Hikmah Republika Hari ini | Republika
22 Oct 2020, 03:24 WIB

Bertahan dalam Kejujuran

Demikian agungnya sifat kejujuran dalam diri manusia yang beriman.

OLEH IMANUDDIN KAMIL

Syekh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam kitabnya, Syarah Riyadhus Shalihin, mengutip Ibnu Qayyim al-Jauziyyah tentang kejujuran. “Yaitu kedudukan (maqam) kaum yang paling agung, yang darinya bersumber kedudukan-kedudukan para salikin. Kejujuran merupakan fondasi bangunan agama dan tiang penyangga keyakinan. Tingkatannya berada di bawah derajat kenabian yang merupakan derajat paling tinggi di semesta alam. Dari tempat tinggal mereka (para nabi) di Surga mengalir mata air dan sungai-sungai menuju ke tempat tinggal orang-orang yang benar atau jujur. Sebagaimana dari hati para nabi ke hati-hati mereka di dunia ini terdapat penghubung dan penolong.” 

Demikian agungnya sifat kejujuran dalam diri manusia yang beriman. Ia fondasi bagi kerangka keimanan, keislaman, bahkan bagi seluruh aktivitas iman dan Islamnya dalam kehidupan ini. Tidak boleh ada bagian dari hidup yang kosong dari kejujuran. Sebab, jika dusta hadir maka rusak dan porak-porandalah bagian itu.

Bukankah iman tanpa kejujuran menjadi rusak imannya? Iman yang bercampur dusta disebut nifak dan orangnya digelari munafik. Tindak dan ucap tanpa kejujuran padanya, rusaklah ia. Pelakunya digelari kadzdzab (pembual besar).

Terkait

Dalam kaidah ilmu hadis, para ulama sepakat menempatkan dusta di urutan tertinggi penyebab hadis lemah (dhaif) bahkan palsu (maudhu’). Perawi tertuduh berdusta pun sudah cukup untuk menjadi cacat yang melemahkannya, lalu hadisnya disebut matruk

Rasul pun mengancam keras orang yang berdusta atas namanya, “Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka.” (HR Bukhari, Muslim).

Muamalah (interaksi) hubungan apa pun dengan sesama manusia yang tidak ada kejujuran di dalamnya, tunggulah kehancurannya. Mahligai keluarga yang tumbuh dalam dusta dan kebohongan di antara pasangan suami-istri pastilah akan retak. Istri atau suami yang berlaku tidak jujur itu disebut pengkhianat keluarga.

Pedagang yang berlaku tidak jujur dalam transaksi jual belinya, ia disebut penipu (gisy). Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menipu kami maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR Muslim). Dan dalam hadis lain, “Tidak dihalalkan bagi seorang Muslim menjual suatu barang kepada saudaranya yang di dalamnya mengandung cacat kecuali telah ia jelaskan kepadanya.” ( HR Ahmad, Ibnu Majah).

Hakim yang tidak jujur memutuskan perkara adalah hakim curang dan zalim. Pimpinan yang tidak jujur kepada bawahannya adalah pemimpin culas dan licik. Pemimpin yang suka membohongi rakyatnya adalah pemimpin lalim nan zalim.

Pendeknya, bagi seorang Mukmin tidak ada kebaikan pada sesuatu yang tidak ada kejujuran padanya. Sebab, kejujuran itu sejatinya adalah muara kebaikan. Sedangkan, dusta akan menjadi sumber dosa dan kejahatan. Orang Mukmin mungkin berbuat salah, khilaf, dan dosa, adakalanya bersifat bakhil atau pengecut.

Namun, Mukmin pantang menjadi pendusta. Oleh karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar selalu bersikap jujur dan menjauhi dusta. Wallahu a’lam bishawab.


,
×