Makam Nabi Muhammad SAW di Madinah al-Munawarah, Arab Saudi. Seorang sahabat yang terakhir kali menyentuh jasad mulia beliau adalah Mughirah bin Syubah. | DOK REP Tommy Tamtomo
29 Nov 2020, 07:00 WIB

Siapa yang Terakhir Menyentuh Jasad Mulia Nabi SAW?

Ada empat orang lelaki yang memasukkan jasad mulia Rasulullah SAW ke dalam tanah.

 

OLEH HASANUL RIZQA

Nabi Muhammad SAW berpulang ke rahmatullah pada Senin bulan Rabiul Awal, tahun ke-11 Hijriah. Meski harinya tidak diperdebatkan, tanggal pastinya masih dipenuhi perdebatan kalangan sejarawan. Ada yang menyatakan tanggal 2 Rabiul Awal. Ada pula yang menyebut tanggalnya adalah 12 Rabiul Awal.

Yang pasti, jasad mulia Rasulullah SAW dimakamkan satu hari setelah wafatnya. Prosesi pemakaman berlangsung pada siang hari Selasa. Beliau berusia 63 tahun tatkala meninggal dunia. Saat mengembuskan napas terakhir, dirinya bersandar di pangkuan istrinya, ‘Aisyah binti Abu Bakar.

Terkait

Orang-orang memandikan jasad Nabi SAW tanpa melepas pakaian dari badan beliau shalallahu 'alaihi wasallam. Yang melakukan prosesi tersebut adalah sepupunya, Ali bin Abi Thalib. Air yang dipakai untuk itu berasal dari sumur Ghars yang terletak di Quba. Ali dibantu al-'Abbas dan putranya, al-Fadhl.

Setelah itu, jasad Nabi SAW dilapisi kain kafan. Ali melapisi jasad beliau dengan tiga helai kain putih berbahan katun. Tidak dipakai baju kurung dan penutup kepala. Usai itu, jenazah beliau kemudian diletakkan di atas ranjang kamar ‘Aisyah.

Sempat terjadi diskusi tentang di manakah jenazah sang pembawa risalah Islam itu akan dimakamkan. Ada yang menyarankan supaya pemakamannya berlangsung di kota kelahiran beliau, yakni Makkah al-Mukarramah. Bahkan, ada yang mengusulkan kota lain, yakni Baitul Makdis di Palestina. Sebab, di sanalah ada beberapa makam utusan Allah SWT.

Abu Bakar lantas berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak ada seorang nabi pun meninggal kecuali dikubur di mana ia dicabut nyawanya'.” Ali membenarkan kesaksian Abu Bakar mengenai hadis tersebut.

Maka semuanya bersepakat, jenazah Rasulullah SAW akan dikubur di tempat beliau mengembuskan napas terakhir. Sebab, itulah yang diisyaratkan hadis, sebagaimana disampaikan Abu Bakar kepada hadirin. Abu Thalhah Zaid bin Sahal al-Anshari kemudian ditugaskan untuk menggali tanah tepat di bawah ranjang Rasulullah SAW yang terdapat di kamar ‘Aisyah.

Perpisahan

Ada empat orang lelaki yang memasukkan jasad mulia Rasulullah SAW ke dalam tanah. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, al-'Abbas, al-Fadhl, dan Qutsam bin 'Abbas. Semua makhluk Allah Ta’ala yang menyaksikan pemandangan itu teramat berduka. Manusia agung yang sangat dicintai telah meninggalkan dunia yang fana ini.

Turut hadir dalam prosesi tersebut ialah Muawiyah bin Abu Sufyan. Tubuhnya bergetar melihat jenazah Rasulullah SAW mulai dimasukkan ke dalam liang lahat. Betapa ingin dirinya menyampaikan salam perpisahan dan menyentuh wajah beliau untuk terakhir kalinya.

