President AS Donald Trump mengumumkan kesepatan damai pembentukan hubungan diplomatik Israel-UAE di Washington, Kamis (13/8) waktu setempat. | EPA-EFE/Doug Mills
15 Aug 2020, 05:00 WIB

UEA dan Israel Normalisasi Hubungan

Israel menyatakan aneksasi Tepi Barat akan berlanjut.

DUBAI -- Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) sepakat "sepenuhnya menormalisasi hubungan", Kamis (13/8).  Israel menegaskan normalisasi tidak akan menghentikan rencana aneksasi atau pencaplokan Tepi Barat. Palestina menyebut normalisasi yang ditengahi oleh Amerika Serikat (AS) ini sebagai "tusukan dari belakang yang berbahaya".

"Terobosan diplomatik bersejarah ini akan memajukan perdamaian di kawasan Timur Tengah dan merupakan bukti diplomasi dan visi kuat tiga pemimpin dan mendorong Uni Emirat Arab dan Israel untuk memetakan jalur baru yang akan membuka potensi besar di kawasan," kata Israel dan UEA dalam pernyataan bersama yang dilansir Aljazirah.

Di Twitter, Presiden AS Donald Trump mengatakan perjanjian Israel-Uni Emirat itu sebagai terobosan besar. Perjanjian ini diumumkan usai Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan putra mahkota Uni Emirat Arab Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan melakukan sambungan telepon. Trump berencana mengundang Netanyahu dan Al Nahyan ke Gedung Putih. 

"Semoga saya bisa menjamu mereka (Netanyahu dan Al Nahyan) di Gedung Putih segera untuk menandatangani perjanjian (normalisasi hubungan) secara resmi. Kami mungkin akan melakukannya dalam waktu mendatang, mungkin dalam tiga pekan," kata Trump, dikutip laman Aljazirah.

Terkait

photo
Penasihat senior Gedung Putih Jared Kushner (kedua dari kiri) menyampaikan pandangan di sela pengumuman kesepatan damai pembentukan hubungan diplomatik Israel-UAE di Washington, Kamis (13/8) waktu setempat. - ( EPA-EFE/Doug Mills)

Palestina telah mengecam kesepakatan tersebut dan memandangnya sebagai pengkhianatan. Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh juga telah membahas kesepakatan UEA-Israel dalam panggilan telepon pada Kamis malam. 

Dalam hal ini, Hamas  turut mengutuk kesepakatan normalisasi hubungan Israel dengan UEA. Menurut Hamas kesepakatan itu tidak memberi sumbangsih apa pun untuk melayani kepentingan Palestina. Sebaliknya, ia mengabaikan hak-hak rakyat Palestina. 

"Haniyeh menekankan dukungannya terhadap posisi kepemimpinan Palestina dan Presiden Abbas dalam menolak kesepakatan UEA-Israel yang disponsori Amerika Serikat (AS)," kata kantor berita Palestina dalam laporannya. 

Haniyeh mengatakan Hamas akan berada di belakang Abbas dalam memperjuangkan pembentukan negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Aneksasi jalan terus

Di bawah kesepakatan normalisasi hubungan dengan UEA, Israel setuju untuk menunda rencana aneksasi Tepi Barat. Namun, rencana aneksasi akan berjalan.

 "(Tapi kami) tidak akan menyerahkan hak kami atas tanah kami," kata Netanyahu. "Tidak ada perubahan rencana saya untuk memperluas kedaulatan, kedaulatan kami atas Judea dan Samaria, di bawah koordinasi penuh dengan AS," ujarnya mengacu pada Tepi Barat.

photo
Warga Palestina mengarak jenazah Dalia Samoudi (23 tahun) sebelum pemakaman di Jenin, Tepi Barat, pekan lalu. Kementerian Kesehatan Palestina melansir bahwa Dalia gugur tertembak senjata pasukan Israel yang melakukan penggerebekan di Tepi Barat. - (AP/Majdi Mohammed)

Sebaliknya, UEA menganggap normalisasi menghentikan rencana aneksasi Israel. "Kesepakatan telah dicapai untuk menghentikan lebih jauh aneksasi Israel terhadap wilayah Palestina," cicit Al Nahyan di Twitter yang dikutip Aljazirah.

PBB menyambut kesepakatan normalisasi ini karena menciptakan peluang untuk mempromosikan perdamaian di Timur Tengah. Namun, PBB kembali  menyoroti rencana aneksasi Tepi Barat oleh Israel.

"Aneksasi akan secara efektif menutup pintu untuk pembaruan negosiasi dan menghancurkan prospek Negara Palestina serta solusi dua negara," ujar Stephane Dujarric, juru bicara sekretaris jenderal PBB yang dikutip laman Anadolu Agency

Dia menyebut Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berharap hal itu akan menciptakan kesempatan bagi para pemimpin Israel dan Palestina untuk terlibat kembali dalam negosiasi yang bermakna. Dujarric mengungkapkan Guterres akan terus bekerja sama dengan semua pihak guna membuka kemungkinan lebih lanjut untuk dialog, perdamaian, dan stabilitas. 

Israel dan UEA akan bertemu dan menandatangani perjanjian dalam bidang investasi, pariwisata, penerbangan langsung, keamanan, telekomunikasi, dan isu-isu lainnya. UEA adalah negara Teluk Arab pertama dan negara Arab ketiga setelah Mesir dan Yordania yang mengumumkan akan mengaktifkan hubungan dengan Israel. 

Yordania mengatakan normalisasi antara Israel dan UEA dapat mendorong proses negosiasi perdamaian yang terhenti. Asalkan, kesepakatan itu mendorong Israel menerima Negara Palestina sesuai batas negara sebelum Perang 1967. 

"Jika Israel memperlakukannya sebagai insentif untuk mengakhiri pendudukan, maka akan menggerakan kawasan menuju perdamaian," kata Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi dalam pernyataannya.

Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengucapkan selamat Al Nahyan. "Langkah perdamaian bersejarah seperti itu akan memajukan upaya proses perdamaian dan membuka cakrawala untuk stabilitas di Timur Tengah," kata Sisi saat melakukan percakapan via telepon dengan Al Nahyan, dikutip laman Ahram Online, Jumat (14/8). 

Sumber : Reuters


×