Sejumlah petugas kesehatan mengantre untuk mendapatkan vaksin Covid-19 saat didistribusikan di Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung, Jalan Supratman, Rabu (13/1). Dinas Kesehatan Kota Bandung mendistribusikan 25.000 dosis vaksin Covid-19 ke 191 | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
14 Jan 2021, 03:15 WIB

Vaksinasi Covid-19 Daerah Bergulir

Presiden menekankan vaksinasi penting untuk memutus penularan Covid-19.

 

JAKARTA – Presiden Joko Widodo telah mendapatkan suntik vaksin Covid-19 yang pertama di Indonesia. Vaksinasi yang juga dilakukan bersama perwakilan pejabat dan unsur masyarakat lainnya ini akan terus dilanjutkan ke berbagai daerah di Indonesia.

“Setelah kita melakukan vaksinasi perdana ini, nanti akan terus dilanjutkan vaksinasi di seluruh provinsi, kabupaten/kota di seluruh Tanah Air,” kata Jokowi saat memberikan keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/1).

Penyuntikan terhadap Presiden dilakukan Dokter Kepresidenan Prof Abdul Muthalib. Ada sejumlah pejabat, tokoh, dan perwakilan masyarakat yang ikut divaksin perdana bersama Presiden, kemarin.

Terkait

Presiden menekankan, program vaksinasi ini penting dilakukan untuk memutus rantai penularan virus corona di Indonesia. Selain itu, vaksinasi juga diperlukan untuk memberikan perlindungan kesehatan kepada masyarakat.

Sejumlah daerah dijadwalkan meluncurkan vaksinasi Covid-19 hari ini. Di Jawa Barat, tujuh kabupaten/kota serentak menjalankan vaksinasi tahap I. Di Jawa Tengah ada tiga wilayah, Jawa Timur tiga wilayah, dan Sulawesi Selatan tiga wilayah. Sedangkan DKI Jakarta baru menjalankan vaksinasi perdana pada Jumat (15/1).

Masing-masing pemerintah kabupaten/kota lokasi vaksinasi tersebut sejauh ini menyatakan telah siap menjalankan vaksinasi. Di Kabupaten Semarang, misalnya, 26 puskesmas, dua rumah sakit milik pemkab, serta dua klinik kesehatan jadi lokasi vaksinasi. Tiap-tiap faskes bakal melayani 45 orang nakes per hari.

“Untuk vaksinasi tahap pertama ini, kami mendapat jatah 8.000 dosis dan itu merupakan jumlah aman untuk pemberian vaksinasi dua kali kepada tiap- tiap nakes,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, Ani Rahardjo. Total nakes di Kabupaten Semarang yang akan menerima vaksinasi Covid-19 tahap I mencapai 3.987 orang.

Di Jawa Barat, Pemkot Depok telah menerima 10 ribu lebih dosis vaksin Covid-19. "Untuk tahap awal, sebanyak 11.140 orang di Kota Depok akan mendapatkan vaksin Covid-19," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita di Depok, Rabu (13/1). Sebanyak 60 faskes akan jadi lokasi penyuntikan vaksin.

photo
Petugas menurunkan vaksin Covid-19 Sinovac dari truk untuk ditempatkan di ruang pendingin di UPTD Instalasi Farmasi, Depok, Jawa Barat, Selasa (12/1).  - (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)

Di Kota Bandung, 10 tokoh termasuk selebritis dan influencer akan menjadi yang pertama disuntik vaksin Covid-19. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Ahyani Raksanagara menambahkan, pada tahap pertama pihaknya sudah menerima 25 ribu dosis vaksin. Fasilitas kesehatan yang disiapkan untuk vaksinasi sebanyak 191 titik.

