Syekh Muhammad al-Ghazali | DOK WORDPRESS
17 Jan 2021, 08:15 WIB

Humumu Daiah: Karya Syekh Muhammad al-Ghazali

Karya Syekh Muhammad al-Ghazali ini mengajak pembaca untuk melihat secara arif kondisi umat Islam kini.

OLEH MUHYIDDIN 

Syekh Muhammad al-Ghazali merupakan seorang tokoh pembaharuan Islam pada abad ke-20. Penulis lebih dari 94 buku itu lahir di Desa Nakla al-‘Inab, Buhairah, Mesir, pada 22 September 1917. Ia berasal dari keluarga yang sederhana. Masyarakat setempat mengenal ayahnya tidak hanya sebagai pedagang, tetapi juga penghafal Alquran.

Tidak mengherankan bila anak-anaknya tumbuh dalam suasana yang religius. Si sulung memulai pendidikan dasar di sekolah khusus para hafizh. Saat berusia 10 tahun, dia sudah piawai menghafal Alquran 30 juz.

Masa remajanya dihabiskan untuk menuntut ilmu-ilmu agama. Tak mengherankan bila dirinya dapat diterima di Universitas al-Azhar, Kairo. Setelah lulus, Muhammad al-Ghazali meneruskan studi pascasarjana di kampus yang sama. Pada 1943, sosok berhaluan moderat ini berhak menyandang gelar master dari Jurusan Dakwah.

Terkait

Bapak tujuh orang anak ini lantas menjadi dosen. Karier akademisnya sangat cemerlang. Reputasinya tidak hanya masyhur di al-Azhar, tetapi juga sejumlah kampus di luar Mesir, semisal Universitas Ummul Qura, Makkah, Arab Saudi.

Sebagai tokoh moderat, pemikirannya diikuti banyak kalangan, tidak hanya Muslimin di Timur Tengah, tetapi juga Nusantara. Salah satu bukunya secara khusus berisi perenungannya tentang situasi umat Islam pada abad modern. Karya yang dimaksud adalah Humumu Da’iah. Buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Merindu Islam Nabi: Keprihatinan Seorang Juru Dakwah Syaikh Muhammad al-Ghazali (2015).

photo
Buku terjemahan atas karya Syekh Muhammad al-Ghazali ini menyuarakan keresahan hati sang alim dalam melihat realitas umat Islam saat ini. Di antaranya, tokoh dari Universitas al-Azhar Mesir tersebut menyayangkan bahwa Muslimin disuguhkan polemik-polemik yang membuang energi karena berkutat pada soal khilafiyah. - (DOK PRI)

Buku ini menyodorkan potret suram kondisi umumnya umat Islam di seluruh dunia saat ini. Menurut Syekh Muhammad al-Ghazali, situasi demikian turut dipicu oleh minimnya perhatian dari kalangan alim ulama. Pembahasan dalam buku ini dibagi menjadi 13 bab. Di antara uraian-uraian yang cukup menarik adalah tentang kecenderungan menyimpang kaum juru dakwah.

Syekh al-Ghazali mengatakan, dirinya menyaksikan beberapa orang berbicara tentang Islam, tetapi dengan cara yang tidak dapat diterima akal. Jika kaum bernalar sangat merindukan kebebasan, menurut dia, mereka justru gandrung pada segala pembatasan. Alih-alih kemudahan dan kelapangan, mereka justru mengutamakan segala yang menyulitkan dan merumitkan.

Al-Ghazali meneruskan, para juru dakwah dengan sifat demikian cenderung sibuk menakwilkan nash-nash dan mencari-cari dalil-dalil. Hal itu dilakukan bukan terutama untuk mencerahkan masyarakat, tetapi demi menguatkan dalih atau memenangkan mereka dalam setiap perdebatan.

Ia pun memberikan beberapa contoh terkait hal itu. Misalnya, sebagian orang yang mempelajari ilmu hadis menyatakan bahwa penghapusan perbudakan tidak termasuk dalam ajaran Islam. Syekh al-Ghazali menggugat mereka dengan mengatakan, “Penyakit yang Anda derita ialah, Anda menyibukkan diri dengan hadis-hadis sebelum menguatkan hubungan Anda dengan Alquran al-Karim sehingga Anda tidak memiliki kemampuan ilmiah yang dapat membantu untuk menyimpulkan hukum-hukum secara benar.”

photo
Imam al-Ghazali akhirnya mengetahui penyebab saudaranya sempat enggan bermakmum kepadanya. Belakangan, ia justru mendapatkan pelajaran hikmah dari seorang sufi sederhana - (DOK EPA Saudi Ministry of Media)

Syekh al-Ghazali menegaskan, dakwah dengan cara-cara yang bijaksana adalah dasar untuk menyebarluaskan Islam. Ia mengaku prihatin karena acap kali menjumpai dai-dai yang begitu mudahnya menghakimi pihak lain. Bahkan, mereka tak segan-segan mengafirkan saudara seiman hanya karena melakukan perbuatan-perbuatan yang dibencinya. Sebagai contoh, sang syekh bercerita, pernah dirinya ditanya tentang kaidah seorang Muslim yang mendaftar sebagai tentara.

Si penanya berkata, “Mereka itu memberi hormat pada bendera, dan ini adalah suatu bentuk penyembahan berhala.”

