Perundungan (ilustrasi) | Freepik
14 Sep 2020, 09:11 WIB

Jangan Ada Lagi Perundungan

Bila mengalami perundungan, tetap tenang dan tidak perlu mengabaikan.

Bertubuh besar sejak kecil, Mo Sidik tak ayal menjadi sasaran empuk perundungan banyak orang. Begitu intensnya perundungan yang diterima, dia mampu mencatat apa saja bentuk perundungan yang pernah dia dapatkan akibat memiliki tubuh yang besar. Akibat perundungan itu, dia pun mengaku mengalami depresi.

Kini, ceritanya berbeda. Pria yang dikenal sebagai komika itu justru bisa tersenyum lebar mengenang bertubi-tubi perundungan yang diterimanya. ''Itu malah jadi materi komedi saya saat tampil,'' ujarnya ringan.

Sejatinya, apakah perundungan itu? Psikolog klinis Astrid Wen menjelaskan, perundungan menurut bahasa psikologis, adalah kekerasan fisik atau verbal yang membuat kita merasa tidak aman.

"Misalnya karena kita kena pukul di sebuah sudut gang, terus kita menjadi tidak berani melewati gang itu. Keamanan kita sudah terancam. Atau kita melihat pelaku itu sudah waswas atau deg-degan," kata Astrid dalam satu ajang seminar virtual.

Terkait

Perundungan juga biasanya terjadi tak hanya sekali. Ketika terjadi kekerasan, lalu berhenti dan kembali baikan, namun terjadi lagi berulang atau secara terus menerus maka hal itu pun telah termasuk merupakan perundungan.

Selain itu, perundungan juga kerap terjadi dari pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah atau minoritas. "Bisa saja kepada yang lebih muda, lebih kecil, atau yang kaum minoritas, yang kelihatan beda sendiri, berkondisi kurang menguntungkan , dan secara grup memiliki posisi yang paling lemah," kata Astrid.

Sayangnya, kekerasan fisik atau kekerasan verbal ini bisa berkembang menjadi kekerasan emosional. Cirinya adalah ketika kita melihat pelaku, biasanya mulai merasakan emosi yang kuat. "Inti dari perundungan adalah menyakitkan, mengancam keamanan, terjadi secara terus menerus, dan ditujukan kepada pihak yang lebih lemah," ungkap Astrid.

Sementara perundungan secara siber pun termasuk pengembangan dari perundungan itu sendiri. Hal ini bahkan bisa menjadi lebih parah karena fisik perundung tidak terlihat. Artinya, seseorang, kata Astrid, akan lebih berani untuk merundung karena tak terlihat secara fisik atau bisa mengaku anonim dengan menggunakan akun-akun palsu.

"Semua strangers itu bisa menyerang kita. Makanya jangan menempatkan harga diri berdasarkan jumlah likes dan komen. Karena kita enggak pernah tahu apa yang sebenarnya yang benar-benar merundung kita, menyukai kita, memberi komen kepada kita," jelas Astrid.

Terkadang mengalami perundungan tak bisa terhindarkan. Namun, jika memang kita terpaksa mengalaminya dan tak bisa menghindar, ada beberapa langkah yang disarankan oleh Astrid yang bisa dilakukan. "Pertama kita tetap tenang dan sebisa mungkin kita abaikan," ungkap Astrid.

Astrid mengatakan, sebaiknya, jika kita memang berani, maka kita bisa meminta untuk menghentikannya. Caranya adalah dengan mengatakan dengan lantang bahwa kita meminta untuk berhenti melakukan perundungan.

Jika memang kita sudah meminta untuk berhenti dan gangguan semakin meresahkan, sebaiknya kita melapor kepada pihak otoritas. Jika perundungan terjadi di lingkungan sekolah, maka pelaporan bisa dilakukan kepada guru yang bisa dipercaya, peduli dengan murid, dan yang memahami bagaimana cara menanganinya.

Identitas pelapor juga sebaiknya disimpan rapat-rapat agar perundungan tak terjadi pula kepada pelapor. Pihak otoritas pun sebaiknya melakukan investigasi secara objektif dengan menelusuri bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. "Kontrol siswa atau pelakunya empat mata. Selidiki apa yang membuat dia melakukan perundungan. Jika memang diperlukan memanggil orang tua, orang tua pun bisa dipanggil," jelas Astrid.

