Penampakan N250 Gatotkaca sebelum dibongkar di Lapangan Udara Husein Sastranegara, Kamis (13/8). | Dok PTDI
21 Aug 2020, 05:31 WIB

Akhir Perjalanan Gatotkaca N250

Gatotkaca N250 mulai dirancang bangun pada 1987 yang melibatkan 4.000 sarjana teknik.

Tak seperti malam-malam biasanya, Masjid Habiburrahman di Cicendo, Kota Bandung, dipenuhi ribuan jamaah pada malam hari 9 Agustus 1995 silam. Sebanyak 7.000 orang hadir di masjid di kompleks PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) tersebut.

Jamaah yang hadir, seperti sedang mengikuti shalat Id. Mereka mengenakan pakaian terbaik, batik atau jas. Ada di antara mereka, bahkan, yang mengajak anak-anaknya.

Mantan pemred Republika, Nasihin Masha, yang meliput kala itu merekam kesyahduan doa yang dipanjatkan para jamaah kala itu. Mereka meminta Yang Maha Kuasa melancarkan tonggak sejarah yang bakal diukir keesokan harinya. Pesawat terbang perdana buatan putra-putri Indonesia, purwarupa pertama N250 dengan nama sandi Gatotkaca dijadwalkan tinggal landas dalam uji terbang perdana.

Direktur Utama IPTN, BJ Habibie, dalam sambutannya pada jamaah kala itu menuturkan bahwa ia baru saja menyampaikan kepada Presiden Soeharto bahwa pesawat sudah siap diterbangkan. Jamaah bertepuk tangan penuh sukacita. ''Besok akan dibuktikan bahwa kita sama dengan bangsa lain,'' tutur Habibie dengan mantap.

Terkait

Yang didoakan malam itu kiranya terkabul. Keesokan harinya, tepat pukul 10.00 WIB, Gatotkaca bergerak dari ujung barat landasan pacu Lapangan Udara Hussein Sastranegara, Bandung. Dalam hitungan detik, pesawat mengangkasa.

Gemuruh tepuk tangan tak sedikit yang malah jadi isak tangis kebahagiaan. Sejam kurang lima menit pesawat mengangkasa dan akhirnya mendarat tanpa kendala apa pun.

Presiden Soeharto yang memimpin langsung terbang perdana itu dari Menara Kendali mencium pipi Habibie tiga kali. Begitu juga Ibu Tien Soeharto, yang kemudian disusul oleh Wakil Presiden Try Soetrisno. ''I am proud of you,'' bisik Mensesneg Moerdiono kepada Habibie.

Melompat dua dekade lebih kemudian, pesawat yang sama, yang menimbulkan kebanggaan pada banyak hati warga Indonesia kala itu, tak lagi utuh. Menurut Manager Komunikasi Perusahaan dan Promosi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Adi Prastowo, pembongkaran pesawat dimulai bulan ini.

Diawali dengan membuka semua panel akses di bagian utama, baik itu mesin, baling-baling, ataupun struktur utama pesawat N250 seperti badan pesawat, sayap, dan penyeimbang vertikal.  

"Pelaksanaan pembongkaran mengedepankan safety, baik itu personel maupun peralatan yang digunakan. Ini dilakukan agar bagian-bagian struktur pesawat yang dibongkar tidak mengalami kerusakan hingga nanti dipasang kembali di Yogyakarta," ujar Adi dalam keterangan tertulis yang diterima Republika di Jakarta, Kamis (20/8).

Dalam video yang diunggah di akun sosmed TNI Angkatan Udara kemarin, badan pesawat sepanjang 26,3 meter itu tampak diangkut truk kontainer melintasi jalan tol. Ia tak lagi mengudara. Rencananya, ia akan menghuni Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla) Lanud Adisutjipto Yogyakarta. Pesawat itu dijadwalkan tiba di Yogyakarta pada Sabtu (22/8) ini.

Pihak PTDI menyatakan, penyerahan pesawat sebagai tindak lanjut dari Surat Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (SKEP) Nomor 284/VIII/2020 tanggal 14 Agustus. Adi mengatakan, Muspusdirla Yogyakarta rencananya akan melakukan proses penerimaan pada 25 Agustus 2020 yang akan dihadiri petinggi TNI dan PTDI. Menurut dia, penyerahan N250 Gatotkaca ke Muspusdirla sebagai bentuk menjaga aset negara karena mempunyai nilai historis yang tinggi.

