Suasana aktivitas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Ahad (15/11/2020). Kementerian Perdagangan menyatakan Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) yang ditandatangani pada (15/11) diharapkan meningkatkan ekspor Indonesia ke dunia sebesar 7,2 per | ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
17 Nov 2020, 03:00 WIB

Ekspor Mulai Meningkat

Ekspor nonmigas yang berperan hingga 95 persen terhadap kinerja ekspor juga mencatatkan rekor tertinggi.

JAKARTA -- Kinerja ekspor Indonesia secara perlahan mengalami perbaikan setelah terperosok akibat pandemi Covid-19. Pada Oktober 2020, nilai ekspor tercatat sebesar 14,39 miliar dolar AS yang merupakan nilai terbesar sepanjang tahun ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor nonmigas yang memiliki peran hingga 95 persen terhadap kinerja ekspor juga mencatatkan rekor tertinggi tahun ini. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam paparannya menjelaskan, nilai ekspor nonmigas pada Oktober mencapai 13,76 miliar dolar AS.

Setianto mengatakan, kinerja ekspor bulan lalu mengalami pertumbuhan 3,09 persen dibandingkan September 2020 yang sebesar 13,96 miliar dolar AS. Namun, bila dibandingkan Oktober 2019 yang mencapai 14,88 miliar dolar AS, kinerja ekspor masih terkontraksi 3,29 persen.

"Ada kecenderungan meningkat kalau bandingkan September, Agustus, dan beberapa bulan lalu," kata Setianto dalam konferensi pers secara virtual, Senin (16/11).

Terkait

Nilai ekspor Indonesia pada 2019 biasanya berada di angka 14 miliar dolar AS. Pada Maret 2020 atau saat kasus Covid-19 mulai terdeteksi di Tanah Air, nilai ekspor masih berada di angka 14,09 miliar dolar AS. 

Namun, dalam dua bulan selanjutnya, nilai ekspor anjlok menjadi 12,19 miliar dolar AS pada April dan 10,53 miliar dolar AS pada Mei.

Menurut catatan BPS, peningkatan ekspor pada Oktober disebabkan adanya kenaikan ekspor nonmigas sebesar 3,54 persen menjadi 13,7 miliar dolar AS. Kenaikan terbesar terjadi pada golongan barang lemak dan minyak hewan/nabati sebesar 10,96 persen atau 188,1 juta dolar AS menjadi 1,9 miliar dolar AS.

Di sisi lain, ekspor migas masih menyusut 5,94 persen menjadi 628,7 juta dolar AS akibat berkurangnya ekspor hasil minyak dan minyak mentah. Keduanya masing-masing turun 25,33 persen dan 32,11 persen dibandingkan September 2020.  

Peningkatan ekspor nonmigas Oktober 2020 jika dibandingkan dengan September 2020 terjadi ke sebagian besar negara tujuan utama. Cina masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar bagi Indonesia. Secara kumulatif, nilai ekspor Januari-Oktober mencapai 131,54 miliar dolar AS, turun 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Neraca dagang Indonesia pada bulan lalu juga kembali surplus. Nilainya mencapai 3,61 miliar dolar AS. Ini merupakan surplus untuk keenam kalinya secara berturut-turut sejak Maret sekaligus merupakan surplus terbesar sepanjang 2020.

Setianto menjelaskan, surplus yang besar pada Oktober karena adanya penurunan impor secara signifikan sebesar 6,79 persen dibandingkan September. "Peningkatan besar (surplus) karena penurunan impor Oktober," ujarnya.

Kontraksi terjadi pada semua penggunaan barang impor. Penyusutan terdalam terjadi pada barang modal, yakni hingga 13,33 persen dibandingkan September menjadi 1,85 miliar dolar AS. Bahan baku/penolong yang berkontribusi terhadap 73,25 persen keseluruhan impor pun menurun lima persen menjadi 7,90 miliar dolar AS.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap pemerintah dapat terus memperluas akses pasar untuk meningkatkan kinerja perdagangan. Apalagi, Indonesia ikut bergabung dalam Regional Comprehensinve Economic Partnership Agreement (RCEP) atau Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) yang ditandatangani 15 negara Asia-Pasifik dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-4 RCEP, Ahad (15/11).

Wakil Ketua Umum Kadin, Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan, Indonesia harus bisa memanfaatkan akses pasar yang diciptakan dalam perjanjian RCEP. Hal itu demi menjamin peningkatan ekspor nasional lebih tinggi daripada impor sehingga defisit perdagangan pasca-RCEP bisa diminimalkan atau dihilangkan.

Dengan potensi ekonomi RCEP yang mencapai 24,67 triliun dolar AS, Kadin meyakini Indonesia lebih rugi bila tidak bergabung dalam RCEP.

Pada masa pandemi, kata Shinta, RCEP menciptakan kepastian berusaha lebih tinggi untuk menormalisasi arus perdagangan dan investasi di antara berbagai negara RCEP. Apalagi, sejumlah negara, seperti Cina, Korea, Jepang, dan Selandia Baru sudah lebih dahulu dan lebih sukses menormalisasi kegiatan ekonomi domestik.

