Fatehpur Sikri merupakan salah satu bukti pencapaian arsitektur Islam di India | DOK PXHERE
29 Oct 2020, 05:25 WIB

Fatehpur Sikri, Kota Impian Sultan Mughal

Kawasan Fatehpur Sikri dibangun berdasarkan prinsip arah timur-barat.

OLEH HASANUL RIZQA 

Kebesaran peradaban Islam di Anak Benua India terus lestari hingga saat ini. Jejak sejarahnya dapat ditemukan, antara lain, di Fatehpur Sikri. Terletak di negara bagian Uttar Pradesh, India, kota tua tersebut dibangun oleh Sultan Akbar I.

Sejak 1571, penguasa ketiga dari Dinasti Mughal itu menjadikan kawasan seluas 3 kilometer persegi itu sebagai ibu kota kerajaannya. Sayang, umurnya sebagai pusat pemerintahan tak bertahan lama. Sebab, sang raja meninggalkannya begitu saja 15 tahun kemudian.

Fatehpur Sikri terletak di punggung bukit berbatu. Bentangan alamnya begitu indah sehingga tak heran bila mampu memikat seorang pangeran Mughal. Abdul Hadi WM dalam artikelnya, “Kisah Kota Geometris Fatehpur Sikri” menerangkan, sejarah kota istana berbenteng itu diawali ketika Akbar I masih berusia 28 tahun.

Terkait

photo
Fatehpur Sikri dahulunya merupakan kompleks puri dan istana tempat tinggal raja Mughal. - (wikipedia)

Sultan muda itu berhasrat membangun sebuah kota yang menampilkan pola abstraksi geometris. Belum pernah raja-raja Muslim India sebelumnya yang bervisi seperti demikian.

Pemimpin yang naik takhta sejak berusia 14 tahun itu tak menafikan sulitnya membangun sebuah kota di lereng bukit terjal. Apalagi, air cukup sukar dialirkan dari sumbernya ke lokasi tersebut. Namun, lanjut Abdul Hadi, orang nomor satu di seantero Mughal itu tetap optimistis.

Akbar I ingin membuktikan bahwa dirinya memiliki pakar-pakar mekanik dari Persia yang mampu diandalkan untuk membuat berbagai mesin atau peralatan baru. Dengan begitu, soal pengairan dapat diatasi.

photo
Sultan Akbar I. Raja Dinasti Mughal ini membangun Fatehpur Sikri sebagai ibu kota baru setelah Agra - (DOK WIKIPEDIA)

Akbar tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan segera, ia mengumpulkan para ahli dalam bidangnya masing-masing. Mereka diperintahkan untuk bekerja secepat dan secermat mungkin. Dalam waktu 10 tahun, kota itu akhirnya siap seluruhnya.

Berikutnya, istana yang megah plus sebuah masjid agung didirikan di sana hanya dalam rentang satu tahun. Tiga sisi luar kompleks tempat tinggal sultan Mughal itu dikelilingi benteng, sedangkan satu sisi sisanya berbatasan dengan danau.

 
Istana yang megah plus sebuah masjid agung didirikan di sana hanya dalam rentang satu tahun.
 
 

Abdul Hadi mengatakan, ada beberapa alasan mengapa pembangunan Fatehpur Sikri dilaksanakan begitu cepat. Pertama, konon Akbar I ingin memenuhi nazarnya sebagai bentuk ungkapan terima kasih kepada pemimpin Tarekat Chistiyah dan para pengikutnya. Mereka telah membantu Babur, kakek Akbar, dalam memenangkan pertempuran terhadap raja Hindu di Rajput pada 1530.

Karena kemenangan itu, Babur menuturkan kepada anak cucunya bahwa lereng bukit Sikri adalah tempat yang penuh berkah. Kata sikri pun berakar dari bahasa Arab, syukron, yang berarti 'terima kasih'.

Alasan lainnya, Akbar I memang ingin memindahkan ibu kota dari Agra ke lokasi lain. Sebab, di pusat pemerintahan yang lama itu sudah sering terasa intrik-intrik politik jahat yang berupaya menjerumuskan dirinya.