“Kalau dari kita, dari TNI AU, sebetulnya sangat bangga dengan adanya pesawat itu karena itu buatan dalam negeri, buatan kita sendiri. Hanya kita agak sedih. Sedihnya kenapa? Karena, pesawat itu tidak jadi diproduksi karena kondisi saat itu tidak memungkinkan,” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma TNI Fajar Adriyanto kepada Republika, Kamis (20/8).

Fajar menjelaskan sejarah dari pesawat tersebut. Pesawat N250 memiliki arti, “N” sebagai Nusantara, angka dua sebagai simbol dua mesin turboprop, dan 50 adalah jumlah nominal penumpang yang dapat diangkut pesawat tersebut. Pesawat itu dapat menangkut 50-70 penumpang.

Pesawat buatan anak negeri ini mulai dirancang bangun pada 1987 dengan melibatkan 4.000 sarjana teknik. Hingga pada akhirnya, purwarupa N250 pertama yang diberi nama Gatotkaca melakukan uji terbang perdananya selama 56 menit tanpa hambatan pada 10 Agustus 1995.

 

 
Kalau dari kita, dari TNI AU, sebetulnya sangat bangga dengan adanya pesawat itu karena itu buatan dalam negeri, buatan kita sendiri. Hanya kita agak sedih. Sedihnya kenapa? Karena, pesawat itu tidak jadi diproduksi karena kondisi saat itu tidak memungkinkan.
 
 

 

Hari itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas). Selain Gatotkaca, sempat mengudara juga Krincingwesi, purwarupa kedua N250 dengan 68 penumpang pada Desember 1996. 

Bandung, Alabama, dan Stutgart pada mulanya akan dijadikan tempat sebagai produksi pesawat N250. Akan tetapi, rencana tersebut tidak pernah dilaksanakan hingga kini karena aliran dana dari pemerintah dihentikan sejak Januari 1998 karena krisis ekonomi. 

Kala itu, Letter of Intent (LoI) antara Pemerintah Indonesia dan Dana Moneter Internasional (IMF) ditandatangani dengan salah satu syaratnya penghentian proyek N250. “Dampak krisis ekonomi tahun 1998 tersebut berakibat pula pada program pesawat bermesin jet N2130, pembuatan satelit, dan pengembangan SDM,” kata Fajar. Dua purwarupa lainnya yang dirancang kala itu tak sempat dikerjakan.

N250 merupakan pesawat turboprop yang menggunakan teknologi mutakhir, yakni fly by wire system alias seluruh kendali melalui sistem komputerisasi. Baru ada tiga jenis pesawat seperti itu, termasuk N250, yang menggunakan sistem tersebut di dunia kala itu. 

Teknologi lainnya yang digunakan pesawat itu adalah full glass cockpit with engine instrument and crew alerting system (EICAS), engine control with full autorithy digital engine control (FADEC), dan electrical power system with variable speed constant frequency (VSCF) generator yang biasa dipakai dalam pesawat tempur.

“Dan, saat itu baru diterapkan pada B737-500, desain struktur yang efisien dan kokpit yang lebih luas serta terbang lebih cepat dibandingkan dengan saingannya ATR 72 dari Prancis, De Havilland-Q 400 dari Kanada, dan MA60 dari Cina,” kata Fajar Adriyanto. 

BJ Habibie, sang penggagas N250, telah mendahului karyanya berpulang pada 2019 lalu. Semangatnya meneruskan pengembangan pesawat nasional tak pernah padam meski proyek N250 dihentikan.

Pada 2013, ia sempat menggagas penerus N250, yakni R80. Proyek yang lagi-lagi tak dilanjutkan pemerintahan saat ini dan dikeluarkan dari Proyek Strategis Nasional (PSN). 

Yang nanti dipamerkan di museum di Yogyakarta jadi tanda keteguhannya mengamalkan keyakinan bahwa sudah menjadi tugas penerus bangsa terus mengembangkan teknologi untuk mencapai keunggulan bangsa.

"Saudara tahu bahwa dalam anatomi kebudayaan, teknologi itu adalah bagian terpadu dari budaya?" kata dia dalam wawancara dengan Republika sebelum penerbangan perdana N250.


×