Petugas melakukan pengasapan (fogging) di lingkungan Perumahan Grand Cinunuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (25/7). | ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI

Nasional

01 Aug 2020, 02:00 WIB

DBD Kembali Telan Korban Anak di Tasikmalaya

Sejak awal 2020 total ada 19 kasus kematian akibat DBD di Tasikmalaya

TASIKMALAYA – Kasus kematian anak-anak akibat demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tasikmalaya kembali bertambah. Seorang anak berusia 11 tahun asal Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, dilaporkan meninggal dunia setelah dirawat beberapa hari akibat DBD di RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya pada Kamis (30/7) malam.

Kakek korban, Ahdiat Supendi (57 tahun) menceritakan, Kamis (23/7) pekan lalu, cucunya mulai menderita gejala suhu tubuh tinggi. Anak yang masih duduk di kelas VI SD itu dibawa berobat ke dokter oleh orang tuanya. "Saya waktu itu sedang di Bogor, ditelepon anak saya kalau si ade (cucunya) sakit panas. Anak saya membawanya ke dokter. Namun, oleh dokter disuruh menunggu dua hari, katanya trombositnya belum kelihatan turun," kata dia, ditemui //Republika// di Instalasi Pemulasaraan Jenazah RSUD dr Soekardjo, Jumat (31/7) dini hari.

Setelah berobat ke dokter, panas tubuh cucunya tak juga turun. Ia langsung menyuruh anaknya untuk memeriksakan kondisi cucunya ke rumah sakit. Sampai di RSUD dr Soekardjo, cucunya langsung disuruh rawat inap. Namun kondisi cucunya tak juga membaik. Bahkan, setelah dua malam menjalani rawat inap, cucunya mengalami muntah darah. "Setelah dua malam dirawat muntah darah, lalu dipindah ke ruang PICU (pediatric intensive care unit). Kata dokter cucu saya menderita DBD. Di PICU dua hari, lalu meninggal," kata dia.

Ahdiat meminta pemerintah lebih massif menangani wabah DBD. Meski saat ini sedang masa pandemi Covid-19, menurut dia, bukan berarti potensi penyakit yang lain jadi terabaikan. "Kasihan anak banyak jadi korban. Sekarang juga anak sedang pada libur sekolah. Jadi semua di rumah," kata dia.

Petugas Instalasi Pemulasaraan Jenazah RSUD dr Soekardjo, Asep Rizki membenarkan korban meninggal itu akibat penyakit DBD. Menurut dia, berdasarkan laporan dari dokter, korban menderita DBD ketika dirawat. "Meninggalnya jam 11 malam," kata dia. Ia menambahkan, di RSUD dr Soekardjo masih terdapat beberapa pasien DBD yang menjalani perawatan.

photo
Petugas melakukan pengasapan (fogging) di lingkungan Perumahan Grand Cinunuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (25/7/). Pengasapan tersebut dilakukan sebagai salah satu usaha antisipasi penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Jawa Barat yang menjadi provinsi dengan kasus DBD terbanyak. - (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)

Berdasarkan pantauannya, di ruang PICU khusus anak, ada dua pasien DBD lagi yang masih dirawat. Pekan lalu, seorang balita berusia 2 tahun asal Kelurahan Cigeureung, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, juga meninggal dunia akibat DBD pada Kamis (23/7). Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Uus Supangat mengonfirmasi meninggalnya balita akibat DBD di wilayahnya. 

Ia menyebutkan, sejak awal 2020 total ada 19 kasus kematian akibat DBD. Berdasarkan catatan Republika, 13 kasus di antaranya adalah anak-anak. "Ini menjadi perhatian kita semua agar lebih fokus mengendalikan kasus DBD," kata dia.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, hingga Jumat pagi terdapat 952 kasus DBD dengan 20 kasus kematian. Sebanyak 14 kasus kematian di antaranya adalah anak-anak. Wilayah yang paling banyak menyumbang kssus meninggal adalah Kawalu dengan enam kasus dan Cipedes lima kasus. Hanya Kecamatan Tamansari dan Cibeureum yang masih tak ada kasus kematian akibat DBD.

Uus mengatakan, tingginya kasus kematian akibat DBD disebabkan pasien datang ke fasilitas kesehatan (faskes) ketika kondisi sudah parah. Pihaknya akan terus berupaya untuk peningkatan kapasitas SDM tenaga kesehatan, baik itu dokter maupun perawat, untuk penanggulangan kedaruratan DBD. Ia menambahkan, orang tua juga harus lebih waspada dalam mengenali gejala DBD.

"Karena sekarang gejala DBD berbeda. Kalau dulu ada bintik merah, pusing, dan sebagainya. Kalau sekarang terkadang hanya demam saja," kata dia. 


×