Apa pun latar belakang pendiriannya, Fatehpur Sikri tetap menjadi permata bagi kebudayaan Mughal. Jika bangunan tradisional India dibangun berdasar prinsip utara-selatan, maka kawasan tersebut berdasar arah timur-barat. Sebab, jelas Abdul Hadi, masyarakat India melaksanakan shalat dengan menghadap ke Ka’bah, yang berada di arah barat. Tidak hanya filosofi searah kiblat, seluruh konstruksi dalam kompleks tersebut juga didirikan menurut hubungan geometris yang terukur.

 
Tidak hanya filosofi searah kiblat, seluruh konstruksi dalam kompleks tersebut juga didirikan menurut hubungan geometris yang terukur.
 
 

Setiap bangunan dihubungkan satu sama lain secara grafis, mengikuti poros-poros yang telah ditetapkan di sudut kanan masing-masing. Bangunan terbesarnya adalah istana yang dinamakan sesuai dengan sang ratu, Jodha. Jodha Bai Mahal (Istana Jodha) terdiri atas serangkaian puri.

Di luarnya, terdapat tempat-tempat peristirahatan pada musim dingin dan musim panas. Bangunan-bangunan lain yang berdekatan dengannya ialah Puri Maryam Sultana dan Khwab Gah (Paviliun Impian), tempat Sultan Akbar I bercengkerama dengan istrinya.

Tak kalah indahnya ialah Punch Mahal (Lima Istana). Itu adalah sebuah paviliun lima tingkat sehingga melukiskan makna rukun Islam. Selanjutnya, Buland Darwasa (Gerbang Kemenangan) yang dibangun Akbar I sebagai penanda momen kemenangan Mughal atas Gujarat. Gerbang megah yang didominasi warna merah bata itu merupakan pintu masuk menuju Masjid Jama (Masjid Jumat). Tempat ibadah yang secara khusus didesain sang sultan itu merefleksikan pesona arsitektur Persia yang berpadu dengan unsur-unsur kebudayaan lokal.

photo
Masjid Jama (Masjid Jumat).merupakan salah satu bangunan utama di dalam kompleks Fatehpur Sikri. - (DOK WIKIPEDIA)

Adapun bangunan yang lebih berfungsi sebagai tempat forum resmi ialah Dewam Am (Balai Sidang). Menurut Abdul Hadi, Dewam Am dibangun sebagai ungkapan toleransi agama. Model rancang bangunnya pun meniru struktur khas agama Jaina. Secara visual, susunan ruangnya menggambarkan bunga teratai, yang dianggap menyimbolkan kesakralan dalam ajaran Hindu-Buddha.

Kompleks Fatehpur Sikri yang begitu indah hanya dihuni Sultan Akbar I selama 15 tahun. Tanpa diduga banyak orang kala itu, sang raja kembali ke ibu kota lama, yakni Agra. Abdul Hadi mengatakan, ada beberapa cerita yang melatarbelakangi keputusan tersebut.

photo
Corak arsitektur Fatehpur Sikri terinspirasi dari kebudayaan Persia, yang dipadukan dengan unsur-unsur lokal India - (DOK WIKIPEDIA)

Para guru Chistiyah konon merasa terganggu oleh hiruk-pikuk Fatehpur Sikri. Mereka menyayangkan, daerah yang dahulunya lengang dan damai justru menjelma ramai bak pasar. Sering kali, keluhan dialamatkan kepada sang sultan agar sudi meninggalkan tempat itu. Begitu hormatnya Akbar I terhadap para salik tersebut sehingga permintaan itu dipenuhinya.

Cerita lainnya, Fatehpur Sikri dicampakkan karena semakin sulitnya pasokan air. Sebab, pintu irigasi di danau lembah Sikri rusak dan sukar diperbaiki. Ada pula yang menyebut, Akbar I merasa bosan dan akhirnya pergi begitu saja.

Bagaimanapun, Fatehpur Sikri tetaplah mengagumkan. Sejak 1986, UNESCO menetapkannya sebagai sebuah situs warisan dunia yang wajib dilindungi. Bagi India, kota tua ini adalah salah satu destinasi wisata yang paling ramai, sepadan dengan Taj Mahal di Agra.

photo
Sisi timur benteng di kompleks Fatehpur Sikri, India. - (DOK WIKIPEDIA)


Terkini

,
×