Diorama peristiwa G30S/ PKI di Monumen Kesaktian Pancasila, Jakarta, Selasa (29/9). | Republika/Putra M. Akbar

Opini

30 Sep 2020, 13:34 WIB

PKI, Ulama, dan Generasi Milenial

Persatuan dan keislaman yang kokoh adalah kunci membentengi diri dari PKI dan komunisme.

ERDY NASRUL

Wartawan Republika

 

Sekitar tahun 1948, tokoh PKI Amir Sjarifuddin (1907-1948) mengundang pengurus Partai Masyumi, Abu Hanifah (1906-1980) ke rumahnya. Dua orang ini berkawan. Sama-sama bergabung dalam asrama lndonesische Clubgebouw (IC). Di sanalah mahasiswa Stovia dari luar Jawa berkumpul. Mereka kerap berdebat dan bermain biola. Tokoh lain yang ikut bergabung bersama mereka adalah Sukarno (1901-1970), Moh. Yamin(1903-1962), dan mahasiswa yang datang dari berbagai daerah. 

Abu yang juga dokter diminta mengobati anak perempuan Amir yang mengidap selesma. “Saya berjanji datang, karena sangat ingin tahu apa yang sedang dipikirkan Amir,” tulis Abu dalam catatan Harry A Poeze dalam buku Madiun 1948 PKI Bergerak.

Pada siang hari, si dokter kelahiran Padang Panjang itu datang. Beberapa orang anggota Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), organisasi besutan Amir menenteng senjata api menjaga rumah. Wajah mereka menampakkan penasaran, mengapa ada seorang Masyumi datang ke rumah Amir yang haluan politiknya berseberangan. 

Meski demikian, mereka mempersilakan Abu masuk ke ruang tamu. Tiba di dalam, Abu melihat seorang lelaki berkulit gelap. Matanya berseri-seri. Sambil tersenyum, lelaki bertubuh besar itu berkata, “Senang sekali berkenalan dengan saudara dokter.”  Pria itu adalah Musso (1897-1948), pemimpin PKI, pengikut petinggi komunis Soviet Josef Stalin (1878-1953) dan perpanjangan tangan perkumpulan komunis internasional yang berpusat di Moskow.

Abu tak menyangka akan dipertemukan dengan dedengkot PKI tersebut. Bukankah Amir memintanya datang ke rumah untuk mengobati anak perempuan yang mengidap selesma?

Ditemani sebotol wiski dan dua gelas untuk Musso dan Amir, mereka berbicara berbagai hal, mulai dari situasi nasional, kehidupan Russia, dan ideologi komunisme. Dalam pertemuan itu, Musso menjelaskan bahwa antara dirinya dan Abu berada di jalan yang sama untuk melawan kapitalis-borjuis. 

Tak terima dengan pernyataan tersebut, Abu menegaskan pendiriannya bahwa segala pendirian haruslah berdasarkan pada moral yang tertinggi, yaitu Tuhan Yang Mahaesa. Kemudian Musso menyindir tentang keagamaan dan ketuhanan. 

“Yang saudara sebut religious adalah bahwa saudara mengira Tuhan itu begitu sangat kuatnya, dan saudara memperhitungkan Tuhan di dalam segala hal yang hendak saudara lakukan. Baiklah saya ceritakan, untuk kita saja, bahwa dalam waktu pendek, orang di Russia akan mencari Tuhan di langit, sesuatu yang sudah terlalu banyak dibicarakan orang itu,” kata Musso dalam buku yang sama.

Mereka kemudian makan siang bersama. Setelah itu Musso pamit meninggalkan Amir dan Abu. Saat itulah Abu menanyakan, mengapa dirinya dihadapkan dengan Musso. “Begini Abu,” ujar Amir memulai pembicaraan. 

Amir mengaku tak banyak mengetahui Musso. Dia ingin mendengar gagasan dan sikap pengikut Stalin tersebut ketika berhadapan dengan orang yang setara dengannya, tapi di luar PKI. “Saya pikir engkaulah orangnya,” ujar Amir yang pernah menjabat menteri pertahanan.

“Untuk tujuan saya sendiri, saya ceritakan padanya, bahwa engkau adalah otaknya Masyumi,” tambah Amir.

“Jadi, saya sedikit menipumu untuk memperoleh apa yang saya kehendak. Sekarang saya tahu lebih banyak tentang ide-ide Musso tanpa membahayakan diri sendiri. Banyak-banyak terimakasih Abu,” kata Amir. Abu marah. Dia berkali-kali menyebut Amir sebagai bajingan.

Setelah menipu temannya sendiri, Amir semakin intensif berkomunikasi dengan Musso, hingga akhirnya dia memutuskan bergabung dalam barisan Musso. Keduanya sama-sama menggerakkan pemberontakan di Madiun pada 1948. 

Mereka menggerakkan massa untuk memerdekakan diri menjadi Negara Republik Indonesia Soviet. Cakupan wilayahnya adalah Madiun, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Cepu-Blora, Purwodadi-Grobogan, Solo, dan Wonosobo.

