Anggota Brimob Boyolali mengamati kondisi saat patroli rutin di Balerante, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (24/11). Balerante menjadi salah satu desa yang terdampak saat erupsi 2010. | Wihdan Hidayat / Republika
25 Nov 2020, 03:00 WIB

Merapi Kian Mendekati Erupsi

Seluruh petugas di barak pengungsian Merapi mengikuti screening untuk pencegahan Covid-19.

YOGYAKARTA—Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida mengaku laju deformasi per hari Gunung Merapi sudah mencapai 12 sentimeter. Hal ini mengindikasikan Merapi sudah mendekati waktu erupsi sejak statusnya naik menjadi Siaga atau level III pada 5 November lalu.

"Menjadi konsen kita bahwa semakin ke permukaan magma ini. Kalau seperti ini, Merapi tidak mungkin tidak meletus sepertinya, sudah menuju ke erupsi. Namun, erupsinya seperti apa, ini yang terus kita pantau," tutur Hanik dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Republika bekerja sama dengan Satgas Penanganan Covid-19 BNPB secara virtual, Selasa (24/11).

Menurut Hanik, meski mendekati tahap erupsi, terjadinya guguran tebing lava bekas erupsi 1954 di dinding kawah utara Merapi pada Ahad (22/11) kemarin merupakan hal biasa. Hanik menjelaskan, guguran lava sisa ini karena saat erupsi pada 1954 lalu tidak terlontarkan seluruhnya, dan ini merupakan ciri khas dari erupsi Merapi. Menurut dia, guguran lava erupsi Merapi terjadi sekitar 50 persen dari volume yang ada.

photo
Relawan mengamati aktivitas Gunung Merapi di Balerante, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (24/11). - (Wihdan Hidayat / Republika)

"Seperti 2006 itu volumenya 5 juta dan material yang terlontar itu 2,5 juta atau 3 juta," ujar Hanik.

Terkait

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mengakui, manajemen mitigasi dan penanganan Merapi saat ini berbeda dengan sebelumnya. Manajer Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD DIY Danang Samsu menuturkan, mitigasi erupsi Merapi saat ini dilakukan dengan tetap mempertimbangkan faktor kesehatan terkait Covid-19.

"Kaitannya dengan pandemi Covid-19, rencana operasi kita sudah memasukkan isu Covid-19. Misalnya 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak fisik—Red) kita jadikan acuan," ujarnya.

Pihaknya sudah melakukan antisipasi di tengah pandemi ini jika status Merapi naik menjadi level IV atau Awas nantinya. Hingga saat ini, aktivitas Merapi masih mengalami kenaikan dan berada pada status Siaga atau level III. BPBD juga sudah menyiapkan petugas untuk melakukan evakuasi terhadap hewan ternak warga yang ada di sekitar kawasan Gunung Merapi. 

photo
Peta wilayah rawan bencana Gunung Merapi dipasang di persimpangan Desa Balerante, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (24/11). Balerante menjadi salah satu desa yang terdampak saat erupsi 2010. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Antisipasi 

Koordinator Kesehatan Satgas Covid-19 Kabupaten Sleman Joko Hastaryo menegaskan, seluruh petugas di barak pengungsian dan relawan pengungsi dilakukan screening untuk pencegahan Covid-19. Ia berharap pengungsian tidak memunculkan klaster baru penyebaran Covid-19. "Dilakukan screening kepada relawan, petugas atau siapa pun yang terlibat dalam penanganan pengungsi. Dilakukan rapid test dan hasilnya negatif (nonreaktif) sampai saat ini. Mudah-mudahan seterusnya negatif," kata Joko. 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman tersebut menambahkan, hingga saat ini, barak pengungsian yang dioperasikan hanya satu, yaitu di Desa Glagaharjo. Walaupun begitu, barak pengungsian lainnya juga telah disiapkan, seperti di Desa Gayam, Argomulyo, Cangkringan, Sleman.

Joko menyebut barak pengungsian yang disiapkan jauh dari ditemukannya kasus positif Covid-19. Hingga saat ini, kasus positif di Sleman masih terus bertambah.


×