederhana seperti menggulung sajadah, menjaga kebersihan masjid, menjauhkan jarak shaf, membersihkan mikrofon dan sound system masjid secara berkala, hingga penggunaan masker ketika jamaah berada di masjid dipatuhi para warga masjid.

 
Ini karena jamaah masjid sangat memperhatikan prokes.
IMAM ADDARUQUTHNI, Sekjen Dewan Masjid Indonesia
 

"Surat edaran prokes dari DMI itu semacam anjuran umum. Kita berharap ini dipertahankan dan dijalankan dengan baik oleh jamaah," kata dia.

Tidak hanya di masjid, kesadaran yang tinggi mengenai protokol kesehatan juga diperlihatkan jamaah majelis taklim. Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Syifa Fauzia menjelaskan, dengan situasi pandemi yang ada, para ustazah memang memiliki tantangan saat mengadakan pengajian di majelis-majelis taklim. Hal itu karena adanya sistem atau pola kajian majelis taklim dari tatap muka langsung dengan metode daring yang tidak mudah.

"Namun, saya rasa ibu-ibu majelis taklim sekarang ini pun sudah sangat paham bahwa Covid-19 sangat berbahaya, apalagi banyak guru yang belakangan terindikasi positif," kata Syifa saat dihubungi Republika, Rabu (6/1/2021).

photo
Jamaah melaksanakan ibadah Sholat Jumat di Masjid Al Ukhuwah, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (15/1/2021). Pemerintah Kota Bandung memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara proporsional di tempat ibadah dengan membatasi jumlah jamaah menjadi 50 persen guna mengantisipasi penyebaran Covid-19 - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Dia menjelaskan, selain selalu memakai masker apabila memang diharuskan bertemu, majelis taklim biasanya membuat aturan untuk duduk berjarak dan tidak bersalaman. Hal itu dinilai cukup sulit karena kalangan ibu-ibu terbiasa hangat dan akrab setiap bertemu.

Untuk itu, ia mengimbau kepada para ustazah agar dapat menjadi contoh dalam berkehidupan sekarang ini, yakni dengan memberikan pendalaman bahwa apabila tidak bisa langsung bertatap muka, kegiatan memberikan nasihat dan pesan-pesan dapat dilakukan lewat berbagai platform digital yang tersedia.

Dia menekankan, saat ini sangat penting untuk menekankan tema dakwah berdisiplin prokes. Apalagi, faktanya kini jumlah penyebaran Covid-19 di Indonesia makin meningkat. "Tapi, saya rasa masyarakat sudah cukup paham bahaya Covid-19, meskipun memang berada kembali di rumah secara 100 persen sudah agak susah," ungkapnya.

 
Saya rasa masyarakat sudah cukup paham bahaya Covid-19, meskipun memang berada kembali di rumah secara 100 persen sudah agak susah.
USTAZAH SYIFA FAUZIA, Ketua Umum BKMT
 

Dia pun berharap hadirnya vaksin yang halal dan tepat dapat terakses untuk seluruh rakyat. Hal tersebut pun dapat membantu proses pemulihan kesehatan dan perekonomian Indonesia. Namun demikian, ia tetap mengimbau kepada seluruh pihak untuk tidak mengendurkan prokes sama sekali bagaimana pun kondisinya.

Pendakwah dari Darus Sunnah International Institute for Hadith and Sciences, Ustazah Izza Farhatin Ilmi, menjelaskan, peran ustazah dalam dakwah melawan pandemi diwujudkan dengan beragam cara. Cara tersebut berupa aspek literasi, khutbah kajian, hingga selingan doa rutin agar pandemi segera hilang dari Indonesia.

Ustazah Izza juga menyampaikan, cara mengabarkan tentang pentingnya menjaga prokes serta seberapa bahayanya Covid-19 dapat dilakukan dengan pendekatan yang berbeda. Dalam dakwah di kalangan usia remaja hingga dewasa, literasi bahaya Covid-19 tidak terlalu ditekankan karena kalangan ini umumnya sudah lebih pandai dalam menyaring informasi.

 
Setiap kajian, kami siapkan tema tertentu. Nah, di sinilah kami sisipkan dakwah pencegahan Covid-19.
USTAZAH IZZA FARHATIN ILMI
 

"Usia remaja hingga kalangan 40 tahunan sudah mulai aware terhadap apa itu Covid-19 dan bahayanya, sehingga dakwah dalam kalangan ini lebih ditekankan bagaimana Islam menganjurkan tentang menjaga kesehatan, pentingnya menjaga kesehatan dan jiwa," kata dia.

Untuk kalangan usia yang lebih senja, Ustazah Izza menyebutkan, dakwah dengan tema tertentu disisipi dengan imbauan serta ajakan untuk berdisiplin prokes Covid-19. Menurut dia, di kalangan jamaah perkotaan, literasi bahaya Covid-19 dan penting nya kesehatan selalu masuk dalam pembahasan yang disisipkan dalam tema-tema kajian.

"Setiap kajian, kami siapkan tema tertentu. Nah, di sinilah kami sisipkan dakwah pencegahan Covid-19. Bagaimana bentuknya? Ya, senantiasa patuhi prokes," ujar dia.


×