Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo (kanan) melakukan pemantauan Gunung Merapi dari udara dengan menggunakan helikopter jenis Douphin di Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (20/11). | ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
21 Nov 2020, 02:00 WIB

Gerak Magma Merapi Kian ke Permukaan

BPPTKG menyampaikan aktivitas Gunung Merapi semakin tinggi.

BOYOLALI—Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyampaikan aktivitas Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta semakin tinggi. Masyarakat diminta lebih meningkatkan kewaspadaan. 

“Gempa multiphase Gunung Merapi per Jumat ini semakin tinggi, dengan menunjukkan pergerakan magma sudah makin ke permukaan sekitar 1,5 kilometer,” kata Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, di sela menghadiri acara kunjungan Kepala BNPB Doni Monardo, di Tempat Penampungan Pengungsian Sementara (TPPS) Desa Tlogolele Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jateng, Jumat (20/11).

Menurut Hanik Humaida, hal tersebut terdeteksi dari kegempaan multiphase (MP) sudah tinggi, dan magma betul-betul sudah semakin ke permukaan, tetapi belum sampai muncul di puncak Merapi. Risiko ancaman tertinggi dimulai dari batas barat laut, barat hingga ke tenggara. Daerah yang ada di posisi barat laut ke tenggara dari Gunung Merapi ini diharapkan lebih meningkatkan kewaspadaan.

Namun, warga di daerah utara dan timur laut hingga timur juga tidak boleh kehilangan kewaspadaan. "Potensi bahaya arah letusan Merapi, utamanya masih ke Kali Gendol, tetapi karena guguran dari puncak berkali-kali ke arah barat dan barat laut, maka ada potensi juga ke Kali Lamat, dan Senowo," kata Hanik.

Terkait

photo
Sejumlah anak berkumpul saat bermain bersama di tempat pengungsian sementara, Desa Klakah, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (16/11). Kegiatan bermain bersama tersebut untuk mengisi waktu anak-anak sehingga dapat menjaga kondisi anak tetap ceria dan sehat saat berada di tempat pengungsian sementara Gunung Merapi. - (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Namun, bentuk erupsinya seperti apa hingga saat ini, kata dia, data tidak menunjukkan kejadian seperti pada 2010. Sehingga, kondisi ini, tidak perlu sangat dikhawatirkan, tetapi harus tetap meningkatkan kewaspadaan.

Kendati demikian, ujar Hanik, bagaimana pun jika terjadi erupsi atau membawa awan panas atau letusan, itu menjadi sesuatu yang berbahaya. Berdasarkan pengamatan, aktivitas Merapi menunjukkan data tidak seperti kejadian 2010.

"Kalau prediksi kami, data seperti kejadian erupsi 2006, tetapi lebih besar sedikit," kata Hanik. Ia menjelaskan soal pertumbuhan kubah lava di puncak Merapi belum ada yang menuju ke permukaan. Jadi belum ada kubah lava baru di puncak Merapi. 

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengakui jalur evakuasi di lereng Gunung Merapi memang belum lebar. Pihaknya mengimbau masyarakat yang mulai dievakuasi dan harta benda seperti ternak yang saat ini, masih banyak di atas atau rumahnya tidak perlu khawatir.

Menurut Taj Yasin, masalah ternak warga yang masih ditinggal di rumahnya masing-masing akan ada petugas yang mengevakuasi ke bawah.

"Kami sudah memetakan mana warga yang harus dilarikan ke Boyolali, dan mana yang harus dilarikan ke Magelang supaya tidak ada kemacetan di titik-titik jalur evakuasi tertentu saat evakuasi," kata Taj Yasin.

photo
Sejumlah anak dan ibu lansia berada di Tempat Evakuasi Sementara Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (19/11). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan bantuan dana sebesar Rp 1 miliar dan alat kesehatan untuk para pengungsi bencana Gunung Merapi yang berada di Kabupaten Klaten. - (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah menyiapkan 12 barak pengungsian yang berjarak 10 kilometer lebih dari puncak Merapi. "Saat ini 12 barak pengungsian dengan radius lebih dari 10 km tersebut sudah siap digunakan, sehingga jika ada peningkatan aktivitas Merapi dan BPPTKG memberikan rekomendasi warga harus mengungsi, semua sudah siap," kata Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Kabupaten Sleman Joko Lelono di Sleman, Jumat.

Barak pengungsian yang sudah disiapkan, antara lain, Barak Gayam, Barak Kiaran, Barak Plosokerep, Barak Purwobinangun, Barak Girikerto, Barak Pondokrejo, Barak Umbulmartani, dan Barak Tirtomartani. Saat ini warga yang sudah diungsikan merupakan kelompok rentan dari wilayah yang rawan bencana erupsi.

Relawan

Sedikitnya relawan Muhammadiyah dari 10 kabupaten/ kota di Jawa Tengah telah bersiaga untuk mendukung aksi penanganan kebencanaan para relawan di gunung Merapi. Baik yang ada di wilayah Kabupaten Klaten, Magelang dan Kabupaten Boyolali.

Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Tengah, Naibul Umam mengatakan, belajar dari pengalaman bencana vulkanologi gunung Merapi tahun 2010 lalu, butuh waktu yang panjang guna menangani warga terdampak.

“Saat bencana Merapi 10 tahun lalu, butuh waktu 3 tahun sampai seluruh penanganan selesai,” ungkapnya, dalam keterangan pers yang diterima Republika, Jumat (20/11). 

Namun, jelas Umam, terdapat perbedaan penanganan bencana vulkanologi di Merapi jika dibandingkan dengan tahun 2010 lalu maupun bencana Merapi sebelumnya. Karena saat ini tengah meluas wabah Covid-19.

Oleh karena itu, relawan Muhammadiyah --yang berada di luar tiga daerah terdampak bencana gunung Merapi di wilayah Jawa Tengah—telah disiagakan untuk membantu melaksanaka aksi kemanusiaan dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan (prokes) yang ketat.

Relawan Muhammadiyah yang akan diterjunkan untuk melaksanakan tugas penanganan kebencanaan tersebut diwajibkan membekali diri dengan surat keterangan tes cepat atau tes usap Covid-19.

“Dalam membantu warga terdampak bencana, para relawan Muhammadiyah juga akan mendorong warga di sekitar Merapi untuk membangun kemandirian di tengah masa pandemi seperti sekarang ini,” tambahnya.

Sumber : Antara


×