Namun, ia mengingatkan, RCEP merupakan perjanjian yang dapat dimanfaatkan semua negara anggota, termasuk berbagai negara pesaing Indonesia di kawasan. Hanya negara yang mau terbuka untuk maju, lebih produktif, lebih efisien, dan lebih kompetitif yang akan memperoleh manfaat paling banyak dari perjanjian tersebut.

RCEP beranggotakan 10 negara anggota ASEAN, ditambah Cina, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru. Kelima belas negara mitra RCEP tersebut mewakili 29,6 persen populasi dunia, 30,2 persen nilai produk domestik bruto (PDB) dunia, 27,4 persen nilai perdagangan dunia, dan 29,8 persen nilai investasi asing langsung (FDI) dunia.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto pada Ahad (15/11) mengatakan, ratifikasi RCEP memberikan dampak positif bagi Indonesia. Indonesia digadang-gadang akan menikmati spillover effect atau limpahan ekonomi dari perjanjian perdagangan bebas yang dimiliki negara anggota ataupun nonanggota.

"Perluasan peran Indonesia melalui global supply chain dari spillover effect ini berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia ke dunia sebesar 7,2 persen," ujar Agus.

Waspadai Penurunan Impor

Sementara, ekonom Indef, Bhima Yudistira mengatakan, surplus tersebut sesuai prediksi karena masih rendahnya permintaan bahan baku industri di dalam negeri. Menurut dia, impor bahan baku yang turun lima persen dibanding pada September 2020 mencerminkan produsen masih menahan kenaikan produksi. "Ini karena daya beli konsumen masih turun," kata Bhima, Senin (16/11).

Ia menambahkan, data tersebut sejalan dengan indeks penjualan riil Bank Indonesia yang terkontraksi 8,7 persen pada September. Indeks keyakinan konsumen juga masih menurun dari 83,4 menjadi 79 pada Oktober. Menurut dia, selama konsumen kelas menengah dan atas masih menahan belanja, industri tidak berani menambah stok pasokan bahan baku, termasuk bahan baku impor.

Penurunan impor barang konsumsi hingga 7,58 persen juga perlu dicermati pemerintah. Padahal, menurut dia, pelaku usaha biasanya menambah stok impor barang konsumsi untuk mempersiapkan Harbolnas pada 11 November. Ia mengakui, penjualan lewat e-commerce naik, tetapi kenaikan itu belum bisa mengimbangi penurunan tajam pada ritel konvensional. "Ini berarti konsumsi memang belum pulih," kata dia. 

Terkait kenaikan ekspor nonmigas, Bhima menilai, kenaikan 3,54 persen secara bulanan didukung permintaan dari Cina, yang naik 8,9 persen dibanding pada bulan sebelumnya. Porsi ekspor ke Cina juga naik menjadi 18,6 persen dari total ekspor. Sementara di ASEAN, terjadi pembalikan arah dengan pertumbuhan kinerja ekspor yang positif 8,45 persen. 

"Ini kabar baiknya, ada pemulihan ekspor yang lebih cepat, meskipun tetap perlu dicermati, surplus masih disebabkan impor yang menurun cukup dalam karena aktivitas di dalam negeri belum pulih," katanya.

Ekonom Core Indonesia, Mohammad Faisal, menyampaikan hal senada. Ia mengatakan, surplus dagang bukan pencapaian, melainkan dampak pandemi Covid-19. Sebab, impor terkontraksi karena produksi dalam negeri mengalami penurunan.

Bahkan, menurut dia, pada bulan lalu penurunan impor lebih dalam dari bulan sebelumnya. "Artinya, indikasi perbaikan ekonomi dalam negeri belum terlalu kelihatan," kata dia. 

Faisal menyatakan, ekonomi dikatakan membaik jika indikator seperti impor bahan baku dan barang modal naik. Jika kedua impor tersebut turun, berarti perbaikan ekonomi masih lambat. Meski begitu, dia memprediksi ke depan arahnya semakin membaik.

IHSG dan rupiah menguat

Data surplus neraca perdagangan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah menguat. Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup menguat 33,81 poin atau 0,62 persen ke posisi 5.494,87. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak naik 6,24 poin atau 0,72 persen menjadi 873,44.

"Efek kemenangan Joe Biden-Kamala Harris (dalam Pilpres AS) masih ada. Di sisi lain, pasar market mengapresiasi kinerja neraca perdagangan per Oktober yang semakin surplus," kata Analis Bina Artha Sekuritas, M Nafan Aji Gusta Utama, di Jakarta, Senin (16/11).

Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, menguat 60 poin atau 0,42 persen ke posisi Rp 14.110 per dolar AS dibanding pada hari sebelumnya, Rp 14.170 per dolar AS. Adapun kurs tengah Bank Indonesia pada Senin menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp 14.139 per dolar AS dibanding pada hari sebelumnya di posisi Rp 14.222 per dolar AS.

Sumber : Antara


×