Hikmah Republika Hari ini | Republika
27 Oct 2020, 04:32 WIB

Mencari Popularitas

Mendewakan dan memburu popularitas bagaikan semut yang terpukau saat melihat genangan madu.

OLEH AHMAD AGUS FITRIAWAN

Sebagian orang mungkin sengaja mencari popularitas. Sebagian manusia memang ada yang sangat mencintai popularitas.

Ada yang mencarinya dengan prestasi dan ilmunya sehingga manfaatnya dirasakan oleh orang banyak dan ia pun menjadi terkenal. Ada juga yang mencari popularitas dengan melakukan hal-hal yang sangat aneh, konyol, bahkan ekstrem. Untuk orang seperti ini, tidak perlu terlalu dipedulikan, diberitakan, dan disebarkan keanehan dan kekonyolannya.

Popularitas secara perlahan akan meyeret pelakunya dalam ketidakikhlasan beramal. Setiap melakukan suatu kebaikan, bisa saja ia terdorong untuk memamerkan dan memperlihatkan amalannya agar semakin terkenal. Padahal, perkara ikhlas dan niat adalah yang utama dan sangat berat.

Terkait

Mendewakan dan memburu popularitas bagaikan semut yang terpukau saat melihat genangan madu. Semakin ia meraihnya ke tengah, semakin tenggelam dalam genangan madu. Akan tetapi, jika ketenaran itu datang tanpa dicari, tidak mengapa dan tidak tercela.

Imam al-Ghazali mengatakan, “Yang tercela adalah apabila seseorang mencari popularitas. Namun, jika ia tenar karena karunia Allah tanpa ia cari-cari maka itu tidaklah tercela.”

Rasulullah SAW bersabda, orang yang pertama kali disidang pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati dalam peperangan. Lalu, dia didatangkan, kemudian Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya maka dia pun mengakuinya.

Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang tersebut menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berkata, “Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau melakukan itu supaya disebut sebagai seorang pemberani dan ucapan itu telah diucapkan (oleh manusia).”

Kemudian, diperintahkan agar orang tersebut dibawa. Maka, dia diseret dengan wajahnya sampai dia pun dilemparkan ke neraka. Kemudian, ada orang yang belajar agama dan mengajarkannya serta membaca Alquran. Lalu, orang itu didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-Nya dan orang itu pun mengakuinya.

Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang itu menjawab, “Aku telah belajar agama, mengajarkannya, dan aku telah membaca Alquran.” Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau belajar agama supaya disebut orang alim dan engkau membaca Alquran supaya disebut qari dan ucapan itu telah dilontarkan.”

Kemudian, diperintahkan agar orang tersebut dibawa. Maka, dia pun diseret dengan wajahnya (terjerembap di tanah) sampai dia pun dilemparkan ke neraka. Lalu, ada seorang laki-laki yang diberikan kelapangan oleh Allah dan menganugerahinya segala macam harta. Lalu, dia pun didatangkan, lalu Allah memperlihatkan nikmat-Nya itu dan orang itu pun mengenalinya. 

Allah berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang itu menjawab, “Aku tidak meninggalkan satu jalan pun sebagai peluang untuk berinfak melainkan aku berinfak di situ semata-mata karena-Mu.”

Allah berkata, “Engkau dusta, akan tetapi engkau melakukan seperti itu supaya disebut dermawan dan ucapan itu telah dilontarkan.” Maka, orang itu diperintahkan untuk dibawa, lalu dia pun diseret dengan wajahnya (terjerembap di tanah), kemudian dia dilemparkan ke neraka.

Wallahu a'lam.


,
×