Sekretaris Dinas Kesehatan Jawa Timur, Hertanto menyatakan, vaksin Covid-19 telah dikirim Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, kemarin. Meski begitu, kendala kapasitas penyimpanan cold storage membuat tak semua jatah dosis bisa dikirim sekaligus. "Dari alokasi Surabaya 33.420 yang kita distribusikan 15 ribu. Kemudian Sidoarjo dari alokasi 8.717 yang kita distribusikan 4.000. Kemudian Gresik dari alokasi 5.805 yang kita distribusikan 3.000," ujar Hertanto.

Di Sumatra, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Barat juga telah mendistribusikan vaksin Covid-19 untuk Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan. Staf Pengelola Vaksin Dinkes Sumbar Yulia Elvianti mengatakan dua daerah tersebut kini jadi perioritas mengingat Kota Padang merupakan ibu kota provinsi dan jumlah penularan paling tinggi dan Pesisir Selatan merupakan daerah perbatasan.

Yulia menyebut Dinkes Kota Padang sudah menjemput 9.138 dosis dan Pesisir Selatan telah menerima sebanyak 18.276 dosis. Untuk 17 kabupaten dan kota lainnya di Sumbar menurut Yulia baru akan melakukan vaksinasi pada Februari 2021 mendatang.

Sementara, vaksinasi perdana di provinsi paling timur, Papua, rencananya dilaksanakan pada Jumat (15/1). Kendati demikian, mengingat munculnya penolakan vaksinasi di wilayah itu, Kepala Bidang P2P Dinkes Papua, dr Aaron Rumainum menyuntikkan sendiri vaksin ke dirinya pada Rabu (13/1). "Saya lakukan untuk tenaga kesehatan supaya mereka tidak takut," ujar dr Aaron yang juga merupakan vaksinator itu di Jayapura, Rabu.

Ia menuturkan, saat menyuntik dan menerima vaksin, lengannya sempat merasa agak nyeri dan kepalanya terasa ringan. Namun, setelah 30 menit kondisi tubuhnya stabil hingga beraktivitas seperti biasa. Sebanyak 14 tokoh bakal divaksinasi di Jayapura, Jumat. Papua sejauh ini telah menerima 14.680 dosis vaksin Sinovac. 

photo
Presiden Joko Widodo (tengah) berfoto bersama peserta vaksinasi Covid-19 perdana di beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (13/1). Penyuntikan perdana vaksin ke Presiden Joko Widodo tersebut menandai program vaksinasi Covid-19 di Indonesia. - (ANTARA FOTO/HO/Setpres-Laily Rachev)

Jangan Ragu Divaksin

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) meminta seluruh tenaga medis, khususnya dokter, agar tidak ragu menerima vaksin Covid-19. Ketua Umum IDI Daeng M Faqih menyampaikan, masuknya tenaga medis ke dalam kelompok prioritas bukan tanpa alasan. 

Tenaga medis sebagai kelompok terdepan yang setiap hari melayani dan bertemu langsung dengan pasien, harus punya kekebalan untuk keamanan diri sendiri dan orang lain. "Dengan divaksin pertama ini maka kekebalan tubuh muncul. Harapannya, tenaga kesehatan yang setiap hari bersentuhan dengan pasien terlindungi tidak gampang terinfeksi," kata Daeng di Istana Kepresidenan, Rabu (13/1). 

Daeng meyakini, vaksinasi akan ampuh mengurangi risiko gugurnya para tenaga kesehatan akibat Covid-19. Ia mengingatkan, jumlah tenaga medis yang gugur akibat Covid-19 sudah mencapai ratusan orang. 

Sebagai simbol dukungan pemerintah, dalam vaksinasi Covid-19 perdana hari ini dilibatkan perwakilan dari tenaga medis. Unsur perawat diwakili oleh Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhillah, sedangkan dari bidan ada Sekjen Ikatan Bidan Indonesia Ade Jubaedah. 

"Sekarang mestinya, tidak ada polemik lagi karena otoritas sudah mengeluarkan. Tapi kalau masih ada yang ragu, memerlukan penjelasan ilmiah, kami sudah sampaikan ada tim di PB IDI, ada tim advokasi vaksinasi," kata Daeng. 

