Pasien OTG COVID-19 saat beraktivitas di balkon kamar isolasinya di Graha Wisata Ragunan, Jakarta, Senin (28/12). Berdasarkan data perkembangan kasus virus Corona (Covid-19) harian di Indonesia yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 per Senin (28/12), DK | Republika/Putra M. Akbar

Kabar Utama

29 Dec 2020, 03:20 WIB

Waspadai Krisis Nakes

Rumah sakit belum bisa mengoperasikan fasilitas tambahan karena kekurangan nakes.

 

JAKARTA -- Lonjakan kasus Covid-19 tak hanya menyebabkan penuhnya ruang isolasi. Krisis tenaga kesehatan (nakes) pun berpotensi terjadi karena banyak yang tertular dan gugur saat menangani pasien Covid-19. 

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengingatkan masyarakat bahwa risiko krisis nakes nyata adanya. Jumlah fasilitas kesehatan dan tenaga medis yang melayani pasien Covid-19 juga semakin terbatas. Oleh karena itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengajak masyarakat untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes).

Ia mengatakan, penularan infeksi virus korona masih cukup tinggi. Risiko penularan semakin tinggi seiring tingginya mobilitas masyarakat pada masa libur akhir tahun ini. Wiku meminta masyarakat agar tidak lengah menjalankan prokes karena langkah ini menjadi jurus terampuh menekan penularan Covid-19.

Pada Senin (28/12), terdapat penambahan 5.854 kasus Covid-19. Dengan demikian, jumlah total kasus Covid-19 di Tanah Air telah mencapai 719.219 kasus. Penambahan kasus paling tinggi terjadi di DKI Jakarta sebanyak 1.678 kasus. Kemudian, disusul Jawa Tengah sebanyak 977 kasus dan Jawa Timur 784 kasus.

"Bila kasus Covid-19 terus meningkat, jumlah fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan tidak akan cukup," kata Wiku saat dikonfirmasi mengenai kecukupan tenaga kesehatan, Senin (28/12).

Wiku juga mengingatkan pemda untuk lebih peka terhadap pengendalian ekonomi dan kesehatan di daerahnya. Bila terjadi lonjakan kasus Covid-19 secara signifikan, Wiku meminta pemda segera mengambil langkah pengendalian aktivitas sosial ekonomi.

Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) sebelumnya mengungkapkan, jumlah kematian tenaga medis dan tenaga kesehatan di Indonesia akibat Covid-19 terus meningkat. Ketua Tim Mitigasi PB IDI Adib Khumaidi mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun Tim Mitigasi PB IDI, dari Maret hingga pertengahan Desember 2020, terdapat total 369 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19. Jumlah itu terdiri atas 202 dokter, 15 dokter gigi, dan 142 perawat.

Ketua Satgas Covid-19 IDI Zubairi Djoerban mengatakan, melonjaknya kasus Covid-19 harus dibarengi penambahan faskes, nakes, hingga alat kesehatan. "Jadi, tidak mungkin tidak menambah RS rujukan Covid-19, bed ICU, ventilator, dan tenaga kesehatan, di antaranya perawat, dokter," katanya kepada Republika, Senin (28/12).

Dia menekankan, sistem tata laksana tersebut harus ditambah dan tidak hanya berlaku sekarang. Penambahan faskes dan SDM dibutuhkan sebulan ke depan hingga beberapa waktu mendatang. "Mau tidak mau, senang tidak senang, kita (Indonesia) harus menyiapkan fasilitas kesehatan beserta nakes, beserta obat, ventilator, dan yang lainnya," ujarnya.

Sejumlah pemerintah daerah mengakui telah kekurangan nakes akibat penambahan kasus Covid-19. Kondisi ini salah satunya terjadi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemda DIY sedang melakukan perekrutan nakes yang khusus menangani pasien Covid-19. "Sedang kita upayakan tambah terus (rekrutmen nakes)," kata Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin (28/12).

Pemda DIY berencana merekrut nakes lokal. Menurut dia, ada lebih dari 200 nakes yang direncanakan direkrut. "Rekrutmen sudah dilakukan, tapi belum sesuai kebutuhan. Berapanya (yang telah direkrut) saya lupa," ujar dia.  

Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana mengatakan, keterbatasan nakes di DIY belum teratasi. Dari kuota 200 lebih nakes yang disediakan, kata Huda, yang mendaftar tidak sampai 100 orang. "Kemudian, yang betul-betul masuk (untuk menangani pasien Covid-19) tidak sampai 30 orang, hanya 26 orang kalau tidak salah. Jadi, SDM (sumber daya manusia) sangat perlu diperhatikan," kata Huda.

Di Malang, Jawa Timur, jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di RSUD Saiful Anwar (RSSA) semakin membeludak. Pihak RS telah menyiapkan 53 tempat tidur khusus pasien Covid-19. Namun, dari 53 tambahan tersebut, hanya 30 tempat tidur yang telah dioperasikan.

Kepala Bagian (Kabag) Humas RSSA Donny Iryan mengatakan, pengoperasian tempat tidur menunggu tambahan tenaga medis. Sebab, perawatan pasien Covid-19 membutuhkan banyak tenaga medis. Satu pasien Covid-19 setidaknya harus ditangani tiga sampai empat tenaga medis.

"Dan, itu juga butuh APD (alat pelindung diri) lengkap. Tapi, kalau APD kita nggak ada masalah, (jumlah) tenaga medisnya itu yang masalah," ujarnya.

Total tenaga medis yang terdaftar dalam layanan incovid RSSA sebanyak 300 orang. Namun, jumlah tenaga medis yang beroperasi per harinya di incovid RSSA fluktuatif. Mereka harus menyesuaikan jumlah pasien Covid-19 terlebih dahulu.

"Pada saat pasiennya landai, kita gunakan tenaga medis untuk reguler. Tapi, kalau pasien seperti saat ini, tinggi, tingkat keterisian tinggi, tenaga medis kita ke sana semua. Mobilisasi ke sana semua," katanya menjelaskan.

RSSA telah membuka lowongan relawan untuk menangani pasien Covid-19. RS juga sudah menentukan formasi relawan untuk dokter, perawat, tenaga pendorong, dan radiografer.

Saat ini setidaknya telah terjaring 46 relawan dari berbagai profesi. Menurut Donny, 46 relawan akan dioptimalkan untuk melayani 53 tambahan tempat tidur pasien Covid-19. Total kasus Covid-19 di Kota Malang telah mencapai 3.610 orang per Senin (28/12).

Daerah Atur Siasat

Pemerintah daerah dan pihak rumah sakit harus memutar otak untuk mengatasi keterbatasan kapasitas ruang isolasi dan perawatan di tengah tingginya lonjakan kasus Covid-19. Selain dengan menambah kapasitas, RSUD berencana hanya menerima pasien Covid-19 bergejala berat.

photo
Petugas beristirahat di tempat isolasi pasien OTG Covid-19 di Graha Wisata Ragunan, Jakarta, Sabtu (26/12). - (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Kebijakan itu salah satunya akan diterapkan di RSUD dr Slamet, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pembatasan kriteria pasien Covid-19 terpaksa akan dilakukan karena kasus Covid-19 di Kabupaten Garut terus mengalami peningkatan. Sedangkan, kapasitas tempat isolasi sangat terbatas.

Berdasarkan data yang diterima Republika dari RSUD dr Slamet Kabupaten Garut, dari 101 ruang isolasi pasien Covid-19 yang ada, seluruhnya terisi penuh per Ahad (27/12). Padahal, ruang isolasi di RSUD tak boleh terisi penuh untuk mengantisipasi kasus tertentu yang membutuhkan perawatan intensif.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Leli Yuliani mengatakan, pihaknya akan menyeleksi pasien Covid-19 yang dapat masuk RSUD dr Slamet. "Langkah dinkes, yaitu dengan lebih memilah pasien. Jadi pasien yang berat dan kritis saja yang dirawat isolasi di RSUD (dr Slamet)," kata dia saat dikonfirmasi Republika, Senin (28/12).

Menurut Leli, pasien Covid-19 yang bergejala ringan hingga sedang akan ditempatkan di rumah sakit lainnya yang menjadi rujukan. Adapun pasien Covid-19 tanpa gejala akan diarahkan di tempat isolasi terpusat dan rumah sakit darurat.

Kendati demikian, kebijakan itu belum sepenuhnya diterapkan di RSUD dr Slamet. Kebijakan itu ditargetkan dapat mulai dilaksanakan pada 2021. "Sekarang masih tahap sosialisasi, mudah-mudahan 2021 sudah mulai berlaku," kata dia.

