Petugas menurunkan temuan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak yang jatuh di perairan Pulau Seribu di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Ahad (10/1). Tim penyelam Kopaska TNI AL menemukan sejumlah serpihan bagian pesawat dan pakaia | Republika/Putra M. Akbar
11 Jan 2021, 03:10 WIB

Jokowi: Investigasi SJ 182

Titik jatuh dan sinyal kotak hitam SJ 182 telah ditemukan.

 

JAKARTA -- Presiden Joko Widodo memerintahkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan investigasi terhadap jatuhnya pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ 182. Pesawat jenis Boeing 737-500 yang seharusnya merampungkan rute Jakarta-Pontianak ini jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1). 

"Saya juga telah menyampaikan kepada KNKT untuk melakukan kajian penyelidikan terhadap musibah ini," kata Presiden Jokowi dalam keterangan pers di Istana Kepresidenan Bogor, Ahad (10/1). 

Presiden juga menyampaikan pesan dukacita terhadap keluarga dan kerabat para penumpang serta awak pesawat. “Kita lakukan upaya yang terbaik untuk menemukan dan menyelamatkan korban dan kita doakan bersama, kita berdoa bersama-sama agar para korban bisa ditemukan," ujar Jokowi. 

Terkait

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan, Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak dengan nomor registrasi PK-CLC itu hilang kontak pada Sabtu (9/1). Pesawat itu membawa 12 awak kabin, 40 penumpang dewasa, tujuh penumpang anak-anak, dan tiga bayi.

“Pukul 14.37 WIB masih (berada di ketinggian) 1.700 (kaki), kontak diizinkan naik ke ketinggian 29 ribu kaki dengan mengikuti standar instrumen,” kata Budi dalam konferensi video, Sabtu (9/1) malam. Pukul 14.40 WIB, petugas ATC melihat di radar pesawat tersebut justru mengarah ke barat laut.

“Tidak lama kemudian, dalam hitungan detik, SJ 182 hilang dari radar,” ujar Budi. Pesawat terakhir terpantau di radar 11 mil laut dari bandara di wilayah perairan Kepulauan Seribu. Laporan selanjutnya menyebut pesawat jatuh di wilayah sekitar Pulau Laki dan Pulau Lancang.

Manajemen Sriwijaya Air mengeklaim, Boeing 737-500 PK-CLC dalam keadaan sehat. Sebelumnya, pesawat itu telah sempat terbang dengan tujuan Pontianak dan Pangkal Pinang. "Seharusnya tidak ada masalah," kata Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson Irwin Jauwena dalam konferensi pers virtual, Sabtu (9/1). 

Menurut Jefferson, laporan dari bagian perawatan pesawat menyebut PK-CLC layak terbang meski jadwal keberangkatan SJ182 sempat tertunda akibat hujan deras. Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menekankan, pihaknya akan melakukan investigasi penyebab kecelakaan agar tidak terjadi kecelakaan yang sama ke depannya. "Kami bertanggung jawab investigasi penyebab kecelakaan pesawat,’’ ujar dia.

photo
Kronologis Kecelakaan SJ 182 - (Republika)

Sesuai prosedur, kata dia, KNKT masih melakukan pengumpulan data. Pihaknya juga mengatakan, sudah menginformasikan kepada KNKT Amerika. Tak hanya itu, pengumpulan data cuaca penerbangan, dan pesawat juga masih dilakukan. 

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengatakan, dalam pencarian Ahad (10/1) kemarin, titik jatuh pesawat Sriwijaya Air SJ 182 sudah ditemukan. Seluruh prajurit, khususnya TNI AL, sudah di lokasi untuk mendukung Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengambil puing-puing pesawat.

"Bagian-bagian yang kecil masih bisa diambil. Untuk bagian yang besar akan didatangkan kapal dengan fungsi derek untuk mengangkat," katanya di Jakarta International Container Terminal (JICT) 2, Jakarta Utara, Ahad (10/1).

Dia berharap, dengan dukungan dan doa seluruh masyarakat Indonesia, pecahan-pecahan pesawat yang berada pada kedalaman 23 meter di bawah permukaan air laut bisa segera diangkat.

Ia menjelaskan, tim pencari masih berupaya mendapatkan kotak hitam pesawat. Posisi kotak hitam diduga kuat telah ditemukan berdasarkan sinyal yang dipancarkan alat tersebut. Sinyal tersebut terus dipantau dan ditandai. 

"Mudah-mudahan tidak lama lagi kotak hitam sudah bisa diangkat sehingga bisa menjadi bahan bagi KNKT untuk mengetahui penyebab kecelakaan tersebut," ujarnya.

Pihak KNKT menyatakan, usia pesawat yang jatuh kemarin sekitar 26 tahun sejak selesai diproduksi. Mengenai faktor cuaca buruk pada saat tinggal landas, KNKT belum bisa memprediksi sebagai penyebab kecelakaan.

Hingga kemarin sore, Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, menyebut telah menerima tujuh kantong berisi bagian tubuh jenazah penumpang Sriwijaya Air SJ 182. Proses identifikasi jenazah akan dimulai Senin (11/1).

Karopenmas Brigjen Pol Rusdi Hartono mengatakan, saat ini telah mengumpulkan 21 sampel DNA keluarga terkait penumpang dan awak kabin Sriwijaya Air. "Tujuh kantong tersebut masih part body, bagian-bagian tubuh itu yang kita dapati untuk sementara masih seperti itu," ujarnya. Dia berharap pihak keluarga yang terkait dengan penumpang atau awak kabin Sriwijaya Air SJ 182 untuk segera memberikan data-data korban kepada Tim DVI Polri.

