Petugas PPSU Kelurahan Bukit Duri, Jakarta menyelesaikan pembuatan mural tentang Covid-19, Jakarta, Senin (10/8). | Prayogi/Republika

Opini

25 Aug 2020, 05:10 WIB

Selamatkan Tenaga Kesehatan

Para tenaga kesehatan itu mahal harganya, tidak dapat dikonversi dengan nilai uang dan ekonomi.

HAEDAR NASHIR, Ketua Umum PP Muhammadiyah

Satu per satu, dokter dan tenaga kesehatan (nakes) Indonesia berguguran menghadapi pandemi Covid-19 di medan tugas.

Pejuang dengan ketulusan iman dan profesinya yang berbakti untuk kemanusiaan itu, syahid dan semoga diterima di sisi Allah SWT.

Demikian pula, dengan saudara-saudara kita yang meninggal terkait virus berbahaya ini, yang jumlahnya terus bertambah. Kita semakin prihatin, betapa musibah korona ini masih mengancam jiwa manusia di mana pun berada.

Bila para tenaga kesehatan ataupun warga negara satu per satu berguguran secara ajek, tentu harus menjadi peringatan keras bagi Indonesia ketika negeri ini mungkin mulai lelah menghadapi wabah korona.

 
Siapa yang akan menangani pasien korona ataupun mereka yang berada di rumah sakit? Jumlah dokter spesialis pun makin berkurang, padahal sangat diperlukan. 
 
 

Khusus bagi tenaga kesehatan, semua pihak lebih-lebih negara, berkewajiban melindungi mereka dengan saksama. Merekalah yang berada di garda depan sekaligus benteng terakhir hadapi Covid-19 yang berbahaya dan mematikan itu.

Bila warga positif bertambah, merekalah yang menangani dengan risiko tertular dan banyak yang meninggal. Bila jumlah korban positif dan meninggal dari tenaga kesehatan terus meningkat, makin berat menghadapi pandemi yang luar biasa daya tularnya itu.

Siapa yang akan menangani pasien korona ataupun mereka yang berada di rumah sakit? Jumlah dokter spesialis pun makin berkurang, padahal sangat diperlukan. Dalam keadaan normal saja, rasio jumlah tenaga kesehatan dibandingkan penduduk masih jauh dari harapan.

Usaha pemulihan ekonomi pun, dapat terinterupsi lagi kalau Indonesia gagal mengatasi korona di ujung jalan karena kita kurang sabar dan saksama. Para tenaga kesehatan itu mahal harganya, tidak dapat dikonversi dengan nilai uang dan ekonomi.

Bila negara dan sesama warga bangsa tidak peduli, siapa lagi yang akan melindungi dan menyelamatkan mereka? Di tingkat dunia, menurut info media, tenaga kesehatan yang meninggal terkait Covid-19 sampai pertengahan Juli 2020 lebih dari 3.000 orang.

Di Indonesia, sampai awal Agustus dari 5.388 orang meninggal, terdapat 74 dokter. Berbagai media juga menunjukkan data, Indonesia termasuk negara dengan tingkat kematian tenaga kesehatan tertinggi di ASEAN ataupun dunia.

Menurut telaahan MCCC Muhammadiyah, saat ini kian banyak tenaga kesehatan terkonfirmasi positif di RS negeri dan swasta. Satu per satu positif dan meninggal. Tenaga kesehatan itu staminanya terkuras.

 
Para tenaga kesehatan itu mahal harganya, tidak dapat dikonversi dengan nilai uang dan ekonomi.
 
 

Mereka harus mengalah tidak mendapat swab-test, fasilitas pelindung diri terbatas, tunjangan seret, harus melayani calon pasien umum yang ternyata positif, dan tentu saja mereka bekerja dalam area paling rawan terjangkiti.

Mereka bahkan terkena stigma buruk oleh sebagian warga, dijauhi karena berpeluang jadi media penularan, dan teganya dituding memanfaatkan situasi. Mereka memerlukan perlindungan ekstra meski tidak pernah menuntut.

Perlindungan negara

Negara wajib makin hadir mengatasi pandemi ini secara extra ordinary, kata Presiden, serta tidak boleh biasa-biasa saja. Bagaimana implementasi kebijakan tersebut, termasuk melindungi dokter, perawat, dan tenaga medis yang berjibaku tak kenal waktu?

Tentu harus ada perlindungan ekstra. Sungguh tak bertanggung jawab dan melawan asas perikemanusiaan bila ada pihak, yang mencoba bermain siasat angka dan cara menangani Covid-19 secara tidak semestinya demi meraih status hijau, aman korona.

Padahal, dari berbagai laporan objektif, Covid-19 masih  mengancam. Hindari juga sikap berlebihan mengenai adaptasi baru dan vaksin Merah Putih yang dapat membuat semua lengah, apalagi menjadi proyek pihak yang hanya berpikir keuntungan.

Penyelamatan ekonomi tentu penting, tetapi harus betul-betul yang menyentuh hajat hidup rakyat. Lebih dari itu, jangan sampai kebijakan apa pun mengorbankan jiwa manusia yang wajib dilindungi negara.

 
Wabah ini tak kenal status orang, agama, golongan, suku bangsa, dan jenis kelembagaan.
 
 

Dalam dunia pendidikan, misalnya, semestinya keselamatan jiwa anak diutamakan. Bila mengancam jiwa, lebih baik siswa bolos setahun ketimbang dipaksakan sekolah atau pesantren luring yang rawan  penularan.

Bukan malah menempuh jalan pintas membuka sekolah dan pesantren. Khusus pesantren, siapa yang menjamin lembaga pendidikan yang satu ini aman? Wabah ini tak kenal status orang, agama, golongan, suku bangsa, dan jenis kelembagaan.

Disiplin dan empati

Apa yang harus dilakukan warga bangsa? Tegakkan disiplin dan tetap waspada korona. Jangan abai dan merasa aman menikmati kebiasaan baru. Warga masyarakat mesti peduli dan ikut melindungi para tenaga kesehatan milik bangsa.

Bila mereka terus berguguran, warga pula yang merugi dan menderita. Tahanlah godaan berkegiatan sosial, berekreasi, dan beraktivitas komunal yang masih bisa ditunda demi penyelamatan jiwa, sekaligus menjaga diri dan keluarga dari ancaman wabah.

Kebiasaan baru bukan berarti mengumbar hasrat dan aktivitas publik yang sebenarnya tak terlalu perlu. Ironis sekali, di tengah bahaya Covid, ada pihak di daerah yang masih berani mengadakan konser musik luring. Pun berkerumun padat di ruang publik.

Berempatilah kepada tenaga kesehatan dan saudara sebangsa, yang menjadi korban virus korona.  


×