Tiba-tiba, Muawiyah mendapatkan ilham. Tanpa diketahui orang-orang di sekitarnya, ia lantas sengaja menjatuhkan cincinnya ke atas jasad Nabi SAW yang sudah berada di dalam kubur. Ketika Ali dan tiga orang lainnya hendak menimbun kuburan beliau dengan tanah, Muawiyah cepat-cepat mencegah, “Wahai Ali, aku telah menjatuhkan cincinku ke dalam sana. Kumohon, izinkanlah aku untuk mengambilnya.”

Ali pun mengizinkannya.

Di dalam liang lahat, Muawiyah tentu saja tidak hanya mengambil cincinnya. Dengan penuh takzim, ia mencium kening Nabi SAW. Air mata mengalir, membasahi pipinya. Perasaan sedih berkecamuk dalam dadanya.

 
Dengan penuh takzim, Muawiyah mencium kening Nabi SAW. Air mata mengalir, membasahi pipinya.
 
 

Ali kemudian memintanya untuk naik ke atas lagi, Muawiyah pun menurutinya. Mughirah bin Syu'bah menyadari bahwa putra Abu Sufyan tersebut sebenarnya sengaja menjatuhkan cincinnya ke dalam liang lahat. Sebab, dengan begitu dirinya dapat melihat wajah Rasulullah SAW untuk terakhir kalinya.

Tebersitlah keinginan dalam diri Mughirah untuk melakukan hal yang sama. Saat pandangan Ali sedang lengah, sahabat yang berasal dari Bani Tsaqif itu segera menjatuhkan cincinnya ke dalam liang lahat. Ia lalu meminta izin untuk mengambilnya.

Ali membolehkannya. Maka, turunlah Mughirah ke dalam sana, menjumpai jasad Nabi SAW. Katanya setelah mencium kening sang Khatamul Anbiya wal Mursalin, “Sungguh, aku ingin menjadi manusia terakhir yang menyentuh Rasulullah SAW.” Ia lantas kembali naik ke atas.

 
Sungguh, aku ingin menjadi manusia terakhir yang menyentuh Rasulullah SAW.
 
 

Selesai sudah liang lahat itu ditimbun dengan tanah. Bilal bin Rabah memercikkan air bejana geriba ke atas kuburan tersebut. Dari arah kepala, ia lantas menaburi makam Nabi SAW dengan batu-batu kerikil yang diperolehnya dari halaman rumah beliau. Terakhir, kubur beliau ditinggikan sedikit, sekira satu jengkal dari permukaan tanah.

Sejarah mencatat, wafatnya Nabi Muhammad SAW merupakan berita yang amat sangat menggemparkan kaum Muslimin kala itu. Memang, beberapa waktu sebelumnya Nabi SAW sempat mengalami demam. Beliau sampai tidak bisa memimpin shalat berjamaah sehingga menunjuk Abu Bakar untuk menggantikannya.

Hingga suatu hari, Rasulullah SAW menghadiri jamaah di masjid. Umat Islam begitu berbahagia karena melihat pemimpinnya tampak dalam kondisi yang lebih baik daripada sebelumnya. Namun, yang mereka tak ketahui adalah beliau kembali sakit ketika memasuki rumahnya.

Muhammad Husain Haekal dalam buku Sejarah Hidup Muhammad (1965) menuturkan pengalaman ‘Aisyah pada hari wafatnya Nabi SAW, “Terasa olehku Rasulullah SAW sudah terasa berat di pangkuanku. Saya perhatikan, air mukanya, ternyata pandangannya menatap ke atas seraya berkata, ‘Bali ar-rafiqil a’la mina al-jannah’ (Dengan sahabat-sahabat dari surga—yakni para nabi dan orang-orang saleh).

Kataku, ‘Anda yang telah dipilih, maka Anda memilih (Allah) Yang mengutus Anda dengan membawa kebenaran.’ Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara dada dan leher saya.”


×