Lalu, bagaimana jika kita adalah orang yang melihat orang lain mengalami perundungan? Astrid menyarankan, pertama, segera interupsi dengan netral. Jika kita lebih dekat dengan pelaku, maka pada saat pelaku melakukan perundungan, dekati dia dan alihkan perhatiannya. "Ajak dia kabur dari titik itu agar perundungan tak terjadi," terang Astrid.

Hal yang sama jika kita lebih dekat ke orang yang mengalami perundungan. Kita bisa mendekati dia dan mengajak korban keluar dari lingkaran tersebut dan mencari tempat yang lebih aman, seperti keramaian.

Selanjutnya, kita bisa menanyakan bagaimana kondisi penyintas perundungan itu. Kita bisa menanyakan bagaimana keadaannya, dan bantu dia untuk bisa menjadi lebih tenang.

Selain itu kita juga bisa mengajak dia dan temani dia untuk melaporkan perundungan yang telah dialaminya ke pihak otoritas. Kalau penyintas masih tak berani, maka kita perlu mengobservasi peristiwa demi peristiwa, mencatat kejadian dengan mengumpulkan barang bukti, dan laporkan secara anonim ke pihak otoritas.

Lalu, bagaimana jika kita yang melakukan perundungan? "Stop tindakannya, itu tidak keren," tegas Astrid.

Dia juga menyarankan untuk menceritakan kepada mentor mengenai apa yang telah diperbuat. Selain itu, berteman dengan orang lain dan mencari hal positif adalah hal yang sangat disarankan. "Kalau kita sulit berubah, datang ke psikolog. Nanti akan dibantu mengubah tingkah laku kekerasan ini," jelas dia.

 

photo
Perundungan (ilustrasi) - (Freepik)

 

Menerima Apa Adanya

Panggung stand up comedy boleh jadi merupakan 'penyelamat' bagi Mo Sidik. Kenyang menjadi sasaran perundungan, dia justru mampu membalikkan keadaan itu saat berada di panggung. ''Salah satu rule paling dasar stand up comedy itu menurut diri gue adalah menerima. Lo menerima diri lo apa adanya dulu," kata Mo Sidik dalam ajang perbincangan daring bersama Allianz Indonesia dan EDU Foundation.

Apa pun keadaan diri, sang komika menilai dia harus menerima apa adanya. Misalnya bertubuh besar, pendek, kurus kering, atau keriting, dan lain-lain. Ini termasuk pula menerima kondisi keluarga sendiri seperti tak memiliki orang tua atau keluarga yang tidak utuh.

"Apa pun situasi dan kondisinya, kita menerima dulu. Mungkin gue itu orang Bantar Gebang atau enggak bisa bahasa Inggris ya. Atau, gue itu cerewet ya. Malah ada yang ekstrem, ada salah satu komika yang tunanetra. Jadi enggak bisa apa-apa, harus diterima," kata Mo Sidik.

Dia melanjutkan, jika kita menerima apa adanya, setelah itu hidup pun akan lebih ringan. Malah, hal itu menjadi hal yang sangat membantu, ketika banyak orang melakukan perundungan terhadap kita. Aksi itu tak akan berpengaruh sama sekali. "Kalau sudah demikian, yang melakukan perundungan juga akan hilang ketertarikan untuk merundung. Mereka akan jadi malas," kata dia.

Memiliki banyak emosi juga tak jarang ditemukan pada orang yang melalukan perundungan. Mo Sidik mengatakan, hal itu bisa disalurkan kepada hal yang lebih positif, termasuk menjadi seorang komika. "Kalau masalah agresif, stand up comedy itu ditemukan berawal dari kemarahan. Orang melihat ketidakadilan dan lain-lain, hal itu pun bisa diungkapkan ke komedi, kemarahan itu malah bisa tersalurkan melalui materi yang baik," ujar Mo Sidik.

Kemarahan para komika itu justru membuat orang-orang terhibur. Banyak komika, kata dia, yang meluapkan emosinya melalui stand up comedy. ''Apa pun bentuk emosinya, jika dituangkan menjadi materi, maka akan menjadi sangat kuat dan asli. Karena bentuk emosi itu hanya dialami oleh yang mengalami emosi itu sendiri,'' ujar dia.

