Pilot berpose di depan pesawat tempur Eurofighter di Pangkalan Udara Noervenich, Jerman, Agustus lalu. | AP/Martin Meissner
29 Nov 2020, 06:12 WIB

Menhan Incar Jet Tempur

Dua jet tempur yang tengah dijajaki Menhan Prabowo adalah F-35 dan Eurofighter Typhoon.

JAKARTA — Kunjungan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ke luar negeri diperkirakan guna menjajaki kemungkinan pembelian pesawat untuk menambah alat utama sistem persenjataan (alutsista). Dalam kunjungannya ke Amerika Serikat (AS), seorang pejabat Kementerian Pertahanan RI yang enggan disebutkan namanya mengakui lawatan Prabowo untuk mengincar pesawat tempur F-35 buatan AS.

Dikutip dari Reuters, pejabat Kemenhan yang enggan disebutkan namanya itu mengaku tak terlalu optimistis bisa mendapatkan jet tempur buatan Lockheed Martin ini. Meskipun, ia mengaku, kedatangan Prabowo bertemu dengan Menteri Pertahanan AS Mark Esper memang mengincar salah satu pesawat tempur tercanggih itu. "Jujur saja, kami tak berharap banyak," katanya, dikutip dari Reuters, Jumat (16/10).

Prabowo juga diberitakan mendapatkan penjelasan resmi di Washington DC pada Kamis. Indonesia disebut berkeinginan membeli jet tempur AS. Minat ini menarik perhatian Rusia yang juga memiliki produk sejenis.

Pemerintah AS secara resmi akan menerima kunjungan Menhan Prabowo pada Jumat (16/10) waktu setempat setelah pencabutan larangan visa sejak beberapa waktu lalu.

Terkait

Seorang petinggi di Kementerian Pertahanan AS membela keputusan untuk menyambut kedatangan Prabowo di Pentagon. "Beliau adalah mitra setimpal kita, dalam kemitraan yang amat penting dan tentu amatlah penting untuk terlibat dengan beliau dan memperlakukan beliau sebagai mitra," ujar sumber yang juga tak bersedia disebut namanya itu.

Namun, AS menegaskan akan kembali memberi peringatan ke Pemerintah Indonesia terkait rencana pembelian senjata besar-besaran dari Rusia. Pembelian jet tempur Rusia disebut dapat memicu sanksi AS di bawah Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA). "Kami meningkatkan risiko CAATSA dalam semua percakapan kami dengan Kementerian Pertahanan," ujar salah satu pejabat AS berdasarkan laporan Reuters tersebut.

Selain mengincar F-35 buatan AS, Menhan juga berencana menjajaki pesawat buatan Austria, Eurofighter Typhoon. Prabowo direncanakan akan berkunjung ke Vienna, Austria, pada 20 Oktober mendatang seusai lawatan ke AS. Rencana tersebut tertulis dalam Surat Menteri Pertahanan No 214/M/X/2020.

photo
Pesawat tempur Eurofighter tinggal landas dari Pangkalan Udara Noervenich, Jerman, Agustus lalu - (EPA)

Berdasarkan surat bertanggal 8 Oktober 2020 itu, surat tersebut merupakan balasan dari Prabowo kepada Menhan Austria, Klaudia Tanner. Media lokal Austria, Kronen Zeitung, pada Selasa (13/10) lalu telah mengeluarkan berita terkait surat tersebut. Dalam berita itu disebutkan, pada surat balasannya, Prabowo mengaku saat ini Indonesia tengah melakukan pengadaan alutsista untuk menjaga wilayah dan rakyat Indonesia.

Hal itu yang membuat Kemenhan RI mengajukan penawaran untuk membeli pesawat militer Austria tersebut. Dalam surat itu juga, Prabowo menyampaikan keinginannya untuk bertemu Klaudia Tanner secara langsung pada 20 Oktober nanti. "Saya yakin kerja sama pertahanan kita akan terus tumbuh dan berkembang," kata Prabowo, dikutip dari surat tersebut, Jumat (16/10).

Didukung

Komisi I DPR tak mempermasalahkan kunjungan luar negeri yang dilakukan Menhan Prabowo. Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid menegaskan, lawatan Menhan ke sejumlah negara sahabat dapat mempererat kerja sama Indonesia dengan negara lain, terutama bidang pertahanan. "Kita harapkan tentu Menhan RI dapat membuat terobosan-terobosan baru dalam kerja sama pertahanan," ujar Meutya Hafid, Jumat (16/10).

Anggota Komisi I DPR, Syaifullah Tamliha, juga berharap kunjungan tersebut dapat meningkatkan sektor pertahanan dalam negeri, khususnya pada alutsista. Menurut dia, negara-negara yang dikunjungi Prabowo diketahui sebagai produsen alutsista terbaik.

"Kemenhan untuk memastikan bahwa pembelian alutsista dan suku cadangnya benar-benar yang berkualitas serta sesuai dengan medan tempur dan pertahanan di Indonesia," ujar Syaifullah.

Namun, ia juga mengingatkan Kemenhan untuk tak lupa pada perawatan alutsista yang nantinya akan dibeli. Sebab, sebagus apa pun alat akan tetap rusak jika perawatannya tak benar dan sesuai. "Kendala klasik pada perawatan dan pengadaan alutsista adalah keterbatasan anggaran pertahanan, yaitu sebesar Rp 131 triliun atau masih di bawah 1 persen dari produk domestik bruto (PDB)," ujar Syaifullah.


,
×