Mempelai wanita (depan) didampingi sejumlah relawan Tagana mengikuti prosesi akad nikah secara daring dari asrama Covid-19 Rusunawa IAIN Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu (26/12). | ANTARA FOTO/Imam Safii/Destyan Sujarwoko
14 Jan 2021, 02:00 WIB

Optimisme Pelaku Usaha Resepsi Pernikahan

Berbagai inovasi dibuat agar usaha jasa resesi pernikahan tetap berjalan.

BANDUNG -- Para pengusaha jasa pernikahan menjadi salah satu sektor yang paling terdampak akibat pandemi. Praktis sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, usaha mereka mati suri ketika pembatasan-pembatasan dilakukan, termasuk dalam acara resepsi pernikahan.

Namun, keadaan tak lantas membuat mereka patah arang. Berbagai inovasi dibuat agar usahanya tetap berjalan. Optimisme kian membuncah ketika mereka terus menyesuaikan diri dengan keadaan. Inovasi dan adaptasi dengan keadaan inilah yang membuat usaha jasa pernikahan tetap bisa hidup.

Owner Kalea Creative Wedding & Event, Inna Erlina Feriani, mengatakan, wedding organizer menjadi salah satu yang terpenting dalam penyelenggaraan resepsi pernikahan. Meski awalnya sebagai pengatur agar resepsi bisa berjalan lancar, Inna menyebut, kini peran WO adalah untuk memastikan setiap protokol kesehatan berjalan dengan baik dalam resepsi. 

“Selalu ada yang stand by untuk memeriksa suhu tubuh dan memastikan bahwa antrean tetap berjarak. Kita juga minta tamu untuk salaman yang tidak langsung. Jadi, kita pastikan bahwa di resepsi bisa meminimalisasi penyebaran virus. Alhamdulillah di Bandung sendiri belum ada klaster dari resepsi pernikahan,” kata Inna dalam diskusi virtual bertajuk "Tips Jitu Gelar Resepsi Nikahan Kala Pandemi" yang diselenggarakan Republika dan didukung Satgas Penanganan Covid-19, Rabu (13/1). 

Terkait

Kini Inna membuat sendiri pembatasan bagi calon kliennya dengan menerima 300 pax saja. Hal ini dia lakukan agar tidak ada lagi kerugian yang mencolok seperti saat awal PSBB pada Maret 2020 lalu. Apalagi, saat ini pemerintah tengah menerapkan PSBB proporsional Jawa-Bali. 

“Jadi, ketika ada PSBB ini, kita sudah tidak panik lagi. Saya juga perlu luruskan bahwa beban pekerjaan kami dua kali lipat. Kita harus memastikan bahwa yang masuk suhunya tidak berlebih dan antrean berjarak,” kata Inna.

Ketua Forum Aspirasi Pengusaha Jasa Pernikahan Bandung Raya Aries Imsullah Ardiansyah menceritakan bagaimana terkejutnya seluruh pengusaha yang ada di bidang resepsi pernikahan ini saat awal pandemi Covid-19. Bahkan, mereka harus meyakinkan pemerintah bahwa sebenarnya resepsi pernikahan bisa tetap digelar.

“Karena kalau dihitung-hitung yang terkait dengan bidang itu bisa sampai ribuan orang. Dari dekorasi saja di Bandung itu bisa ratusan. Belum lagi, dengan jasa lainnya, seperti fotografer, katering, dan lainnya,” kata Aries.

photo
Pasangan pengantin menggunakan masker dan menunjukkan buku nikah saat resepsi pernikahan di Perumahan Grand Sutera Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (22/7). - (ARIF FIRMANSYAH/ANTARA FOTO)

Perkumpulan Penyedia Jasa Boga Indonesia, Devi Dirgantini, sebagai penyedia jasa yang bergerak di katering merasa banyak sekali dirugikan, bahkan harus menutup usahanya. Devi menyebut, dalam kondisi pandemi ini ada kenaikan harga yang terpaksa diberlakukan. 

Tak sedikit usaha dari penyedia jasa resepsi pernikahan ini untuk bisa menggelar pernikahan. Mereka berjuang untuk mendapatkan izin resepsi hingga akhirnya bisa seperti saat ini. Meskipun pada kenyataannya masih ada ketidakpastian pada masa yang akan datang. 

Namun, ketiganya sepakat bahwa akan ada masa depan cerah dalam bisnis resepsi pernikahan. Meskipun lama, ketiganya optimistis resepsi pernikahan bisa berjalan seperti saat sebelum pandemi. Paling tidak dengan dimulainya vaksinasi di Indonesia.


×