Yang berseberangan akan dihabisi. Mereka membakar masjid, rumah warga, pesantren, dan madrasah. Dengan sengaja mereka membunuh kiai dan santri Pesantren Sabielil Muttaqien: Guru Hadi Addaba' dan Imam Faham. Jasad mereka dikubur di dalam lobang yang kini menjadi tugu. Di atasnya terdapat patung burung garuda. Letaknya di dekat Pabrik Gula Rejosari, Kawedanan, Magetan.

Di tembok monumen, di sana terpacak 26 nama. Mereka di antaranya bupati Magetan, para anggota kepolisian, patih Magetan, wedana, kepala pengadilan Magetan, kepala penerangan Magetan, lima orang kiai, dan para warga biasa lainnya. Selain itu masih ada lima sumur lainnya yang juga dipakai sebagai ajang pembantaian. Bila dijumlahkan, seluruh korban pembantaian tercatat ada 114 orang. 

 

 
Gerakan komunis di Indonesia merupakan kelatahan dan kerja nirkreatif sekelompok orang yang mengakibatkan bangsa ini terpecah belah.
 
 

 

 

Juga banyak  korban lainnya yang dikubur hidup-hidup, seperti di Desa Kresek Madiun Jawa Timur. Terdapat 17 orang dikebumikan di sana dengan tidak layak. 

Pemerintah mengabadikan kekejaman PKI dengan membangun Monumen Kresek sehingga menjadi tempat wisata masyarakat berbagai generasi. Mereka yang datang ke sana akan menyaksikan kuburan massal orang terdahulu, korban kebiadaban PKI. Dengan begitu, pengunjung akan mengambil ibrah untuk selalu mewaspadai komunisme. Jangan sampai ideologi tersebut bangkit kembali di negeri ini.

Pondok Modern Darussalam Gontor juga menjadi target gerombolan PKI Musso 1948. Mereka masuk ke lingkungan Pondok mencari kiai. Saat itu para santri dan Kiai Imam Zarkasyi (1910-1985) dan KH Ahmad Sahal  (1901-1977) sudah mengungsi ke arah selatan. Mereka akhirnya tertangkap dan hendak dibunuh bersama ulama dan tokoh politik lawan PKI ketika itu di Kota Ponorogo. 

Untungnya Pasukan Siliwangi datang dan menyelamatkan mereka semua. Keduanya merupakan putra Kiai Santoso Anom Besari yang silsilahnya sampai kepada KH Hasan Besari, pendiri Pesantren Tegalsari yang berkembang pesat pada abad ke-18 dan 19. Sejak itu, pemberontakan PKI yang diprakarsai Musso dan Amir gagal. Musso ditembak mati pasukan Siliwangi. Jasadnya dibakar di kota Ponorogo.

Amir sempat melarikan diri, hingga akhirnya tertangkap di Klambu, Purwodadi-Grobogan, Jawa Tengah, pada Senin malam, 29 November 1948. Lokasinya di sekitar lereng gunung. Hidupnya berakhir di depan regu tembak yang menghabisinya pada 19 Desember 1948. Jasadnya dikubur di TPU Ngaliyan Desa Lalung, Karanganyar.

Menipu lagi

photo
Petugas saat memotret patung pahlawan revolusi di Monumen Kesaktian Pancasila, Jakarta, Selasa (29/9). Tempat tersebut nantinya akan dijadikan lokasi upacara untuk peringatan Hari Kesaktian Pancasila sekaligus mengenang korban dalam peristiwa G30S/PKI khususnya tujuh pahlawan revolusi pada 1 Oktober mendatang - (Republika/Putra M. Akbar)

Tipuan Amir Sjarifuddin di atas bukanlah yang terakhir. Masih ada yang lebih sadis dan biadab lagi. Di antaranya adalah gerakan pasukan Tjakrabirawa yang dikomando Letkol Untung. Mereka datang ke rumah Letnan Jenderal Ahmad Yani (1922-1965). Kepada panglima angkatan darat tersebut, pasukan mengeklaim menjemputnya untuk dibawa menghadap presiden. 

Namun kenyataannya, petinggi Angkatan Darat tersebut ditembak. Jenazahnya diseret dan dibuang ke dalam Lobang Buaya Jakarta Timur bersama enam prajurit lainnya: Mayjen R Soeprapto (1920-1965), Mayjen MT Haryono (1924-1965), Mayjen S Parman (1918-1965), Brigjend Donald Isaac Panjaitan (1925-1965), Brigjen Sutoyo Siswomiharjo (1922-1965), Lettu Pierre Andreas Tendean (1939-1965). Mereka dikenal sebagai pahlawan revolusi.

Pada 18 Oktober tahun yang sama, anggota PKI di Banyuwangi menyamar sebagai pemuda Anshor Nahdlatul Ulama (NU) Desa Karangasem (sekarang Desa Yosomulyo), Kecamatan Gambiran, Banyuwangi Jawa Timur. Mereka mengundang para anggota Anshor di Desa Muncar mengikuti pengajian. Tanpa curiga, para pemuda datang ke sana. Mereka disambut para wanita Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang menyamar sebagai Fatayat NU.