 

 
Apa pun bentuk emosinya, jika dituangkan menjadi materi, maka akan menjadi sangat kuat dan asli. Karena bentuk emosi itu hanya dialami oleh yang mengalami emosi itu sendiri.
Mo Sidik, komika
 

 

Dari Relasi Hingga Serial

Sering kali kita tidak menyadari bahwa kita sebenarnya telah mengalami perundungan. Oleh karenanya, kita perlu mengenali apa saja jenis-jenis perundungan, agar perundungan tak berdampak lebih parah terhadap psikis kita. Berikut pemaparan psikolog klinis Astrid Wen:  

1. Perundungan oleh korban

Inilah perundungan yang dilakukan oleh orang yang pernah dirundung. Orang yang pernah dirundung akan merasa tak enak dan nyaman ketika dirundung. Oleh karenanya, dia mencoba melakukan perundungan ke pihak yang lebih lemah dari dia.

Hal itu, kata Astrid, juga bisa terjadi karena orang yang pernah dirundung itu ingin merasakan memiliki kekuatan atau kekuasaan. Sebab, perundung yang biasanya orang yang lebih kuat atau yang memiliki otoritas lebih tinggi, akan merasa memiliki kekuatan bila dia sudah melakukan perundungan.  "Seseorang yang lebih kuat seharusnya dia lebih melindungi yang lemah. Tapi ini malah disalahgunakan, yang kuat menekan yang lemah," kata Astrid.

Orang yang dirundung biasanya tidak berani melawan yang merundung. Oleh karenanya, dia melakukan perundungan kepada orang yang lebih lemah lagi, sehingga pada akhirnya kekuatan kekerasan terus terjadi.

 

2. Perundungan akibat populer

Ketika seseorang menjadi populer, ada sebagian dari mereka malah menjadi lebih suka merundung orang yang lemah. Sebab, dengan merundung, dia menunjukkan kekuatan dan terlihat keren. Biasanya, setelah seseorang yang populer melakukan perundungnya, teman-teman pengikutnya pun jauh lebih bisa menerima perilaku kekerasan dia.

"Kita sering temui, orang yang terkenal melakukan kekerasan tapi tidak kena hukuman, malah justru ada pendukungnya karena dianggap tidak apa-apa. Tertutup oleh popularitasnya," jelas Astrid.

 

3. Perundungan relasi

Inilah aksi perundungan yang terjadi ketika seseorang merundung relasi orang lain. Biasanya, karena seseorang itu merasa lebih baik dari orang yang dirundung, maka orang itu akan membedakan dan tak ingin orang yang lebih lemah darinya bermain atau bergaul dengan dia. "Misalnya, seseorang berkata, 'Kamu enggak keren, kamu siapa sih, jangan main-main sama kita'," kata Astrid.

Orang yang merundung relasi, biasanya dia memperhitungkan siapa saja orang yang berhak masuk ke geng atau perkumpulan dia. Dia kerap menilai seseorang keren atau tidak atau layak atau tidak masuk ke sebuah lingkaran yang menurut dia lebih baik dari orang lain.

 

4. Perundungan serial

Biasanya terjadi kepada orang-orang lemah yang mau dijadikan sebagai orang-orang yang disuruh-suruh. "Hati-hati mungkin teman-teman pernah mengalami (kondisi) dijadikan teman tapi disuruh-suruh terus. Jadi jangan mau disuruh-suruh oleh orang lain," kata Astrid.

 

5. Perundungan berkelompok

Hal ini terjadi ketika sekelompok orang yang merasa lebih baik atau lebih hebat merundung orang-orang yang lebih lemah. Perundungan jenis ini dinilai lebih membahayakan. Sebab, proses terjadinya melibatkan banyak orang yang merasa lebih memiliki kekuatan. "Karena nge-gang itu, kalau misalnya perundungan terjadi ke hal yang lebih serius dan di luar prediksi, itu tidak mau ada yang bertanggung jawab," ungkap Astrid.