IDI, menurut dia, siap mengerahkan tim advokasi untuk membantu dalam memberi penjelasan secara perinci kepada tenaga medis yang masih ragu untuk divaksin.

Pakar imunologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Deshinta Putri Mulya, meminta masyarakat tidak ragu terhadap program vaksinasi pemerintah. Sebab, penelitian klinis vaksin telah dilakukan secara teliti dan hati-hati.

Kepala Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam (FKKMK) UGM ini menyampaikan, suksesnya program vaksinasi memerlukan kerja sama semua pihak. Masyarakat juga diharapkan mengikuti dan memahami informasi dari sumber yang kompeten sebagai usaha untuk meningkatkan pemahaman akan vaksinasi.

photo
Petugas mengangkat dus berisi vaksin Covid-19 yang akan didistribusikan di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Barat, Padang, Rabu (13/1/2021). Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat mulai mendistribusikan vaksin Covid-19 Sinovac ke dua daerah penerima vaksin tahap I yaitu Kota Padang sebanyak 18.680 dosis dan Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 3.640 dosis. - (ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi)

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Amirsyah Tambunan, yang juga tokoh PP Muhammadiyah, menjadi salah satu penerima vaksin perdana bersama Presiden Joko Widodo, kemarin. Amirsyah menyampaikan, langkah vaksinasi ini merupakan bentuk ikhtiar pemerintah bersama masyarakat untuk menekan laju penularan Covid-19 dan bertahap menghilangkan pandemi. 

"Vaksinasi ini adalah bagian dari ikhtiar kita untuk menciptakan herd immunity atau kekebalan tubuh bersama," kata Amirsyah di Istana Merdeka, Rabu (13/1). Ia juga menekankan bahwa MUI telah menyampaikan jika vaksin Sinovac yang akan disuntikkan kepada masyarakat terbukti halal dan thayyib

Rais Syuriah PB Nahdlatul Ulama (NU) Kiai Ahmad Ishomuddin juga mengajak seluruh masyarakat, khususnya warga NU, mau menjalani vaksinasi Covid-19. "Vaksinasi sebagai upaya menjadi fardhu ain, kewajiban kita semua agar kita terbebas dari wabah yang melanda dunia, Covid-19. Tak perlu diragukan, vaksin sudah memiliki sertifikasi halal. Kita menolak dengan tegas kampanye antivaksin," kata Kiai Ishom sesaat sebelum menjalani vaksinasi di Istana Merdeka.

Dalam penelitian terbaru yang dilakukan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, banyak umat beragama yang siap untuk divaksin. Kendati demikian, tidak sedikit juga yang menolak atau ragu-ragu.

Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag, Prof Ahmad Gunaryo menjelaskan, survei daring pada 22-30 Desember 2020 tersebut berhasil mengumpulkan 2.610 pendapat responden dari 34 provinsi. “Ditemukan, responden umumnya 54,37 persen siap divaksin Covid-19, di tengah pandemi yang kian mengkhawatirkan ini,” kata Prof Gunaryo dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Rabu (13/1).  

Adapun yang menolak vaksinasi sebesar 9,39 persen dan belum memutusan 36,25 persen. “Yang menolak, utamanya ragu atas keamanan vaksin. Sedangkan yang beralasan agama hanya 9,27 persen,” kata Prof Gunaryo.  

Survei ini juga merekomendasikan penguatan edukasi publik terkait vaksin dan vaksinasi. Selain penjelasan medis yang transparan oleh dokter, menurut Prof Gunaryo, edukasi dalam hal keagamaan juga perlu diintensifkan, terutama oleh pemuka agama.

Dia mengatakan, peran pemuka agama dan ormas keagamaan sangat strategis karena mereka sumber informasi paling dipercaya publik.

Sumber : Antara


×