Jamaah melakukan tawaf mengelilingi Kabah di area Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, beberapa waktu lalu. | Saudi Ministry of Media via AP
29 Nov 2020, 03:30 WIB

Kemuliaan Makkah dan Sumpah Allah dalam Alquran

Tak hanya sebagai kota suci, Makkah pun mulia dengan doa para nabi.

Penguasa yang zalim tak hanya ada pada zaman ini. Semasa hidupnya, Rasulullah SAW juga kerap mengalami penganiayaan dari para pemimpin Makkah. Perlakuan mereka tak sebatas menghujat dan menghina.

Mereka bahkan meneror dan menyiksa para sahabat dan keluarganya. Tujuannya hanya satu: melepas mereka dari akidah Islam yang sudah dipeluknya.

Allah SWT pun mengangkat harkat Rasulullah SAW yang sudah seolah tak diakui sebagai warga Kota Suci. Dengan keagungan-Nya, Allah SWT bahkan merasa tak perlu bersumpah dengan nama Makkah. "Saya tidak bersumpah dengan negeri ini." (QS al-Balad ayat 1).

Ayat ini menerangkan, Allah SWT tak perlu bersumpah atas Kota Makkah. Kemuliaan kota itu sudah cukup untuk menjamin kebenaran pesan yang akan ditekankan sumpah-Nya.

Terkait

Makkah bahkan sudah ditetapkan Allah SWT sebagai kota suci sejak penciptaan langit dan bumi hingga kiamat kelak. "Sesungguhnya kota ini, Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan bumi. Ia adalah kota suci dengan dasar kemuliaan yang Allah tetapkan sampai hari Kiamat." (HR Bukhari dan Muslim).

 
Makkah bahkan sudah ditetapkan Allah SWT sebagai kota suci sejak penciptaan langit dan bumi hingga kiamat kelak.
 
 

Tak hanya itu, Makkah pun mulia dengan doa para nabi. Harapan membuncah agar Makkah menjadi kota yang aman pada generasi-generasi mendatang. "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: 'Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak-cucuku daripada menyembah berhala-berhala'." (QS Ibrahim :35]).

Setelah menyatakan status Makkah lewat kalimat metafora, Allah SWT menegaskan posisi Rasulullah SAW. "Dan engkau seorang warga sah di kota ini." (QS al-Balad ayat 2).

Lewat pernyataan tersebut, Allah SWT menegaskan, Nabi SAW merupakan putra kota itu. Sudah seharusnya Rasulullah diperlakukan sebagai warga negara terhormat yang hak-hak sipil dan politiknya dijamin secara penuh. Alih-alih mendapatkan penghormatan yang layak, Nabi SAW bersama keluarga dan para sahabatnya dizalimi. Hidupnya pun terancam.

Untuk menegaskan kembali hubungan antara Makkah dan Rasulullah SAW, Allah SWT bahkan bersumpah dengan nama ayah dan anak. Sebuah hubungan emosional yang amat kuat. Dengan ayat tersebut, Allah SWT seolah hendak menunjukkan bagaimana eratnya hubungan Rasulullah dengan Makkah. "Demi orang tua dan anak." (QS al-Balad: 3).

 
Dengan ayat tersebut, Allah SWT seolah hendak menunjukkan bagaimana eratnya hubungan Rasulullah dengan Makkah.
 
 

Ia seharusnya dicintai dan dilindungi seperti orang tua mencintai dan melindungi anaknya. Bukankah jejak genetis Rasulullah SAW berada pada jalur nasab yang mulia?

Dialah penerus generasi bani Hasyim, salah satu klan dari Quraisy yang bertugas mengurus urusan air minum dan makanan jamaah yang datang ke Tanah Suci. Sanad Rasulullah bahkan sampai kepada Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail, bapak para nabi yang pertama kali membuka Makkah dengan fenomena air zamzam.

Pada kenyataannya, semua kemuliaan itu tak digubris kaum musyrik Makkah. Rasulullah justru diusir dan dibenci. Namun, kebenaran datang juga pada akhirnya. Kebenaran ini membawa Rasulullah dan para sahabat sebagai pemenang. "Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam perjuangan (yang terus-menerus)." (QS al-Balad ayat 4).

Hidup manusia penuh tantangan yang menuntutnya harus selalu bekerja keras bila ingin eksis dan tidak mau gagal. Semakin besar tantangan, semakin besar perjuangan yang diperlukan untuk mengatasinya, dan semakin besar pula hasil yang akan diperoleh, seperti yang dialami, dilakukan, dan didapatkan Nabi Muhammad SAW.

Kita bisa melihat di dalam sirah betapa berat tantangan yang dihadapi Rasulullah SAW hingga beliau harus hijrah ke Madinah. Perlahan, beliau membangun kekuatan dan membuat konsolidasi di antara kaum muhajirin dan ansar. Hingga pada waktu yang ditentukan, Rasulullah SAW dan kaum Muslimin berhasil menaklukkan Makkah.

 
Perlahan, Rasulullah membangun kekuatan dan membuat konsolidasi di antara kaum muhajirin dan ansar.
 
 

Ketika manusia berhasil memenangkan tantangan, dia berjaya secara ekonomi, politik, atau sosial. Janganlah mengira semua itu akan abadi. Semua itu ujian dari Yang Maha kuasa, apakah digunakan untuk kebaikan atau sebaliknya. Allah SWT Yang Mahakuasa atas segalanya dapat sewaktu-waktu menarik semua nikmat tersebut bila Dia menghendakinya.

Oleh karena itu,wajar jika kita diminta untuk meneladani Nabi SAW. Setiap sukses yang beliau peroleh tak membuatnya membusung dada. Kesuksesan justru membuatnya semakin taat kepada Allah.

Kejayaan justru membuatnya semakin berkhidmat kepada umat. Kemenangan justru semakin membuatnya yakin untuk menegakkan kebenaran. "Adakah ia mengira bahwa tak seorang pun berkuasa atas dirinya." (QS al-Balad: 5). (Dikutip dari Secangkir Tafsir Juz Terakhir karya Prof Dr Salman Harun).


×