Pemerintah daerah juga harus mengalihfungsikan berbagai gedung menjadi tempat isolasi. Pemerintah Provinsi Jawa Timur, misalnya, menyiapkan gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) sebagai tempat isolasi pasien Covid-19 yang telah menjalani perawatan selama 10 hari.

Sebelumnya, gedung BPSDM Jatim digunakan sebagai tempat isolasi dan ruang tunggu bagi masyarakat yang tengah menunggu hasil tes PCR hingga pasien Covid-19 yang berkategori ringan.

photo
Petugas mengangkut sampah dari Rumah Sakit Lapangan Covid-19 Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta, Senin (28/13). Kapasitas rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Yogyakarta kritis akibat lonjakan kasus beberapa bulan belakangan. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyatakan, gedung BPSDM Jatim juga akan digunakan bagi pasien Covid-19 tanpa gejala klinis dan telah menjalani perawatan selama 10 hari. Saat ini, pedoman Kemenkes RI menyebutkan bahwa pasien tanpa gejala cukup diisolasi 10 hari karena virus sudah tidak menular lagi setelah 10 hari.

Meskipun demikian, berdasarkan National Centre for Infectious Disease (NCID), disebutkan bahwa beberapa pasien Covid-19 masih bisa memiliki hasil swab yang positif meski telah melewati 10 hari isolasi dan sudah tidak menular. NCID menyebut, ada lima persen pasien Covid-19 yang hasil swab-nya masih bisa positif sampai lebih dari 33 hari dan 32 persen masih bisa positif sampai lebih dari 21 hari.

"Untuk mengurangi adanya perbedaan pemahaman terkait periode infeksi dan hasil swab yang positif melebihi 10 hari isolasi ini, maka gedung BPSDM kini bisa menerima pasien-pasien yang sebelumnya sudah menerima perawatan selama 10 hari," kata Khofifah, kemarin.

Di daerah lainnya, Pemerintah Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyatakan, telah menyediakan empat tempat untuk perawatan pasien Covid-19. Penambahan terpaksa dilakukan karena balai diklat yang menjadi tempat isolasi sudah penuh.

Juru bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Bangka, Boy Yandra mengatakan, pihaknya memanfaatkan dua mes di Kecamatan Sungailiat, satu RS di Kecamatan Belinyu, dan satu RS di Kecamatan Puding Besar.

photo
Sejumlah warga menyalatkan jenazah pasien positif Covid-19 di halaman Masjid Darus Salihin sebelum proses pemakaman di Desa Alue Tampak, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Ahad (6/9). - (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

"Pemkab Bangka sengaja menyediakan RS dan mes tersebut, sebagai tempat karantina karena balai diklat ataupun asrama haji di provinsi sudah penuh," katanya.

Sementara itu, Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Jawa Barat, memprediksi terjadi lonjakan pasien Covid-19 sekitar 30 persen pascalibur Natal dan akhir tahun 2020. Pihaknya menyiapkan sejumlah sarana dan prasarana serta sumber daya manusia untuk merawat pasien-pasien yang terpapar Covid-19.

Direktur Utama RSHS, Nina Susana Dewi mengatakan, antisipasi yang dilakukan jika terjadi lonjakan pasien mencapai 20 hingga 50 persen, yaitu mengubah lantai 5 di Gedung Kemuning menjadi tempat isolasi Covid-19 dengan tambahan 40 tempat tidur. Jika lonjakan pasien mencapai 50 sampai 100 persen, pihaknya akan mengubah ruang rawat umum menjadi ruang isolasi, dengan tempat tidur mencapai 50 unit dan empat unit ruang ICU.

"Diharapkan, pasien tidak bertambah. Jika bertambah, kami akan gunakan gedung lain untuk mencukupi jika pasien lebih dari 100 persen," katanya.

Nina melanjutkan, pihaknya akan mendiskusikan dengan Kementerian Kesehatan terkait penambahan perawat untuk pasien Covid-19. Sementara itu, obat-obatan untuk pasien Covid-19 dinilai cukup untuk tiga bulan ke depan.

Sejak tiga bulan terakhir, ungkapnya, terjadi lonjakan pasien Covid-19 di RSHS dengan gejala sedang dan berat. Total pasien yang dirawat di RSHS mencapai 2.075 pasien suspek dan terkonfirmasi positif Covid-19. "Saat ini rata-rata sehari 110 sampai 120 kasus yang dirawat di RSHS," katanya.


×