Bagaimana mungkin hormat kepada bendera dapat menyebabkan seorang Mukmin kehilangan imannya kepada Allah SWT dan Rasul SAW? Menurut Syekh al-Ghazali, pandangan yang memperhadapkan antara nasionalisme dan Islam cukup merepotkan umat Islam saat ini.

Ia mengaku sedih karena sejumlah orang yang dikenalnya memiliki hati yang baik, tetapi mereka sangat fanatik terhadap pandangan yang tak begitu penting. Padahal, masih banyak masalah besar terkait kondisi kaum Muslimin sedunia yang lebih layak diberi perhatian.

Orang-orang fanatik justru menjadi mangsa empuk bagi musuh-musuh Islam. Karena itu, lanjut sang syekh, mata mereka harus dibuka lebar agar dapat menyadari bahwa perilaku demikian sangat berbahaya. Kesadaran itu perlu agar mereka tidak akan menimbulkan malapetaka terhadap agama dan umat.

Pertanyaan dari Masa Silam

Dalam buku ini, Syekh al-Ghazali meneruskan kisahnya. Ia mengaku pernah bertemu dengan orang-orang yang masih saja disibukkan dengan pertanyaan dari masa silam. Pertanyaan-pertanyaan yang pernah menimbulkan prahara di tengah kaum Muslimin, semisal, “Apakah Alquran makhluk atau bukan?”

Padahal, sambung dia, pertanyaan semacam itu sudah lewat sejak 12 abad lalu. Dan, tidak seorang pun kini di abad modern mau merasakan dampaknya lagi. Ya, sejarah mencatat, pertanyaan di atas bahkan menimbulkan tragedi berdarah di tengah umat Islam.

Kaum ahlus sunnah waljamaah (aswaja) mesti berhadapan dengan kelompok mu’tazillah. Yang terakhir itu kadang kala didukung penguasa sehingga ulama-ulama aswaja yang menentangnya diburu atau bahkan disiksa hingga ajal menjemput.

Karena itu, Syekh al-Ghazali sampai-sampai mempertanyakan kesehatan jiwa kelompok manapun yang ingin mengungkit-ungkit lagi pertanyaan demikian. Bahkan, ia menduga ada kekuatan-kekuatan lokal maupun internasional yang membantu kemunculan hal tersebut. Mereka itu tidak ingin Islam kembali memimpin peradaban dunia karena disibukkan pelbagai perkara remeh di internal Muslimin sendiri.

Membaca buku Merindu Islam Nabi tidak hanya mengetahui bagaimana keresahan seorang ulama besar dalam menyaksikan tantangan-tantangan zaman masa kini. Buku tersebut juga seakan-akan mengajak pembaca untuk memahami bahwa masih banyak persoalan besar yang membelit umat Islam. Sayangnya, seperti ditunjukkan sang penulis, masalah-masalah besar seringkali diluputkan oleh perkara-perkara remeh yang bahkan sudah selesai di masa lalu.

Apa saja masalah besar itu? Menurut Syekh al-Ghazali, umat Islam pada era modern masih mengalami kebobrokan politik, keterbelakangan ekonomi, dan keterbelengguan sosial. Ia menekankan, langkah pertama untuk mengatasi seluruh persoalan itu adalah perbaikan pada aspek pendidikan dan akhlak. Dua hal itu yang mesti sesegera mungkin direbut kembali oleh Muslimin di manapun berada.

 
Umat Islam pada era modern masih mengalami kebobrokan politik, keterbelakangan ekonomi, dan keterbelengguan sosial.
 
 

Pada poin inilah, Syekh al-Ghazali menyuarakan kerinduannya akan kejayaan Islam pada masa Nabi Muhammad SAW. Risalah kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah rahmat bagi alam semesta. Semangat rahmat universal itu kemudian mengubah bangsa Arab yang tadinya diliputi era kebodohan (jahiliyah) menjadi perintis perubahan.

Selanjutnya, berbagai kekhalifahan muncul dengan menyinari dunia. Peradaban Islam melahirkan berbagai penemuan dan kontribusi besar dalam berbagai bidang keilmuan, semisal matematika, kedokteran, astronomi, dan sebagainya.

Karena itu, ulama berkebangsaan Mesir ini mengajak sidang pembaca untuk tidak melupakan sejarah. Lebih khusus lagi, kalangan agamawan yang diharapkan menjadi penerang umat. Jangan lagi mereka asyik memperuncing masalah-masalah khilafiyah di bidang ibadah //mahdah//. Sebab, perdebatan yang tak habisnya pada perkara-perkara tak signifikan hanya akan menguras energi atau bahkan memecah-belah Muslimin.

Buku ini menyodorkan potret suram kondisi Muslim saat ini. Bagaimanapun, ada pula nuansa optimisme yang ditawarkan sang alim yang wafat pada 9 Maret 1996 itu. Asa itulah yang mendorongnya untuk menuliskan risalah ini. Harapan untuk menyaksikan lagi kegemilangan peradaban Islam yang menyebarkan rahmat bagi seluruh penduduk bumi.

 

DATA BUKU

Judul: Merindu Islam Nabi: Keprihatinan Seorang Juru Dakwah Syaikh Muhammad al-Ghazali (terjemahan atas //Humumu Da’iah//)

Penulis: Syekh Muhammad al-Ghazali

Penerjemah: Muhammad Jamaluddin

Penerbit: Noura Books

Tebal: 284 halaman


×