Biasanya, jika salah satu dari anggota geng tersebut emosi, maka emosi itu akan menular kepada anggota geng yang lain. Kekerasan pun dilakukan secara kelompok kepada seseorang yang amat lemah dan tidak bisa melawan.

Sayangnya, biasanya karena keasyikan merundung, pada akhirnya mereka tidak bisa mengontrol kekerasan. Sehingga, dampaknya pun bisa jadi menjadi sangat besar dan di luar dugaan para anggota perundung. "Ini memang sebaiknya ketika diberikan konsekuensi, tidak hanya jatuh kepada ketua gengnya saja, melainkan kepada semua anggotanya," jelas Astrid.

 

Buat Lapisan Pertemanan

Sebenarnya, kita semua bisa mencegah agar perundungan bisa tak terjadi. Berikut beberapa cara untuk mencegahnya.

1.Semua orang setara

Menurut psikolog klinis Astrid Wen inilah hal pertama yang perlu ditanamkan pada diri kita sama kerennya. ''Bahwa kita sebenarnya setara," ujar Astrid.

Semua orang, kata dia, memiliki keunikan dan kelebihannya masing-masing. Setiap orang pula, memiliki kekurangannya masing-masing.

Tidak baik jika kita terus menjelek-jelekan kelemahan orang lain tanpa melihat sisi kebaikan atau kelebihannya. Padahal sebenarnya ada sisi positif yang bisa didukung. "Jangan didorong-dorong untuk melihat sepertinya dia lebih rendah dari pada kita. Padahal kita tahu kedudukan kita semua adalah sama rata," jelas dia. Jadilah teman pendukung yang baik ke teman-teman kita," jelas dia.

 

2.Buat lapisan pertemanan

Dalam konteks menghormati semua orang, kita tak perlu membeda-bedakan teman. Namun, dalam konteks memiliki teman yang nyata, menurut Astrid, kita perlu membuat lapisan pertemanan. Dia mengibaratkan lapisan pertemanan itu adalah lapisan orang-orang yang bisa masuk di rumah kita.

Pada lapisan pertama adalah lapisan orang-orang yang berada di luar pagar rumah, yaitu orang-orang yang datang dan pergi di kehidupan kita. "Ibaratnya dia itu orang asing yang datang sesekali dalam hidup kita. Nah, itu adalah orang-orang yang tidak perlu kita masukkan ke dalam hati kita," jelas dia.

Lapisan kedua adalah lapisan orang-orang yang berada pada halaman rumah kita, yaitu orang-orang yang ada pada sebagian momentum hidup kita dan memiliki fase. Mereka adalah orang-orang yang ramah namun tidak berbagi keintiman.

Lapisan ketiga adalah lapisan orang-orang dekat yang ada pada lingkaran pertemanan kita. Biasanya diisi dengan orang-orang yang biasa berbagi kisah bersama, kegembiraan bersama, berempati, dan bersolidaritas. "Kalau salah satu dari kita mengalami kecelakaan, ramai-ramai kita kunjungi. Kalau ada yang punya masalah, ramai-ramai kita  mendengarkan dia," jelas Astrid.

Lapisan keempat adalah orang-orang yang berada di kamar kita. Biasanya diisi oleh sahabat-sahabat spesial yang tidak semuanya bisa masuk ke kamar kita. Biasanya orang-orang ini adalah orang-orang yang sangat spesial di hidup kita setelah kita berbagi kebahagiaan bersama beberapa waktu lamanya.

"Put the right person at the right place. Jangan letakkan orang yang mem-/bully/ kita dekat dengan hati kita. Letakkan dia di ruang tamu, jangan di kamar. Letakkan orang-orang yang menghargai kita, yang menumbuhkan kita jadi orang yang lebih baik, di kamar," jelas dia.

 

3. Fokus pada tujuan dan kelebihan

Jika kita diejek, dipukul, atau direndahkan oleh seseorang, lebih baik cek terlebih dahulu kepada faktanya.  Menurut Astrid, bisa jadi, itu adalah sebuah kritik kepada diri kita sendiri yang dapat membangun kita. Namun, jika tak berdasarkan fakta, lebih baik jangan masukkan ke dalam hati. "Jangan berikan bibit negatif tumbuh di dalam diri kita. Tolak saja," ungkap Astrid.

 

 

 


×