Di sana mereka disuguhi makanan. Sebanyak 62 orang pemuda Anshor menyantapnya. Tanpa mereka sadari, hidangan itu sudah dibubuhi racun. Mereka semuanya mati. Seperti kejadian Lobang Buaya, mayat anggota GP Anshor sebanyak itu dibuang ke dalam lubang di Dusun Cemethuk Desa Cluring. 

Kisah ini tertulis dalam buku The Indonesian Killings of 1965-1966: Studies from Java and Bali oleh RB Cribb, buku Unmarked Graves: Death and Survival in the Anti-Communist Violence in East Java Indonesia oleh Vanessa Hearmann, dan Buried Histories: The Anticommunist Massacres of 1965-1966 in Indonesia oleh John Roosa. Kisah ini juga dicatat dalam berbagai dokumen sejarah dan media massa cetak.  

Sejarah kelam ini harus menjadi catatan generasi milenial. Tragedi berdarah cukup terjadi pada masa lalu. Ideologi komunisme jangan sampai menjadi gerakan, partai, dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Paham tersebut sudah terbukti menelan nyawa orang-orang tak berdosa. “Bahkan ada catatan jumlah kebiadaban komunisme di seluruh dunia mencapai sekitar 100 juta orang,” kata anggota Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi dalam dialog virtual bersama puluhan pengasuh pondok pesantren di berbagai wilayah Indonesia pada Selasa (29/9).

photo
Sejumlah massa yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Anti Komunis (Gertak) berunjuk rasa di Taman Apsari, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (30/9). Aksi itu mengangkat tema Menolak Lupa Pengkhianatan G30S/PKI dan menyerukan tentang bahaya laten Komunisme - (ANTARA FOTO)

Gerakan komunis di Indonesia merupakan kelatahan dan kerja nirkreatif sekelompok orang yang mengakibatkan bangsa ini terpecah belah. Mereka gagal memilah-milah konsep dan kebudayaan yang layak diambil dari peradaban lain untuk kemudian diterapkan masyarakat Indonesia.

Mereka mengadopsi Revolusi Bolsheviks di Russia (1917) yang meruntuhkan Dinasti Romanov dan menembaki Tsar Nicholas II (1868-1917) beserta istri dan anak-anaknya hingga mati. Jasad mereka dibuang dan dikubur secara tidak layak. Pemerintah Russia baru menguburkan mereka secara layak pada 1998 di Peter and Paul Cathedral, Saint Petersburg. Pemakaman dihadiri Presiden Russia ketika itu Boris Yeltsin dan jajarannya beserta diaspora Keluarga Romanov.

Romanov ketika itu hidup bergelimang harta. Nilainya diperkirakan setara dengan Rp 4.000 trilun atau dua kali pendapatan APBN 2018. Jurang yang kaya dan miskin sangat menganga, sehingga masyarakat di sana bergejolak menghancurkan pemerintah yang berkuasa. 

Mereka juga membawa ajaran anti-Tuhan komunisme tanpa mengindahkan tradisi masyarakat Indonesia yang mengimani keagungan Allah.

Pembantaian seperti yang terjadi terhadap Keluarga Romanov, fitnah, tipu daya, juga dijadikan cara untuk meraih kekuasaan. PKI meyakini cara tersebut ampuh membuat lawan bertekuk lutut. Diam seribu bahasa. Menyetujui dan memuluskan langkah mereka. Tapi mereka salah. Ternyata, perilaku keji tadi justru mengakibatkan bangsa ini murka sehingga seluruh elemen bersatu menghabisi PKI hingga ke pelosok desa. PKI dan ideologi komunisme kemudian menjadi terlarang berdasarkan TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966.

Di era Orde Baru (1966-1998) PKI dan komunisme tak lagi berkembang. Pemerintah melakukan screening kepada siapa pun yang hendak menjadi aparatur Negara. Segala ruang yang berpotensi menjadi tempat tumbuhnya komunisme ditutup rapat-rapat.

Namun setelah rezim tadi tumbang, situasi menjadi berbalik. Mereka yang semula terpendam, mulai bermunculan, bahkan kini anak keturunan PKI masuk ke dalam tubuh pemerintahan. Narasi pro PKI mulai didengungkan. Symbol palu arit tampil di berbagai konten digital yang dibuat generasi muda negeri ini. 

Mereka berusaha untuk diposisikan sebagai korban. Bahkan berharap Negara meminta maaf dan memberikan kompensasi kepada mereka. “Ini berbahaya. Jangan sampai kita termakan narasi mereka. Para ulama, santri, dan umat Islam kala itu jelas menjadi korban kebiadaban PKI, bagaimana mungkin PKI menjadi korban. Hati-hati dengan narasi semacam ini,” kata Rektor Universitas Darussalam Gontor tersebut.

Ayahnya, KH Imam Zarkasyi dan pendiri Gontor lainnya KH Ahmad Sahal jelas menjadi korban kebiadaban PKI. Mereka hampir dibunuh dengan keji. Cukup mereka dan warga Indonesia masa lalu yang merasakan aksi tak manusiawi. Karena itu, kita harus membentengi diri dari kebangkitan komunisme di negeri ini. Cukup PKI. Dan biarkan dia mati.


×