Asma Nadia | Daan Yahya | Republika
21 Oct 2020, 08:56 WIB

Ketika Takdir Mengalahkan Rencana

Rencana kita, betapa pun sudah dirancang perinci dan matang, kalah telak oleh suratan takdir.

OLEH ASMA NADIA

Peluncuran buku keluarga penulis --saya bersama suami dan dua anak kami-- di Islamic Book Fair, 26 Februari 2020, menjadi agenda kegiatan terakhir di Tanah Air, sebelum pandemi merebak.

Sehari setelah acara peluncuran itu, saya masih sempat melakukan perjalanan ke Doha. Saya memenuhi undangan komunitas masyarakat Indonesia di Qatar untuk nonton bareng (nobar) film Hayya di sana bersama sutradara dan salah satu aktornya.

Selain acara nobar yang dihadiri lebih dari 500 warga Indonesia di Qatar, ada agenda seminar, talk show, dan kajian keislaman. Jika mengingat rangkaian acara yang cukup padat selama di sana, rasa syukur berkali-kali berdetak.

Terkait

Apalagi, begitu selesai agenda terakhir, kami menerima kabar kasus pertama korona di Qatar. Esoknya, seluruh tempat di mana semua agenda pernah diselenggarakan, ditutup. Keramaian dalam bentuk apa pun tidak lagi diperkenankan.

Terbayang, jika seluruh acara mundur beberapa hari saja dari tanggal yang ditetapkan, sangat mungkin semua dibatalkan. Sungguh Allah Mahabaik. Tanggal 6 Maret, saya tiba kembali di Tanah Air.

Berada di barisan pendatang, melakoni tradisi tidak biasa sebab harus mengisi formulir, data, dan riwayat perjalanan, selain melalui pengecekan suhu. Dengan kesadaran sendiri, saya menjalani isolasi mandiri.

 
Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, ’’Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya maka ambillah.”
 
 

Anak-anak selama 14 hari berikutnya tinggal terpisah. Rindu harus kembali ditanggung sebab putra bungsu saya yang kuliah di Universitas Indonesia, baru mendapatkan info belajar dari rumah setelah 18 Maret.

Kali ini, putra saya berinisiatif menunda pertemuan dengan ayah bundanya, dengan alasan sampai 18 Maret itu dia masih kontak dengan orang ramai. Berjaga-jaga jika sebenarnya sudah terpapar, tapi tanpa gejala.

Beratnya menahan rindu, tapi semua demi kebaikan bersama. Ketika akhirnya satu keluarga bisa berkumpul kembali dalam satu rumah, sungguh saya merasa amat bersyukur. Benar, ada banyak rencana yang tak berjalan.

Beberapa perjalanan, termasuk undangan dari Uzbekistan untuk festival halal travel, meski panitia sudah mengirim tiket, ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan. Rencana menggelar nobar Hayya di Malaysia pun terpaksa menggantung.

Produksi film Surga yang Tak Dirindukan-3 (SYTD-3) yang sudah berjalan, demikian pula sinetron Istri Kedua yang sedang tayang, sempat berhenti proses syutingnya hingga situasi lebih kondusif.

Alhamdulillah, syuting SYTD-3 selesai, sementara Istri Kedua yang diadaptasi dari buku berjudul sama yang terbit di tengah pandemi, kembali mengudara. Rencana kita, betapa pun sudah dirancang perinci dan matang, kalah telak oleh suratan takdir Allah SWT.

Namun sebagai Muslim, kita harus percaya, ada hikmah terserak yang menunggu untuk ditemukan. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, ’’Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya maka ambillah.”

Namun, rehat di rumah khususnya sebelum PSBB dilonggarkan, semoga menambah kedekatan hubungan keluarga. Dulu, kita tidak mengira rapat yang harus menempuh jarak tempuh satu-dua jam, dengan mudah dilakukan secara daring.

Kepanikan ketika informasi masih simpang-siur hingga sebagian menimbun masker atau bahan makanan pokok, terbukti tindakan yang salah dan alhamdulillah bisa kita lalui bersama dengan lebih baik.

 
Di antara rasa yang naik turun, mestilah rasa syukur menguat sebab kondisi walaupun bukan tanpa tantangan, setidaknya sebagian besar kita masih berada dalam naungan atap.
 
 

Kemustahilan menahan langkah rakyat agar lebih banyak di rumah saja, khususnya setelah daerah-daerah kembali zona merah sejak PSBB dilonggarkan, cukup bersambut baik. Walau begitu, masih harus terus dikampanyekan.

Hampir enam bulan sejak langkah saya terpasung di rumah. Namun, cuma langkah sebab hati dan pikiran kita tentu bisa terus berderap, dibiarkan bebas, tak perlu terkunci bersama kita yang belajar dan bekerja dari rumah.

Tentu saja, kita ikut merasakan kesedihan mereka yang kehilangan pekerjaan, menanggung kesedihan dari berita duka yang tersiar. Istri kehilangan suami. Anak kehilangan orang tua. Ayah bunda kehilangan ananda. Lalu tenaga medis yang berguguran. Innalillahi.

Di antara rasa yang naik turun, mestilah rasa syukur menguat, sebab kondisi walaupun bukan tanpa tantangan, setidaknya sebagian besar kita masih berada dalam naungan atap. Masih memiliki pangan untuk dimakan, masih mampu memandang lengkap anggota keluarga yang membersamai.  

Hampir enam bulan sejak kasus pertama pasien positif korona diberitakan secara resmi di Tanah Air, belum waktunya lengah. Walau sebagian beranggapan korona ini cuma dilebih-lebihkan, tidak seharusnya ditakuti, tidak seharusnya aktivitas sehari-hari berubah.

Total kasus 187.537, pasien sembuh 134.181. Pasien meninggal 7.832. Data sampai dengan 4 September 2020, bukan sekadar angka, melainkan kesedihan yang menguapkan separuh nyawa bagi keluarga yang harus menanggungnya.


,
×