Para panelis dalam Forum Group Discussion bertemakan | Republika/nur hasan murtiaji
26 Nov 2020, 02:44 WIB

Mantapkan Strategi Filantropi di Tengah Pandemi

Upaya untuk membantu para mustahik di tengah pandemi terus dilakukan oleh lembaga filantropi.

 

JAKARTA -- Upaya untuk membantu para mustahik di tengah pandemi terus dilakukan oleh lembaga-lembaga filantropi di Tanah Air. Sejumlah strategi dan inovasi pun diterapkan.

Hal itu salah satunya dilakukan oleh Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN. Deputi Direktur YBM PLN Salman Alfarisi mengatakan, pihaknya membantu para mustahik dari dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) puluhan ribu karyawan Muslim PLN.

"Sebanyak 34 ribu karyawan Muslim PLN penghasilannya langsung dipotong (untuk zakat)," kata dia dalam focus group discussion (FGD) virtual bertema "Semangat Berzakat di Tengah Pandemi" yang digelar Republika dan BNPB, Kamis (22/10).

Terkait

Sebanyak 65 persen hasil donasi itu, lanjut Salman, diperuntukkan bagi mustahik di unit-unit PLN daerah masing-masing. Sisanya tetap disalurkan melalui program strategis di YBM PLN pusat.

"Sehingga ada prinsip, sebagian besar zakat para pegawai Muslim PLN, akan dirasakan manfaatnya untuk mustahik di wilayah atau daerah tempat di mana mereka bekerja," katanya.

Cara penyalurannya, jelas Salman, yaitu unit-unit PLN di setiap daerah seperti Jakarta dan Bogor bekerja sama dengan dinas sosial di wilayah setempat. Daerah yang belum tersentuh bantuan dinas sosial menjadi prioritas pendistribusian bantuan.

Selama tiga bulan pertama sejak terjadi pandemi, dana ZIS fokus diberikan kepada mustahik agar bisa langsung mereka manfaatkan.

Dalam forum yang sama, Manajer Corporate Fundraising Dompet Dhuafa (DD), Sulistiqomah, menyampaikan, masyarakat Indonesia memiliki semangat filantropis yang tinggi. Watak dasarnya memang berderma terutama di tengah pandemi Covid-19. Terbukti, ketika pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pertama kali diterapkan pada April-Mei, penghimpunan zakat masih tinggi.

Menurut dia, lembaga filantropi dan para mitra harus terus bekerja sama dari sisi pengumpulan dan penyaluran ZIS. Termasuk dengan melibatkan RT dan RW agar bantuan yang diberikan tepat sasaran.

Strategi lain yang perlu dilakukan yaitu dengan memanfaatkan teknologi digital. Dia mengatakan, ketika masyarakat diedukasi soal donasi lewat digital, banyak donasi ZIS yang masuk. Karena itu, diperlukan kerja sama antara lembaga filantropi dengan e-commerce.

"Sampaikan success story penerima manfaat lalu kita lempar di media sosial. Itu efeknya bisa luar biasa. Kemudian ada penerima zakat yang sekarang menjadi dokter. Ini jadi influencer dahsyat dan bisa menarik perhatian donatur," ujar dia.

Sulistiqomah juga mengingatkan pentingnya menyampaikan konten-konten spiritual di media sosial untuk mengetuk hati calon donatur. Misalnya, mengenai hakikat harta yang sesungguhnya.

Membangun jaringan juga penting, seperti ke masyarakat, masjid, pemerintah, institusi, dan komunitas. "Kita gandeng agar menjadi gerakan kebaikan bersama," kata dia.

Sementara, Manajer Humas Badan Amal Zakat Nasional (Baznas), Yudhiarma MK, mengatakan, karakter bencana berupa pandemi Covid-19 ini memang berbeda dengan bencana-bencana yang lain. Di atas kertas, diperkirakan akan terjadi penurunan donasi ZIS sejak dilanda Covid pada Maret lalu. "Tetapi ketika kita sabar, tetap berdoa dan usaha, kita gedor pintu langit, ada rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka. Maka dalam beberapa analisis survei dan kajian, justru di masa pandemi ini terjadi peningkatan," katanya.

Menurut dia, ada beberapa hal utama yang perlu dilakukan sebagai inovasi. Salah satunya adalah inovasi layanan digital. "Dalam hal layanan, kita bisa ubah, mustahik yang mengajukan permohonan bantuan dilakukan dengan layar monitor."


,
×