Menukik Tajam

Pesawat Boeing 737-500 PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ 182 yang tak ada kontak sejak Sabtu (9/1) sore, hilang sinyal sekitar empat menit setelah penerbangan. Terekam juga penurunan ketinggian yang drastis pesawat. 

Pengamat penerbangan, Alvin Lie, menduga, berdasarkan grafik rute pesawat Sriwijaya Air SJY-182 yang jatuh pada Sabtu (9/1) dari akun Twitter @flightradar24, terlihat adanya kemungkinan high speed stall. "Dilihat dari grafik, bisa jadi high speed stall atau ada kendala pada sistem kemudi," kata Alvin kepada Republika, Sabtu (9/1).

Hal ini ditandai dengan kecepatan vertikal yang tercatat 30 ribu kaki per menit, padahal ketinggian pesawat sekitar 10 ribu kaki dan dalam 20 detik sudah sampai permukaan. "Dalam hitungan tersebut, sudah sampai permukaan bukan suatu yang normal," ujar dia.

Namun, Alvin menekankan, hal itu masih dugaan karena bangkai pesawat tersebut belum ditemukan. Yang jelas, menurut dia, masih banyak faktor yang harus diteliti untuk menyimpulkan penyebab kecelakaan tersebut. "Ini sudah pasti kecelakaan, tapi pesawatnya belum ditemukan, masih belum tahu penyebabnya," ujar dia.

Stall alias kehilangan daya terbang adalah pengurangan gaya angkat secara tiba-tiba, yang dihasilkan oleh aerofoil ketika sudut serang kritis tercapai atau dilampaui. Stall terjadi ketika sudut serang aerofoil melebihi nilai yang menciptakan daya angkat maksimum sebagai konsekuensi aliran udara yang melewatinya.

Pengamat penerbangan, Antonius Lisliyanto, menyarankan pemerintah untuk membuka riwayat perawatan pesawat (log books) Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak yang hilang kontak. Upaya tersebut bisa menjadi langkah awal investigasi.

 
Dari log book itu akan menjelaskan delay karena cuaca atau gangguan teknis.
 
 

"Kita harus lihat log books maintenance pesawat tersebut. Dari informasi yang saya dapat pesawat itu mengalami delay. Dari log book itu akan menjelaskan delay karena cuaca atau gangguan teknis," ujar Antonius Lisliyanto, Sabtu (9/1) malam.

Antonius menyampaikan secara umum, data yang disimpan dalam log book berisi tanggal, tempat keberangkatan dan kedatangan, jenis pesawat, jumlah penerbangan pesawat, hingga pemeliharaan pesawat. "Kalau dalam log book itu delay karena gangguan teknis, pesawat memang sedang tidak ready," ucapnya.

Jika karena faktor cuaca, lanjut dia, tentu pilot pesawat sudah mengetahui situasi yang akan dihadapi. Pilihannya bisa menggunakan rute alternatif untuk menghindari cuaca buruk. "Sebenarnya, pesawat dirancang untuk mampu menghadapi cuaca buruk, asalkan tidak terlalu ekstrem," kata Antonius yang juga staf pengajar di salah satu perguruan tinggi swasta itu.

Sementara itu, anggota Komisi V DPR, Rifqinizamy Karsayuda, meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk mengevaluasi secara menyeluruh transportasi udara pada masa pandemi Covid-19 setelah kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Politikus PDIP tersebut menjelaskan, pertengahan 2020, Federal Aviation Asociation (FAA) di Amerika Serikat telah mengeluarkan rekomendasi kepada lebih dari 2.000 unit pesawat Boeing 737, khususnya Boeing 737-300, 737-400, dan 737-500, yang digunakan di seluruh dunia pada masa pandemi ini.

photo
Petugas membawa kantung jenazah penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta - Pontianak yang jatuh di perairan Pulau Seribu di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Ahad (10/1). Sebanyak lima kantung jenazah berisi potongan tubuh penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ182 ditemukan dan langsung diserahkan kepada Tim DVI Rs Polri untuk diidentifikasi lebih lanjut - (Republika/Putra M. Akbar)

FAA menyebutkan, tidak digunakannya pesawat dalam kurun waktu yang lama akan mengakibatkan korosi pada pesawat tersebut. Menurut Rifqi, temuan FAA tersebut harusnya telah menjadi peringatan keras bagi berbagai maskapai di Tanah Air, yang menggunakan pesawat Boeing 737 dimaksud.

"Kemenhub sejak awal harus mengantisipasi temuan FAA ini di Indonesia. Karenanya, musibah SJ 182 ini harus menjadi evaluasi total bagi dunia penerbangan kita pada masa pandemi ini," katanya.

Ia mengatakan, akan meminta secara resmi kepada pimpinan dan para anggota Komisi V DPR untuk duduk bersama menteri perhubungan beserta seluruh jajaran terkait, termasuk KNKT, untuk melakukan evaluasi total setelah musibah ini.

"Dari sisi teknologi penerbangan, pasti ada konsekuensi tersendiri akibat berkurangnya volume pemakaian pesawat-pesawat udara tersebut, belum lagi soal isu usia pesawat yang banyak berusia tua," kata Rifqi.

Pihak Boeing pada Ahad (10/1), merilis pernyataan terkait kecelakaan yang menimpa pesawat Sriwijaya Air Flight SJ-182. Dalam laman resminya, Boeing menyampaikan kesiapan untuk membantu pencarian pesawat yang hilang.

"Pikiran kami tertuju pada kru, penumpang, dan keluarga mereka. Kami menghubungi pelanggan maskapai kami, dan siap mendukung mereka selama masa sulit ini," katanya.


×